
Seorang pria tampan dengan perawakan tinggi mencapai 180 cm melangkah masuk memasuki gedung megah bak hotel bintang lima. Masuk melewati pintu utama, dua orang security serta para karyawan perusahaan menunduk hormat seraya menyapa pria tersebut. Kehadiran pria itu menjadi buah bibir bagi para pekerja V Pramono Group.
"Desas desus yang mengatakan bahwa Tuan Abraham akan bekerja lagi di perusahaan ternyata benar, ya? Kupikir itu hanya gosip belaka, eh tidak tahunya betulan terjadi."
"Iya, benar. Aku jadi penasaran bagaimana reaksi Tuan Xander saat melihat sepupunya kembali bekerja di sini. Dia pasti marah besar mengetahui pria yang pernah mencintai istrinya bekerja kembali di perusahaan yang sama dengannya."
Langkah kaki satu dari tiga wanita terhenti. Dia memicingkan mata tajam kepada dua rekan kerjanya. "Tunggu! Kamu mendapat berita ini dari mana? Jangan sembarangan bicara jika tidak ada bukti, nanti jatuhnya fitnah, loh!"
Wanita dalam balutan blouse warna peach dipadu dengan rok span di bawah lutut mencebik. "Fitnah apaan, sih! Aku berkata jujur tanpa ada satu hal yang kulebih-lebihkan."
Dia mengedarkan pandangan ke segala arah, memastikan tak ada satu orang pun mendengar percakapan mereka. Setelah dipastikan aman, wanita itu merangkul pundak dua rekan kerjanya.
"Informasi yang kudapatkan ini valid dan bukan isapan jempol belaka. Dulu, saat Tuan Abraham, Tuan Xander dan Nyonya Tania masih kuliah, mereka terjebak cinta segi tiga. Tuan Abraham mencintai Nyonya Tania, tetapi sayang wanita itu telah lebih dulu melabuhkan cintanya kepada Bos kita. Setelah Tuan Xander mengetahui isi hati saudara sepupunya itu, tak ada lagi keharmonisan di antara mereka."
"Hubungan persaudaraan yang dulu terjalin, perlahan semakin renggang. Itu semua karena Tuan Xander tak suka jika wanita yang dicintainya dicintai oleh lelaki lain walau lelaki tersebut adalah sepupunya sendiri, Bos kita tetap tidak menyukainya."
Tampak kedua wanita itu manggut-manggut tanda mengerti. Kini mereka tahu apa yang melatarbelakangi mengapa Xander begitu membenci Abraham, saudara sepupunya sendiri.
Sementara itu, Abraham baru saja tiba di ruangan Jonathan. Pria kelahiran lima puluh lima tahun menyambut hangat kedatangan keponakan tersayang. Perasaannya mengharu biru karena kini Abraham bergabung kembali dengan perusahaan yang telah dirintisnya sejak puluhan tahun lalu.
__ADS_1
"Abraham, paman senang sekali akhirnya kamu kembali ke perusahaan. Paman harap semoga kehadiranmu di sini dapat membawa kemajuan dan membuat perusahaan yang kubangun dengan susah payah semakin terkenal di tanah air dan kancah internasional."
Abraham mengulum senyum di bibir. Hatinya menghangat mendapat sambutan sedemikian rupa dari sang paman. Sikap Jonathan sejak dulu hingga sekarang tak pernah berubah sedikit pun walau dirinya dan Xander pernah berselisih, tetapi pria berdarah Amerika itu tetap memperlakukannya dengan baik seperti anak kandungnya sendiri.
"Terima kasih banyak, Paman, atas sambutannya. Kuharap kita bisa bekerjasama dengan baik." Abraham membungkukan sedikit badannya di hadapan Jonathan, kemudian kembali berkata, "Mohon bimbingannya, Paman."
Jonathan terkekeh pelan mendengarnya. "Baiklah, baiklah. Kita bahu membahu memajukan perusahaan ini agar semakin berjaya. Setuju?"
Perkataan Jonathan dijawab anggukan kepala Abraham. Siapa yang tak mau memajukan perusahaan terkenal seperti V Pramono Group, sebuah perusahaan besar yang mempunyai dua anak cabang perusahaan di dalam negeri dan satu di luar negeri. Oleh karena itu, Abraham bersedia membantu paman tersayang untuk memajukan perusahaan agar semakin terkenal di mata dunia.
