
Xander berdiri di sebelah Tania yang tampak sedang tertidur nyenyak dengan posisi wajah tertelungkup ke bawah. Tangan wanita itu merangkum punggung tangan Arsenio yang tidak terpasang infus.
"Tania," panggil Xander lirih seraya menepuk pundak mantan istrinya.
Kelopak mata Tania bergerak dan bulu matanya yang lentik pun ikut bergerak secara perlahan. "Xander? Apa Arsenio terbangun dan membutuhkan sesuatu?" tanyanya dengan suara serak khas orang bangun tidur.
Xander menggeleng dan berkata, "Jagoanku tertidur pulas. Sepertinya dia tahu kalau Mamanya butuh istirahat." Lantas ia melirik kepada bocah kecil yang masih tidur nyenyak di atas ranjang pasien. "Seingatku, kamu belum makan apa-apa sejak tadi siang. Aku membangunkanmu karena ingin mengajak makan. Kebetulan di bawah ada café yang menjual aneka roti dan cake, siapa tahu kamu ingin makan sesuatu untuk mengganjal perut."
"Tidak, terima kasih. Aku cuma mau nungguin Arsen di sini. Dia pasti nangis ketika terbangun nanti dan tak menemukan keberadaanku di sisinya," tolak Tania. Walaupun perutnya sedari tadi keroncongan, tapi ia tahan sebab tidak mau meninggalkan Arsenio seorang diri.
Xander menghela napas panjang. "Iya, aku tahu, Arsen pasti mencari Mamanya. Namun, aku yakin jika dia tahu sedari tadi Mamanya belum makan, justru dia akan sedih dan menyalahkan diri sendiri. Emangnya kamu mau kesehatan Arsenio memburuk karena memikirkan Mamanya?"
"Tania, kamu enggak boleh egois. Tubuhmu butuh asupan makanan untuk bisa merawat Arsenio selama dirawat di rumah sakit. Coba kamu bayangkan, bagaimana kamu dapat menjalankan tugasmu sebagai seorang ibu dengan baik jika ternyata kondisimu sendiri sedang tidak fit, bukankah itu justru mempersulit kita semua? Bisa jadi Arsenio yang seharusnya sembuh malah semakin drop melihat Mamanya sakit."
"Oleh karena itu, sebaiknya kamu makan dulu selagi Arsenio tertidur. Aku akan temani kamu ke bawah dan kita minta Surti menjaganya. Hanya sekitar dua puluh menit doang, aku yakin Arsenio tak akan terbangun dengan cepat."
Xander masih berusaha membujuk Tania agar mau makan. Mengingat bagaimana kebiasaan Tania dulu saat masih menjadi mahasiswa, sedikit banyak Xander tahu jika mantan istrinya itu sering menunda makan dan tak jarang membuat asam lambungnya naik karena kebiasaan buruk tersebut.
Nampaknya usaha Xander membuahkan hasil. Sorot mata Tania seakan menunjukan jika dia tengah dilema saat ini. Hal itu dimanfaatkan kembali oleh Xander untuk memprovokasi Tania.
Pria itu mengusap helaian rambut Tania yang dicempol ala wanita Korea. "Ayo, kutemani kamu makan sebentar. Habis itu kembali lagi ke sini. Ayolah, mumpung Arsenio belum bangun loh."
"Ya sudah, aku akan menuruti apa katamu. Tapi janji, kalau di saat kita sedang makan dan Arsenio terbangun lalu menangis mencariku, kita segera naik ke atas."
__ADS_1
Xander mengulum senyum di bibir. "Iya, aku janji." Tangan kokoh Xander terulur ke depan dan disusul jemari lentik Tania merengkuh tangan sang lelaki. Lantas keduanya berjalan keluar ruang perawatan.
Ketika terdengar derit pintu tertutup, kelopak mata seorang bocah kecil terbuka sempurna. Sudut bibirnya terangkat ke atas. "Selamat bersenang-senang, Mama dan Papa. Aku janji enggak akan ganggu kalian."
Rupanya sejak beberapa saat lalu Arsenio terbangun dari tidurnya yang panjang, tapi karena tak ingin menggangu percakapan kedua orang tuanya, ia memejamkan mata kembali dan berpura-pura tidur demi memberi ruang kepada Tania dan Xander untuk berbicara.
