
Seorang wanita paruh baya tampak sedang kebingungan memperhatikan tumpukan ceker ayam mentah yang ada di atas meja dapur. Ibu jari dan jari telunjuk wanita itu menjepit ujung plastik putih dengan ekspresi jijik.
"Euh ... menjijikan. Kenapa pula si Papa memintaku mengolah ceker-ceker ini menjadi sup. Dia itu sebenarnya lupa atau pura-pura lupa sih, jika aku tidak pintar mengolah makanan. Sejak kecil hingga sekarang, semua pekerjaan rumah diserahkan pada pembantu. Eh, setelah hidup miskin dia justru memintaku mengolah makanan ini. Benar-benar menjengkelkan!" gerutu Miranda.
Sudah hampir sepuluh menit berada di dapur, setengah kilo ceker mentah yang Jonathan berikan pada Miranda belum juga diolah. Wanita yang dipersunting selama hampir tiga puluh satu tahun belum juga menjalankan perintah yang diberikan sang suami. Ia masih sibuk memikirkan cara bagaimana mengolah ceker itu menjadi makanan lezat yang siap disantap.
Pendar bahagia terpancar di iris coklat Miranda ketika melihat asisten rumah tangga satu-satunya baru selesai menjemur pakaian. "Limah, sini!" Tangan wanita itu melambai ke depan. Tak lupa ia berikan senyuman termanis yang dimiliki kepada Salimah.
Salimah cukup terkejut saat mendapat sambutan hangat dari sang majikan. Pasalnya selama bekerja menjadi kepala pelayan di kediaman Vincent Pramono, Miranda tidak pernah sekalipun bersikap manis apalagi tersenyum hangat kepadanya. Jadi tidak heran jika saat ini Salimah memandang cengo ke arah Miranda.
"Eeh, dia malah bengong. Sini, kamu!" Miranda kembali berseru dengan menaikan satu oktaf nada suaranya saat tak mendapati respon apa pun dari Salimah.
Seruan itu sukses membuat Salimah tersadar dari lamunannya. "I-iya, Nyonya. Ada apa?" Wanita itu berjalan dan menghampiri Miranda di dapur.
Sikap Miranda yang awalnya hangat dan menyunggingkan senyuman tiba-tiba berubah masam seperti sedia kala. "Kamu olah ceker ayam ini menjadi sup. Suamiku minta dibuatkan sup ayam, tapi dari tadi aku sama sekali belum mengolahnya. Kamu tahu sendiri, 'kan, kalau aku tidak bisa masak. Boro-boro masak sayur sop, masak telur ceplok aja gosong."
Salimah memandangi wajah Miranda dan satu kantong plastik di atas meja secara bergantian. Tuan Jonathan pasti sedang menguji Nyonya. Aah, sebaiknya aku tolak saja daripada kena sembur Big Boss, batin wanita itu.
Ya, Salimah tidak mau berurusan dengan Jonathan, pria jangkung dengan iris biru terang sewaktu-waktu dapat berubah menjadi sosok menyeramkan. Walaupun Jonathan jarang sekali berteriak atau mengomeli para pekerjanya, hanya melihat matanya yang indah itu semua orang bisa merasakan aura dingin menyentuh permukaan kulit. Tatapan mata tajam bagaikan busur panah yang melesak tepat mengenai jantung mampu membuat lawan mundur seketika.
Berdehem seraya memejamkan mata sejenak kemudian membuka kelopak matanya secara perlahan. "Maafkan saya, Nyonya. Bukan maksud ingin membantah perintah Anda, hanya saja saya tidak ingin kena tegur Tuan, karena kedapatan membantu Nyonya. Nyonya pasti tahu bagaimana Tuan Jonathan selama ini. Selama kami bekerja di kediaman beliau, tak ada satu orang pun berani berurusan dengan beliau. Saat masih muda aura beliau begitu menakutkan bagi saya, apalagi sekarang. Semakin bertambahnya usia, aura Tuan Jonathan semakin tegas dan saya takut hal buruk menimpa saya."
