Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu

Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu
Siuman


__ADS_3

Setelah menunggu selama hampir satu jam lamanya, akhirnya Tania keluar dari ruang pemeriksaan. Ditemani seorang perawat wanita, ibunda Arsenio melangkah perlahan menuju tempatnya semula. Di depan sana sudah ada Xander, Jonathan dan putera tercinta sedang menunggunya.


Xander berdiri meninggalkan tempat duduknya kemudian memapah Tania untuk duduk di sebelah Jonathan. "Pelan-pelan saja, jangan tergesa-gesa," ucapnya lembut. Telapak tangan pria itu menyentuh permukaan kulit lembut nan harum berasal dari perempuan cantik di sebelahnya.


Arsenio meluruhkan tubuh lalu duduk dipangkuan sang mama. "Sini Arsen tiupin. Tangan Mama pasti sakit , 'kan, habis disuntik Tante Suster?" Si bocah kecil itu mempraktekan hal yang pernah Xander lakukan sesaat setelah petugas medis memasang jarum infus di punggung tangannya. Kala itu Arsenio tampak kesakitan, tapi ajaibnya setelah ditiup oleh sang papa, rasa sakit itu hilang dengan sendirinya. Oleh karena itu, dia ingin agar Tania tak merasakan kesakitan yang pernah dia rasakan beberapa waktu lalu.


Tania mengusap puncak kepala Arsenio dengan penuh cinta. "Anak pintar. Terima kasih ya, Sayang."


Saat ini Tania sedang duduk diapit antara Xander dan Jonathan. Kedua pria tampan beda generasi itu memperhatikan bagaimana perlakuan Arsenio terhadap sang mama.


'Merupakan suatu keberuntungan bagiku mempunyai anak seperti Arsenio,' batin Xander. Matanya berkaca-kaca karena terharu akan pemandangan di depannya.


'Lihatlah cucu kita, Ma. Apa kamu tidak mau melihat betapa menggemaskannya dia! Kumohon, bertahanlah agar kamu tahu bahwa ternyata kita sudah menjadi kakek dan nenek seperti yang kamu harapkan,'


"Tania, om ucapkan banyak terima kasih karena kamu bersedia menolong istri om. Om tidak tahu harus bagaimana untuk membalas kebaikanmu, Nak. Sungguh, kebaikanmu ini sangat berarti bagi om. Sekali lagi, terima kasih." Jonathan bahkan berdiri dan membungkukan punggungnya di hadapan Tania. Dia rela mengorbankan harga diri di depan mantan menantunya itu karena merasa amat sangat beruntung karena Tania mau menolong Miranda.


"Om, sudahlah. Tidak perlu melakukan itu, aku ikhlas kok melakukannya. Lagi pula, bukankah memang seharusnya sesama manusia harus saling tolong menolong? Kebetulan saat itu aku mempunyai golongan darah yang sama dengan Tante Miranda. Jadi kupikir kenapa tidak aku tolong saja daripada harus mencari pendonor lain," tutur Tania. Dia tersenyum tulus, seolah tiada beban di wajahnya.


Hati Xander bergejolak hebat mengetahui bahwa Tania-lah orang yang menolong sang mama. Kembali teringat betapa jahatnya dia saat membentak dan menghina wanita itu karena termakan hasutan Miranda. Tanpa sadar, dia meneteskan air mata yang membasahi wajahnya yang rupawan.

__ADS_1


"Maafkan aku, Tania. Aku benar-benar menyesal telah menyia-nyiakan wanita berhati malaikat sepertimu. Aku merasa bodoh karena telah membuang waktu selama enam tahun hanya untuk membencimu. Padahal, kamu adalah perempuan baik yang mempunyai hati seluas samudera." Xander tertunduk malu dengan kedua tangan berada di pangkuan. Dia benar-benar menyesal karena telah berbuat jahat kepada mantan istrinya itu.


Tania menggenggam jemari Xander di atas pangkuan pria itu. Dia usap dengan perlahan sambil berkata, "Tidak usah diungkit lagi, Xander. Semua yang terjadi, biarlah terjadi. Aku udah maafin kamu dan Tante Miranda, kok. Jadi tidak usah disesali lagi apa yang telah menimpa kita semua."


