
Turun dari mobil taxi, Miranda dibuat terkejut akan penampakan sebuah rumah bergaya Eropa klasik yang terlihat megah dengan arsitektur Beaux-Arts, mempunyai konsep teatrikal, megah serta dilengkapi hiasan tinggi yang terinspirasi oleh Romawi dan Yunani. Delapan buah pilar besar menjulang tinggi ke atas ditambah lampu gantung terbuat dari kristal membuat rumah tersebut seperti sebuah istana di negeri dongeng.
Rumah itu begitu luas dan tampak begitu asri. Bagaimana tidak, sang pemilik rumah menanam banyak bunga aneka ragam warna, pepohonan serta taman bunga khusus yang ditumbuhi bunga mawar merah, menguarkan aroma harum nan menyegarkan.
"Rumah ini ... indah sekali." Miranda menatap kagum akan bangunan kokoh dua lantai di depan sana.
Rumah itu seperti rumah impiannya sewaktu awal menikah dengan Jonathan dulu. Namun sayang, wanita itu harus mengubur dalam impiannya sebab ia harus menempati rumah warisan kedua orang tuanya karena ia merupakan akan tertua di keluarga tersebut. Jadi tidak heran jika saat ini ia begitu mengagumi bangunan tersebut.
"Mas, kenapa kamu mengajakku ke sini? Apa kamu ingin aku membantumu berbicara dengan salah satu klien penting perusahaan agar dia bersedia memberi modal usaha pada perusahaan?" tanya Miranda polos. Berpikir jika tujuan awal mereka datang ke sini untuk melakukan negosiasi.
Tania yang berdiri di belakang kursi roda mantan mertuanya mundur beberapa langkah ke belakang, memberi ruang pada Jonathan untuk berbicara dari hati ke hati dengan Miranda.
Tangan kokoh yang mulai berkeriput membawa kepala sang istri dalam dekapan lalu mencium puncak kepala istri tercinta dengan penuh cinta. "Aku mengajakmu ke sini bukan untuk menemui klien penting, melainkan ingin mengajakmu keliling sebelum kita semua pindah rumah."
Miranda menjauhkan tubuhnya kemudian memicingkan mata ke arah Jonathan. "Maksud kamu apa, Mas? Pindah rumah? Ke mana? Bukannya rumah kita adalah tempat tinggal yang saat ini kita tinggali bersama?"
Joanthan terkekeh. Melihat mata indah berwarna coklat membangkitkan kenangan saat ia masih muda dulu. Sorot mata itulah yang membuat jantung pria berdarah Amerika mempompa lebih kencang bahkan saking kencangnya mau meledak kala pertama kali berjumpa Miranda.
__ADS_1
Sedikit membungkuk guna menyejajarkan tinggi badan. "Kalau itu rumah kontrakan, bukan rumah milik kita, Sayang. Namun, rumah di hadapanmu ini adalah rumah kita. Rumah impianmu. Bukankah kamu pernah cerita kepadaku ingin tinggal di rumah bergaya Eropa klasik dengan arsitektur Beau-Arts? Nah, sekarang ini aku telah mewujudkan impianmu. Kita bisa tinggal di sini bersama Xander, buah cinta kita," tutur Jonathan menjawab semua pertanyaan yang diajukan Miranda.
Suara Miranda tercekat. Bibirnya terbuka lalu mengatup, terbuka lagi sampai beberapa kali. Akan tetapi, tak ada satu patah pun terucap dari bibirnya. Lidah wanita itu mendadak kelu tiba-tiba.
"Aku tahu kamu pasti terkejut mendengar perkataanku. Kamu pasti berpikir aku tengah mengerjaimu. Tapi aku bersungguh-sungguh jika rumah ini adalah rumahmu. Kabar buruk yang menyatakan bahwa perusahaan mengalami kebangkrutan tidaklah benar. Perusahaan kita justru semakin berjaya, banyak mendapat tawaran kerjasama dari beberapa perusahaan. Bahkan saat ini Xander sedang melobi salah satu investor agar bersedia menanam modal pada perusahaan."