Detik itu juga bibir Miranda mengerucut ke depan. Ia mendengkus kesal mendengar penolakan Salimah. "Ck, begitu aja takut! Dasar cemen! Seharusnya kamu tidak perlu takut sama suami saya, toh Nyonya rumah ini adalah saya. Saya punya kekuasaan penuh atas rumah ini, mengerti?"
__ADS_1
Salimah sama sekali tidak terprovokasi. Ia justru tersenyum lebar mendengar ucapan Miranda. "Mengerti, Nyonya. Sejak dulu pun yang menjadi rumah di kediaman Vincent Pramono adalah Anda, bukan Nyonya Amanda ataupun yang lain. Namun, saya tetap tidak bisa melawan Tuan Jonathan, Nyonya. Sekali lagi, maaf."
Kepala Salimah menunduk sebagai bentuk ketidakbisaannya membantu Miranda mengolah ceker mentah itu menjadi sup lezat.
Miranda melemparkan plastik putih itu ke westafel dengan kencang sehingga terdengar bunyi pertemuan dua benda. "Dasar pembantu tidak berguna. Lalu tugasmu apa di rumah ini jika tidak bisa membantuku mengolah ceker ayam itu, hem? Leha-leha sambil nonton film, ketawa ketiwi bareng tetangga. Begitu?"
Wanita yang masih keturunan ningrat berkacak pinggang sembari menghunuskan tatapan tajam pada Salimah. "Ingat Salimah, kamu itu digaji untuk bekerja, bukan untuk bersenang-senang. Jadi bekerjalah dengan baik daripada aku laporkan kamu kepada suamiku karena malas-malasan," ancamnya bersungguh-sungguh. Tidak ada sedikit pun keraguan di iris matanya yang coklat.
Menarik napas dalam, menahannya sebentar kemudian mengembuskan secara perlahan. Berbicara dengan Miranda memang tak jarang emosi dalam diri memuncak.
"Terserah Nyonya saja, tapi keputusan saya sudah bulat." Salimah berbicara tenang walau dalam hati dongkol setengah mati. "Namun, saya bisa mengajari Nyonya memasak jika Anda memang ingin mengolah ceker mentah itu menjadi hidangan lezat yang siap disantap."
"Maksudmu, aku yang memasak makanan itu?" tanya Miranda dengan kedua bola mata melebar sempurna.
Sial! Rupanya Salimah teguh dengan pendiriannya. Kalau begini terus, Mas Jonathan pasti marah jika tahu ceker ayam kesukaannya belum juga diolah. Miranda bermonolog. Wanita itu tampak menimbang-nimbang tawaran yang diberikan kepadanya.
Argh! Sebaiknya aku terima aja deh tawaran Salimah, daripada diomelin Mas Jonathan lagi karena enggak becus masak. Dua hari ini telingaku panas mendengar ocehan pria itu. Hanya karena aku enggak bersih nyuci pakaiannya, dia malah nasihatin aku panjang lebar. Dikiranya aku ini anak remaja yang masih mau mendengar ocehannya itu.
"Baiklah, aku bersedia menerima tawaranmu. Kamu bantu aku membuatkan sup ceker kesukaan Mas Jonathan." Miranda pasrah dan terpaksa mengolah sendiri makanan itu tanpa meminta bantuan Salimah. Ia hanya membutuhkan instruksi asisten rumah tangganya itu.
Masih dalam posisi membelakangi tubuh Miranda, kedua sudut bibir Salimah tertarik ke atas membentuk sebuah lengkungan menyerupai busur panah. Rupanya rencanaku berhasil. Nyonya Miranda termakan oleh jebakanku.
Tanpa disadari keduanya, Jonathan mendengarkan percakapan mereka dari balik daun pintu kamarnya. Pria itu pun mengulum senyum karena kali ini misinya memberi pelajaran hidup pada Miranda berhasil.
