
Dengan rahang mengeras, Tania mengeram. "Pria itu, bisa-bisanya mengatakan Arsenio, anak haram!Benar-benar keterlaluan!" Setetes air mata lolos dari sudut matanya. Dia sangat kecewa pada Xander. Tidak percaya sama sekali jika lelaki itu melontarkan sebutan sekeji itu kepada Arsenio, buah hatinya.
Jika orang lain yang mengatakan kalimat itu sudah pasti Tania tidak terlalu menghiraukannya, tapi ini Alexander Vincent Pramono, sosok lelaki yang darahnya mengalir di tubuh Arsenio, anak semata wayangnya.
"Seharusnya tadi aku menampar wajahnya yang sok tampan itu dengan telapak tanganku ini agar dia sadar bahwa ucapannya telah melukai hatiku," sambung Tania dengan suara serak, diiringi air mata yang deras mengalir di pipinya.
Tangisan itu semakin pecah saat kelopak mata melihat bingkai foto yang ada di atas nakas. Sebuah foto yang memperlihatkan seorang wanita muda tengah mengendong bayi lelaki. Bayi mungil itu begitu tampan. Kulitnya putih bersih bagikan susu, hidung mancung, bibir mungil serta sepasang bola mata hazel seperti papanya.
"Xander, andai saja kamu tahu bahwa Arsen adalah anakmu, apa kamu akan tetap mengatakan kalimat sekeji itu kepada puteramu sendiri? Kamu adalah satu-satunya lelaki kejam yang pernah kutemui. Aku ... membencimu Alexander. Sangat membencimu!"
Sementara itu, Arsenio sedang berdiri di depan pintu kamar Tania. Ia hendak pergi ke dapur, meminta mbak Surti mengambilkan es krim di lemari pendingin, tapi langkah kaki itu terhenti saat tanpa sengaja menguping perkataan sang mama dari pintu kamar yang tidak tertutup rapat.
Kedua tangan mungil bocah itu mengepal sempurna di samping badan, gigi gemelutuk menahan amarah yang memuncak. "Om Xander, kamu telah membuat Mamaku menangis. Tunggu pembalasanku, akan kubuat kamu menyesal karena melukai Mama."
Lantas, bocah itu memutar tubuhnya kembali ke kamar. Ia tidak jadi pergi ke dapur, mengurungkan niatnya meminta es krim vanila kesukaannya kepada mbak Surti.
Sinar matahari yang sedari tadi menyinari bumi kini telah kembali ke peraduannya. Gemerlap bintang dan cahaya rembulan datang menyapa, menemani keheningan malam.
"Loh, Mbak Surti, kenapa kamu tampaknya kesal sekali. Ada apa, hem?" tanya Tania setelah melihat pengasuh sang anak masuk ke dalam apartemen dengan membawa dua bungus plastik isi makanan.
Menaruh dua plastik isi ayam geprek ke atas meja makan dengan sedikit kasar hingga terdengar benda dibanting. "Saya kesal sekali, Bu Tania sama tetangga sebelah! Masa dia ngatain Den Arsen yang enggak-enggak. Untung saja tadi Den Arsen enggak jadi ikut, coba kalau ikut sudah bisa dipastikan dia kepikiran terus dengan kata-kata yang diucapkan oleh tetangga sebelah."
__ADS_1
Tania menghela napas begitu berat. Surti adalah gadis pendiam dan tak banyak bicara, tetapi emosinya akan meledak apabila ada seseorang yang menyinggung perasaannya. Oleh karena itu, saat melihat kemarahan terpendam Surti, membuat ibu kandung Arsenio mengerti jika tetangga sebelah mengatakan suatu hal yang menyinggung perasaan sang pengasuh.
"Memangnya apa yang dikatakan oleh tetangga sebelah hingga membuatmu begitu marah?" tanya Tania penuh selidik. Ia keluarkan dua kardus asyam geprek level 3 dan satu kardus ayam biasa, kemudian menatanya dengan rapi di atas meja makan.
Mbak Surti mengedarkan pandangan ke sekeliling, mencari keberadaan bocah kecil yang selama hampir satu bulan ini diasuh olehnya. "Tetangga sebelah mengatakan jika Den Arsen adalah anak haram, terlahir tanpa mempunyai seorang Papa," tutur gadis itu setelah memastikan Arsenio tidak ada di ruangan itu.