Semakin dibuat terkejutlah Miranda akan kenyataan yang baru saja ia dapatkan. Sungguh, ia tidak menduga jika ternyata perusahaan yang dibangun susah payah oleh suami tercinta masig berdiri kokoh hingga sekarang di tengah gempuran persaingan bisnis, rupanya V Pramono Group dapat menunjukan eksistensinya selama puluhan tahun lamanya.
Mengulurkan tangan ke depan, menyentuh permukaan punggung tangan Midanda. Memainkan permukaan kulit yang mulai berkeriput akibat dimakan waktu. "Maafkan aku, Ma. Selama ini telah membohongimu. Aku terpaksa melakukan itu semua karena tak tahu harus dengan cara apa lagi untuk menyadarkanmu bahwa harta bukanlah merupakan tolak ukur sebuah kebahagiaan. Terbukti, meski kita hidup susah kebahagiaan itu justu datang menghampiri."
Miranda diam, menatap Jonathan tidak percaya. Dalam hati mulai mengakui bahwa apa yang dikatakan sang suami benar adanya. Semua teman geng sosialita yang dianggapnya teman sejati, hanya berada di sisinya ketika ia hidup bergelimang harta. Di saat terpuruk, apakah mereka semua ada di saat ia membutuhkan bantuan?
Jangankan memberi uluran tangan, menanyakan kabar saja tidak pernah. Mereka seolah amnesia, melupakan jika ada nama Miranda dalam susunan keanggotaan.
"Kamu boleh membenciku karena telah membohongiku, Ma. Namun, kumohon jangan pernah pergi meninggalkanku. Aku tidak sanggup bila harus berpisah dengan wanita yang sangat kucintai." Sepasang mata hazel mulai berkaca-kaca, membayangkan hidup seorang diri tanpa ada Miranda di sisinya membuat seluruh tubuh menegang. Meskipun mulut Miranda pedas bagai keripik setan level 10, tetapi ia begitu sangat mencintai istrinya itu.
Miranda terenyuh. Mata berkaca-kaca dan bibir gemetar hebat. Ucapan Jonathan terdengar tulus berasal dari lubuk hati yang terdalam. Ia menatap lekat iris hazel yang menyiratkan kesungguhan.
__ADS_1
"Mana mungkin aku meninggalkanmu, Mas, sedangkan dirimu begitu berarti dalam hidupku. Jujur, aku merasa kesal karena telah kamu bohongi. Namun, mendengar alasanmu mengapa berpura-pura miskin di depanku, aku justru mau mengucap terima kasih, berkat bantuanmu kini aku bisa lebih menghargai orang lain. Kini aku tak lagi memandang rendah mereka. Aku lebih bisa menghargai saudara kita yang status sosialnya di bawah kita. Terima masih, Mas Jonathan."
Kedua tangan Jonathan terbuka lebar. Ia sungguh tidak tahan lagi melihat Miranda yang mulai meneteskan air mata.
Miranda mengangguk dan berhambur dalam pelukan Jonathan. Ia melingkarkan tangan di punggung suaminya dan memeluk pria itu erat-erat.
Jonathan menciumi puncak kepala Miranda untuk kedua kali. "Aku yang seharusnya berterima kasih, Sayang. Dalam keadaan miskin sekalipun, kamu masih setia menemaniku. Kamu bersedia mendampingiku di saat tersulit dan itu merupakan sebuah anugerah tak ternilai bagiku. Aku ... mencintaimu, Miranda Vincent Pramono."
Miranda merangkum wajah Jonathan, mencium bibir suaminya dengan rasa yang memnbucah hebat. Tampak sepasang suami istri lanjut usia saling mencecap bibir masing-masing, menikmati moment kebersamaan yang jarang terjadi.
Tania menunduk malu. Wajahnya merah merona melihat kemesraan kedua mantan mertuanya itu.
"Sepertinya ini merupakan waktu yang tepat bagiku rujuk kembali dengan Xander. Aku tidak mau Arsenio tumbuh besar tanpa sosok seorang Papa. Aku ingin puteraku mendapat kasih sayang utuh dari kedua orang tuanya," gumam Tania. Dalam hati membulatkan tekad untuk berbicara serius dengan Xander, membahas rencana masa depan mereka.
...***...
__ADS_1