__ADS_1
Seharusnya dari dulu aku mendidik Miranda agar wanita itu tahu bagaimana rasanya menjadi orang susah. Hidup sederhana, memenuhi kebutuhan sendiri tanpa bantuan orang lain. Jonathan merasakan dadanya sesak saat mengingat kembali kenyataan bahwa Mirandalah dalang dibalik kehancuran rumah tangga anak tercinta. Semoga saja aku belum terlambat untuk mendidik istriku.
***
Duduk berhadapan di depan meja makan. Dua cup mie instan berada di atas meja, kepulan asap putih menguarkan aroma lezat khas mie instan. Malam ini Tania sengaja menyeduhkan mie instan dengan merk terkenal sebagai menu makan malam bersama anak tercinta.
"Gimana, kamu senang enggak hari ini? Jalan-jalan dan bermain bersama tanpa takut diganggu Kakek Johan ataupun Tante Joana?" Tania sengaja basa basi dulu sebelum menyampaikan inti percakapan mereka.
Arsenio yang sudah terbiasa makan sendiri kembali menyendokan mie instan tersebut ke dalam mulut. "Seneng banget, Ma. Aku bahagia sekali karena bisa bermain bersama Mama. Terima kasih, Mama." Matanya yang hazel berbinar bahagia saat mengucapkan kalimat itu.
Tania tersentuh atas perkataan Arsenio. Namun, ia tersadar bahwa semua ini tidak terlepas dari campur tangan Xander yang telah mengantarkan dan membelikan tiket semua wahana sehingga mereka bisa leluasan menaiki wahana apa pun sampai merasa bosan.
Tania mengusap pipi sebelah kanan Arsenio dengan punggung jari telunjuk. "Tapi kamu juga harus ngucapin terima kasih loh sama Om Xander. Ingat, berkat bantuannya kita bisa sampai sini dengan selamat. Coba kamu bayangkan jika seandainya enggak ada Om Xander datang ke apartemen mungkin liburan kita terancam batal karena Om Edo enggak bisa anterin kita. Jadi, kamu bukan hanya bilang terima kasih sama Mama, tapi juga-"
"Mengucapkan terima kasih sama Om Jahat juga, 'kan?" sergah Arsenio cepat sebelum Tania menyelesaikan kalimatnya.
Jemari mungil itu meraih botol air mineral yang ada di hadapannya, kemudian menegak secara perlahan. "Mama tenang aja, besok aku akan bilang terima kasih sama Om Jahat."
Mendengar Arsenio kembali memanggil mantan suaminya dengan sebutan 'jahat', Tania meletakan garpu di atas cup mie instan. Kemudian meneguk air minum agar tidak tersedak saat berbicara serius dengan anak tercinta.
"Arsen, Mama tahu pasti kamu belum bisa memaafkan Om Xander karena udah membuat hidup kita menderita. Namun, semua itu bukanlah murni kesalahan Om Xander, ada orang yang ingin Mama berpisah dengan Papamu, Nak. Orang itu menggunakan trik licik hingga membuat Mama berpisah dari Papamu."
"Di sini Om Xander juga adalah korban sama seperti kita. Untuk itu Mama minta, bisa enggak kalau kamu jangan lagi memanggil Om Xander dengan sebutan Om Jahat? Mama merasa bersalah setiap kali kamu memanggilnya dengan sebutan itu. Sebenci apa pun kamu terhadap Om Xander, dia tetap Papamu, orang yang wajib kamu hormati. Kalau enggak ada Om Xander, mungkin kamu enggak terlahir ke dunia ini. Kamu enggak akan bertemu Mama, Ayra dan juga Alesha. Jadi, Mama mohon berhentilah memanggilnya dengan sebutan jahat karena bagaimanapun, dia adalah Papa kandungmu, Sayang."
__ADS_1
...***...