***
Saat ini Abraham masih berada di ruangan Xander yang untuk sementar waktu diisi oleh Jonathan. Ia dan Jonathan duduk berseberangan di sofa empuk terbuat dari kulit dengan kualitas nomor satu di kelasnya. Dua buah cangkir berisi kopi hangat yang menguarkan aroma khas tersedia di atas meja. Jonathan mengajak keponakannya itu untuk menikmati secangkir kopi sebelum memulai aktivitas.
Pria paruh baya berambut keperakan meletakkan cangkir kopi tersebut di atas meja panjang. Menatap ke arah Abraham yang begitu khusyu menikmati kopi hangat buatan OB. "Abra, guna membantumu menyelesaikan tugas kantor, paman sudah mencarikan sekretaris baru untukmu. Laura, sekretarismu yang dulu sudah paman pekerjakan untuk membantu Xander jadi paman tak bisa menjadikannya sekretarismu lagi. Apa kamu keberatan jika paman mengganti Laura dengan sekretaris yang lain?"
Abraham meletakan cangkir kopi yang tersisa setengahnya ke atas meja. Ia tersenyum lebar di hadapan Jonathan. "Sama sekali tidak. Lagi pula Xander memang pantas mendapatkan sekretaris yang cekatan dan sigap seperti Laura. Melihat kinerja Xander, kurasa Laura memang cocok mendampingi kakak sepupuku itu, dia selalu bisa diandalkan dalam situasi apa pun."
"Ehm, kamu benar. Selama paman menggantikan Xander, kinerja Laura memang tak perlu diragukan lagi. Dia bekerja dengan baik dan tak jarang paman dibuat puas atas pekerjaan yang dilakukannya selama ini," timpal Jonathan. Sangat setuju dengan pendapat Abraham.
__ADS_1
"Namun, kamu tidak perlu merasa iri sebab paman telah menyiapkan sekretaris baru yang tak kalah cekatan dan sigap seperti Laura. Paman telah menyeleksi puluhan pelamar yang mau menjadi sekretarismu. Dari puluhan itu hanya ada satu yang menurutku cocok untuk bersanding denganmu."
"Jenjang pendidikan, prestasi serta pengalaman bekerjanya menjadi daya tarik tersendiri. Paman yakin wanita itu dapat bekerjasama dengan baik, membantumu mengerjakan urusan pekerjaan."
"Aku sih terserah Paman saja. Siapa pun yang menjadi sekretarsiku, kuharap dia dapat menyeimbangi cara kerjaku yang terkadang ... ya, Paman tahu sendirilah bagaimana diriku saat sedang sibuk bekerja."
"Ya, ya, ya. Paman mengerti maksudmu."
Lalu suara ketukan pintu terdengar membuat Ibrahim yang sedari tadi berdiri di samping Jonathan berjalan ke arah pintu. "Tunggu sebentar, aku sampaikan dulu kepada Tuan Jonathan." Lantas ia kembali ke posisinya semula. Membisikan sesuatu di telinga pemilik perusahaan sekaligus pendiri V Pramono Group.
"Minta dia masuk karena aku ingin memperkenalkannya kepada Abraham," balas Jonathan dengan suara berbisik.
Jonathan menurunkan sebelah kakinya yang disilangkan ke lantai. Ia melebarkan senyuman hingga memperlihatkan deretan gigi bersih dan tersusun rapi. "Nah, Abraham. Kebetulan sekali sekretarismu sudah datang jadi paman akan mengenalkannya kepadamu." Lalu dengan meninggikan nada suara, ia berteriak, "Ibrahim, suruh dia masuk sekarang."
Melangkah ke dalam ruangan. Ketukan sepatu heels menggema di segala penjuru ruangan. Senyuman manis terukir di bibirnya yang ranum. Dia semakin menarik kedua sudut bibirnya ke atas tatkala beradu pandangan dengan Jonathan.
Dalam hati amat sangat bersukur karena dirinyalah yang terpilih menjadi sekretaris dari keponakan Jonathan padahal saat itu banyak kandidat mempunyai kualifikasi tinggi untuk dijadi sekretaris. Namun, justru dirinya yang dipilih untuk mendampingi Abraham.
"Selamat pagi, Tuan Jonathan," sapa wanita itu lembut.
__ADS_1
Bumi rasanya berhenti berputar tatkala Abraham mendengar suara lembut itu nyaring terdengar di telinganya. 'Suara itu, kenapa mirip sekali dengannya.'
...***...