Sontak, perkataan mbak Surti menghentikan gerakan Tania yang hendak menuangkan air minum ke dalam gelas. "Tetangga sebelah ngomong gitu?" tanya wanita itu memastikan kembali apa yang didengarnya tidaklah salah.
Mbak Surti mendengkus kesal. Bukan kesal akibat pertanyaan Tania melainkan kesal jika ingat kejadian beberapa waktu lalu. "Seriusan, Bu! Mana mungkin saya bohong, enggak ada gunanya berbohong malah nambah dosa."
"Keterlaluan sekali! Bisa-bisanya dia mengatakan hal sekeji itu terhadap anakku!" kata Tania sembari mengeratkan genggamannya pada gelas bening yang ada di tangan.
Habis sudah kesabaran Tania. Entah kenapa seharian ini sudah ada dua orang yang mengatakan hal tak pantas tentang Arsenio, anaknya. Tanpa tahu penyebab kenapa dia melahirkan Arsenio seorang diri tanpa memberitahu si penebar benih, mereka dengan mudahnya menghina anak kesayangannya.
"Mbak Surti, beritahu aku unit apartemen tetangga rese itu biar aku labrak sekarang! Enak aja menghina anakku. Dia pikir aku akan diam saja saat ada seseorang mengusik hidupku," sungut Tania berapi-api. Wajah wanita itu merah padam disertai deru napas memburu seakan tengah dikejar makhluk halus.
Masih dengan ekspresi kesal, mbak Surti menjawab, "Unit apartemen nomor 808, Bu. Ibu keluar apartemen, lalu belok ke kiri kemudian lurus. Nah, kamarnya ada di sebelah kiri dekat pintu lift."
Tanpa membuang waktu, Tania bergegas meninggalkan tempat tinggalnya. "Akan kuberi pelajaran dia karena berani membangunkan Ibu Singa yang tertidur nyenyak."
Berjalan setengah berlari mengikuti petunjuk yang diberikan pengasuh Arsenio. Sepanjang jalan, tak hentinya Tania mengatur napasnya agar saat bertemu tetangga rese bin julid penampilan wanita itu bisa maksimal dan tujuan awal menemui orang itu bisa terlaksana. Ia terpaksa melakukan itu semua demi membungkam mulut orang-orang yang tak tahu sopan santun saat bertemu dengan orang baru.
__ADS_1
Tak membutuhkan waktu lama, akhirnya Tania telah tiba di depan pintu unit apartemen milik tetangganya itu. Memejamkan mata sejenak seraya menghela panjang guna mengumpulkan keberanian dalam dada. "Ayo kita mulai, Tania!"
Usai mengucapkan kalimat tersebut, Tania ulurkan tangan kanan ke depan kemudian menekan bel yang ada di samping bingkai pintu.
"Aargh, sialan! Berisik banget sih!" dengkus pemilik apartemen saat beberapa kali bel pintu rumahnya ditekan oleh seseorang tanpa henti. Bunyi nyaring itu membuat si empunya apartemen terpaksa keluar dari kamar mandi.
"Akan kumaki-maki orang itu karena membuat gaduh apartemenku," ujar seorang wanita sembari keluar dari kamar mandi. Ia kenakan bathrobe yang teronggok di lantai hingga menutupi tubuhnya yang polos kemudian berjalan menuju daun pintu.
"Hei, buka pintunya!" seru Tania. Emosi wanita itu telah mencapai ubun-ubun. Saat seperti ini, ia tak peduli apakah tindakannya itu akan merugikan dirinya sendiri ataupun orang lain. Bagi Tania terpenting saat ini adalah memberi pelajaran kepada orang-orang sok tahu seperti tetangganya ini.
Tak berselang lama, daun pintu itu terbuka. "Dasar tidak sopan, malam-malam mengganggu waktu istirahat. Apa kamu tidak pernah--"
"Kamu?"
.
.
.
Halo semua, jangan lupa tinggalkan jejak ya. Tuliskan komentar kalian di kolom komentar. Jangan jadi silent reader yang hanya baca tanpa memberikan like karena dukungan Kakak semua adalah penyemangat buatku. 🙂
__ADS_1