Bocah kecil penyuka warna biru langit meraih boneka jerapah yang ada di sebelah kanan kepalanya lalu berkata, "Pipo, selama Mama dan Papa pergi, kamu temani aku, ya? Dan kamu juga enggak boleh gangguin mereka. Awas kamu kalau sampai gangguin, kucubit hidungmu ini." Usai mengucap kalimat tersebut, Arsenio mendekap boneka tersebut dan memeluknya dengan erat.
***
"Sebaiknya kamu kembali bekerja sebelum aku melaporkanmu kepada manager café!" tukas Xander.
Pelayan pria terlonjak kaget, nampan yang ada di tangan terjatuh ke lantai menimbulkan suara berisik. Dia buru-buru mengambil nampan tersebut dan berbalik setelah meminta maaf.
"Astaga, Xander. Kamu kenapa? Dia cuma menyodorkan pesananku, tidak ada maksud lain."
"Tidak ada maksud lain, apa? Sudah jelas dia beberapa kali mencuri pandang ke arahmu, masih dibilang tidak ada maksud lain. Ck, menyebalkan sekali!" Xander mengaduk kopi di depanya dengan kasar. "Seharusnya tadi aku mencongkel saja matanya yang jelek itu agar tak berani memandangimu."
Tania menyipitkan mata, memandang aneh akan sosok pria di hadapanya. "Tunggu, jangan bilang ... kalau kamu cemburu!"
"Tentu saja, aku memang cemburu."
Jawaban Xander membuat Tania tertegun. Xander cemburu? Bukankah itu artinya jika selama ini pria itu masih mencintainya. Dan itu berarti ... mereka masih belum bisa melupakan pasangan masing-masing.
__ADS_1
Ingin rasanya Tania meloncat tinggi detik itu juga. Namun, ia berusaha bersikap santai seakan tak terpengaruh oleh ucapan Xander.
"Sekali lagi ada pria yang matanya jelalatan seperti tadi, aku bersumpah akan menghajarnya sampai babak belur. Tak peduli dia mau masuk rumah sakit kek atau enggak, I don't care! Terpenting aku bisa menjaga sesuatu yang sangat berharga dalam hidupku."
Xander mengambil garpu kemudian irisan kecil cake kesukaan Tania, ia arahkan ke mulut sang mantan istri. "Buka mulutmu, agar semua orang tahu kalau kamu adalah milikku!"
Tania mengedarkan pandangan ke sekitar, merasa malu memamerkan kemesraan di depan umum. "Aku bisa memakannya sendiri." Ia menggeleng saat menyadari sebagian pengunjung menatap ke arahnya.
"Jangan membantah, jika tidak mau aku cium bibirmu detik ini juga!"
Malu-malu, Tania membuka mulutnya, membiarkan Xander memasukan potongan kue ke sana. Menolak pun rasanya percuma karena Xander bersikeras melakukan apa yang ia inginkan.
Xander tersenyum samar melihat betapa patuhnya Tania. "Anak pintar. Coba dari tadi kamu patuh, kan aku enggak perlu mengancammu. Ayo habiskan, setelah itu kembali ke kamar Arsen."
Ketika sepasang mantan suami istri itu menikmati hidangan yang disiapkan pelayan, rupanya salah satu dari pengunjung memperhatikan mereka berdua.
"Berita bagus nih. Jeng Miranda pasti ngamuk kalau tahu anak kesayangannya jalan berduaan sama mantan menantunya itu. Sebaiknya aku foto aja deh, habis itu di-share di grup." Lantas, wanita paruh baya yang tak lain adalah teman geng sosialita Miranda mengeluarkan telepon genggam dari dalam tas kemudian mengabadikan momen langka itu sambil tersenyum smirk.
Setelah mengambil beberapa pose foto dan angle berbeda, dia memasukan kembali gawai itu. "Selesai, kini saatnya aku pulang ke rumah dan memprovokasi si Gembel dan pecundang itu biar dia kena strok karena mendengar berita heboh ini."
***
__ADS_1