
Tania duduk dengan gelisah di seberang kursi kebangaan Johan. Di mana pria itu sedang sibuk memeriksa laporan keuangan yang baru saja diberikan oleh bagian keuangan. Kedua genggaman tangan saling mencengkeram satu sama lain, keringat dingin mulai muncul ke permukaan serta telapak tangan pun mulai terasa basah. Entah kenapa wanita itu merasa sedikit gugup saat berhadapan dengan Johan, khawatir ia telah melakukan kesalahan hingga membuatnya dipanggil ke ruangan.
"Maaf sudah membuatmu menunggu terlalu lama, Tania," ucap Johan sesaat setelah memeriksa laporan keuangan perusahaan. Ia meletakkan berkas tersebut ke samping kanan, kemudian melepaskan kacamata baca yang bertengger di hidungnya yang bangir.
Tania yang saat itu sedang menunduk segera mendongakan kepala menatap iris coklat milik Johan. "Iya, Pak, tidak masalah. Saya bisa mengerti." Memaksakan diri untuk tersenyum meski jantung wanita itu berdegup tak beraturan.
"Maaf, Pak, tadi saya diminta oleh asisten Bapak untuk datang ke sini. Kalau boleh tahu, ada hal penting apa yang ingin disampaikan? Apa pekerjaan saya kurang memuaskan? Atau tanpa sengaja saya telah melakukan sebuah kesalahan?" tanya Tania memberanikan diri.
Johan terkekeh. "Tania ... Tania ... jadi kamu sedari tadi tampak begitu gugup karena berpikir telah melakukan kesalahan, begitu?"
Tania mengedip dan mengangguk pelan. "Benar, Pak."
Lalu, Johan kembali berkata, "Santai saja, ini tidak ada sangkut pautnya dengan urusan pekerjaan." Lelaki itu menarik laci meja kerjanya, kemudian mengeluarkan sebuah undangan berwarna merah jambu dikombinasikan dengan bunga-bunga warna senada. "Hari Sabtu nanti saya minta kamu dan Joana menemani saya menghadiri pesta pertunangan salah satu klien penting perusahaan. Di situ tertera jelas waktu dan tempatnya."
Johan menyodorkan sebuah surat undangan yang posisinya terbalik hingga Tania tidak dapat melihat nama pasangan yang tertera di sana.
Tanpa menaruh curiga sedikit pun, Tania menerima surat undangan tersebut. Namun, entah kenapa saat permukaan tangannya menyentuh lembaran tersebut, tiba-tiba saja jantung wanita itu kembali berdegup kencang bahkan nyaris meledak. Bola mata terbelalak, napas terhenti sampai sekian detik lamanya dan suaranya pun tercekat saat melihat sebuah nama dengan ukiran keemasan terpampang nyata di depan sana.
"I-ini, surat undangan pertunangan?" Tania tergagap tatkala nama sang mantan suami tercetak di surat undangan tersebut. "T-tuan Xander, akan bertunangan?"
__ADS_1
"Betul sekali. Tuan Xander dan kekasihnya yang tak lain merupakan seorang model akan menggelar pesta pertunangan yang sangat meriah di salah satu hotel bintang lima di kota Jakarta. Berhubung kita tengah menjalin kerjasama dengan perusahaan V Pramono, maka pihak Tuan Xander mengundangku menghadiri pesta tersebut. Namun, karena saya tidak mau datang seorang diri maka meminta kamu dan Joana menemani. Bagaimana, kamu tidak keberatan, 'kan, menghadiri pesta tersebut?"
"Saat pesta berlangsung pasti banyak tamu undangan dari berbagai kalangan yang hadir. Mulai dari para petinggi perusahaan, CEO dan orang-orang penting turut memeriahkan pesta. Maka dari itu, saya ingin kamu datang siapa tahu kita bisa menemukan calon klien baru yang berkenan menggunakan jasa perusahaan Johan Architects. Kalau saya hanya mengajak Joana, rasanya kurang afdol sebab yang mengerti seluk beluk dunia arsitektur selain saya, adalah kamu. Jadi, kamu bisa membantu saya menyakinkan mereka seandainya kita punya kesempatan untuk mempromosikan perusahaan," ujar Johan panjang lebar.