Xander menatap lekat iris coklat Tania. Dada berdebar lembut saat keduanya saling menatap satu sama lain. Ah, seandainya waktu bisa diputar kembali, dia rela hidup susah asalkan tetap bersama Tania dan Arsenio.


Percakapan mereka terhenti saat pintu ruang operasi terbuka dan disusul pria berpakaian hijau lengkap dengan penutup kepala dan masker yang menutupi hidung dan mulut keluar dari ruangan tersebut. Sontak semua orang berjalan menghampiri dokter itu.


"Dokter, bagaimana operasinya. Apa semua berjalan lancar?" tanya Jonathan dengan penuh kecemasan.


Dokter Agam melepaskan masker yang dia gunakan selama operasi berlangsung. Ketika masker itu dibuka, Tania, Xander dan Jonathan dapat melihat jelas seulas senyuman terlukis di sudut bibir pria paruh baya itu.


***


Miranda terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang pasien. Beberapa peralatan medis terpasang di tubuh pasien. Mulai dari jarum infus yang menancap di punggung tangan hingga selang oksigen yang membantu pernapasan pasien tersedia di ruang perawatan.


Beberapa anggota tubuh Miranda dibalut perban akibat luka yang ditimbulkan pasca kecelakaan beberapa waktu lalu. Jonathan berada di samping pembaringan sang istri sambil terus menggenggam tangan yang tak tertusuk jarum infus.


"Ma, aku tuh bahagia sekali akhirnya Tuhan memberikan kesempatan kedua kepada kita untuk berkumpul bersama. Aku janji, setelah kamu pulang dari rumah sakit, kita akan kembali ke rumah yang dulu. Akan kukembalikan semua yang pernah kamu miliki," ucap Jonathan. Dia mengecup punggung tangan yang terdapat sedikit luka goresan dengan perasaan membuncah. Matanya berkaca-kaca seakan tengah berusaha menahan tangis agar tidak membasahi pipi.

__ADS_1


Xander menepuk pundak Jonathan pelan. "Pa, sebaiknya Papa pulang aja ke rumah. Biar aku dan Tania menunggu Mama di sini. Sekalian kalau Papa enggak keberatan, tolong antarkan Arsen ke apartemen. Kasihan dia kalau menunggu di rumah sakit."


Jonathan mendongakan kepala. "Tapi gimana kalau Mamamu sadar dan tak melihat papa di sini? Papa enggak mau kalau Mamamu berpikiran kalau papa ninggalin dia dalam keadaan seperti ini."


Sambil tersenyum, Xander berkata, "Nanti aku bilang sama Mama, kalau Papa pulang dulu sebentar untuk ngambil beberapa pakaian ganti. Mau, ya, pulang ke rumah?" bujuk pria itu. "Aku udah minta asistenku untuk mengantarkan Papa dan Arsenio pulang."


Menghela napas panjang dan berat. Sejujurnya, Jonathan merasa lelah sekali seharian berada di rumah sakit. Dia butuh waktu istirahat. Akan tetapi, melihat kondisi Miranda yang belum sadarkan diri membuat dia mau tak mau terus berada di samping istri tercinta.


"Ya udah, kalau gitu papa pulang dulu. Kalau Mamamu udah sadar, jangan lupa kabarin papa."


Xander mengantarkan sang papa dan putera tercinta sampai di depan mobil. Sementara Tania menunggu di ruangan menemani Miranda.


"Get well soon, Tante," bisik Tania di telinga Miranda. Lalu dia mengamati tetesan air infus dan memastikan bahwa selang infus tersebut tidak macet.


Merasakan punggung tangannya disentuh seseorang, kelopak mata Miranda bergerak perlahan disertai lengkuhan lemah. Secara perlahan membuka kelopak mata kemudian memindai lingkungan sekitar dan mencoba mengingat kembali apa yang telah terjadi kepadanya.


"Tania, kita di mana sekarang? Kenapa ruangan ini didominasi warna putih dan hijau? Lalu, kenapa kaki tante sakit sekali untuk digerakan?" cecar Miranda.


...***...

__ADS_1


__ADS_2