Tania terdiam dan membeku di tempat. Lidah terasa kelu, tatapan mata pun kosong seolah jiwanya tersesat akan dimensi lain. Sungguh, ia tak menduga jika lelaki yang masih punya tempat tersendiri di hatinya sebentar lagi akan menjadi milik wanita lain.
***
"Tania, aku perhatikan sejak tadi kenapa kamu diam saja? Apa kamu sakit?" Kedua mata Joana memicing, menatap tajam ke arah Tania.
Sejak meninggalkan gedung tempat mereka bekerja hingga tiba di sebuah mall terbesar di kawasan Jakarta Pusat, Tania mengunci mulutnya secara rapat. Tak ada sepatah kata pun terucap dari bibirnya yang ranum nan tipis. Ia masih syok akan berita pertunangan antara Xander dan Lidya yang akan dilangsung akhir pekan nanti.
Tak mendapat respon apa pun, Joana kembali berkata, "Tania Maharani? Are you okey?" Telapak tangan kanan wanita itu melambai di depan wajah rekan kerjanya. Ia perhatikan raut wajah Tania yang sedikit murung, tak bercahaya dari biasanya.
Tania mengerjapkan mata beberapa kali guna mengembalikan kesadarannya yang sempat menghilang beberapa saat. "Ehm ... ya, aku baik-baik aja. Maaf, tadi aku sempat melamun jadi enggak dengar apa yang kamu katakan barusan."
Kepala Joana menggeleng ke kanan dan kiri. "Tania ... Tania ... kamu itu aneh, dalam keadaan begini masih sempat-sempatnya melamun. Untung saja kamu enggak tersandung, kemudian terjatuh karena terlalu sibuk melamun."
Tania tersenyum kikuk, merasa tersindir akan ucapan Joana. Namun, ia tidak marah sama sekali sebab apa yang dikatakan rekan kerjanya itu benar semua.
__ADS_1
"Maafkan aku, Jo." Hanya kalimat itu yang mampu terucap di bibir Tania.
Wanita dalam balutan rok span warna putih dipadu dengan blazer navy menghela napas kasar. Melihat sikap, gerak gerik serta air muka Tania yang tak biasa membuat Joana yakin bahwa saat ini ibu kandung Arsenio tidak dalam keadaan baik, pasti ada sesuatu yang menimpa rekan kerjanya. Namun, ia tak berani mencampuri urusan pribadi wanita di sebelahnya biarkan itu menjadi rahasia Tania sendiri.
Kedua tangan Joana menyentuh bahu Tania. "Udah, enggak usah dibahas lagi. Lebih baik sekarang kita segera pergi ke butik, mencari gaun pesta untuk acara akhir pekan nanti." Tanpa pikir panjang, ia segera menuntun Tania menuju salah satu butik langganaannya.
Hari ini kedua wanita cantik itu hendak berbelanja, mencari gaun yang pas untuk menghadiri pesta pertunangan Xander dan Lidya. Sebenarnya Tania ingin menolak permintaan Johan, karena hingga detik ini ia belum siap melihat mantan suaminya hidup bahagia bersama wanita lain. Ia takut benteng pertahanan yang dibangun selama ini akan roboh apabila di depan mata kepalanya sendiri menyaksikan lelaki yang dikasihi bersanding dengan Lidya.
Sementara itu, di tempat yang berbeda tampak Arsenio sedang duduk menyendiri di bangku taman sekolah. Ia tak berniat sama sekali bergabung dengan teman-temannya yang sedang asyik bermain di taman padahal semua teman sekelas mengajaknya ikut bergabung, tapi bocah kecil yang wajahnya mirip dengan Cooper Lunde tetap menolak ajakan mereka secara halus.
"Bersiaplah, Om Jahat, akan kuberikan kejutan menarik karena kamu udah buat Mamaku menderita selama ini." Arsenio menyunggingkan senyuman smirk, tatapan mata bocah lelaki itu fokus menatap layar ponsel. Ia mempunyai sebuah rencana yang akan dijalankan saat acara pertunangan berlangsung.
.
.
.
__ADS_1