Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu

Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu
Apa Hubunganmu dengan Tuan Xander?


__ADS_3

Libur telah usai. Kini saatnya Tania kembali ke rutinitas biasa, menjadi artitektur kepercayaan Johan, membantu pria paruh baya itu menangani beberapa proyek yang ditangani oleh perusahaan. Membawa dua plastik berisi oleh-oleh, wanita cantik dalam balutan setelan warna abu-abu yang dipadu dengan high heels putih dan hand bag warna senada mengayunkan kakinya yang jenjang memasuki gedung pencakar langit di depan sana. Seulas senyuman ia berikan tatkala ekor matanya melihat Joana tengah sibuk merapikan berkas penting milik perusahaan.


"Selamat pagi, Joana. Bagaimana, apa semua aman terkendali selama aku pergi?"


Sapaan ramah berhasil menghentikan sejenak aktivitas Joana. Wanita itu menyipitkan mata, menatap curiga akan sosok perempuan di sebelahnya. Wajah semringah disertai seulas senyuman manis terlukis di sudut bibir Tania, membuat wanita yang menjabat sebagai sekretaris Johan menjadi curiga. Pasalnya wajah Tania hari ini tampak lebih ceria dari sebelumnya.


"Na, kok diam saja." Tangan Tania melambai di depan wajah Joana. "Apa ada yang salah dengan penampilanku?" Baru saja bahwa kini rekan kerjanya itu tengah memperhatikan penampilannya.


Kepala Joana menggeleng. "Tidak ada. Hanya saja, aku perhatikan hari ini kamu tampak lebih ceria dari sebelumnya. Apa ada hal istimewa terjadi padamu saat liburan kemarin?"


Entah kenapa Joana jadi penasaran akan urusan pribadi Tania. Jika biasanya dia cuek bebek, seakan tidak mau tahu bagaimana kehidupan pribadi rekan kerjanya itu, tapi kali ini keinginannya itu menggebus dan tak dapat tertahankan lagi hingga membuat salah satu orang kepercayaan Johan berubah menjadi paparazi dadakan.


Tania terdiam beberapa saat ketika mendapat pertanyaan itu. Jika ditanya kenapa, jujur ia pun tidak tahu. Namun yang pasti, hari ini ia begitu bersemangat menghadapi tumpukan pekerjaan yang telah ia tinggalkan selama tiga hari lamanya.


"Hal istimewa apa, sih. Mungkin itu cuma perasaanmu aja kali, Na. Bukankah setiap hari aku selalu ceria dan murah senyum," elak Tania.


Mana mungkin bercerita jika selama liburan Tania tidak hanya menghabiskan waktu bersama Arsenio, melainkan juga bersama sang mantan terindah. Bisa heboh sekantor jika mereka tahu bahwa dulu Tania adalah mantan istri dari salah satu klien penting perusahaan. Walaupun beberapa waktu lalu para pegawai perusahaan sempat menggosipkannya, tapi mereka tak pernah berpikir jika Tania dan Xander pernah menjadi sepasang suami istri.


Dengan gerakan cepat Joana menyentuh ujung dagu Tania, lalu menatap lekat iris coklat wanita itu. "Jangan bohong, Nia! Aku tahu jika saat ini kamu tengah menyembunyikan sesuatu. Ayo, katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi selama kamu liburan."


Dua plastik putih, Tania letakkan di atas meja kerja Joana kemudian tangannya yang lentik menepis jari tangan rekan kerjanya itu. "Bohong apaan sih, Na. Udah dibilangin enggak ada yang spesial, tapi kamu tetep ngeyel. Udah ah, aku mau ke mejaku dulu."


"Di plastik ini oleh-oleh untuk kamu dan teman-teman yang lain, tolong dibagiin ya. Kalau untuk si Bos, ada di dalam sini," ujar Tania sembari menepuk hand bag miliknya.

__ADS_1


Joana masih memandangi Tania yang tengah berjalan ke meja kerjanya. "Aku bukan anak kemarin sore yang bisa kamu tipu, Tania. Aku yakin banget kalau kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku, tapi kamu segan berbagi denganku. Lihat saja, cepat atau lambat aku akan mengetahui apa yang sedang kamu sembunyikan."


***


Tania kembali mengayunkan langkahnya menuju ruangan CEO yang berada di pojokan dekat jendela besar menghadap salah satu gedung hotel bintang lima. Tangan kanan membawa bingkisan berisi satu kotak cake yang ia beli di toko sebelum kembali ke Jakarta.


"Semoga Pak Johan suka dengan oleh-olehnya," gumam Tania sembari melirik paper bag di tangan kanannya.


Tangan Tania mulai mengetuk daun pintu saat ia sudah berada di depan pintu coklat bertuliskan bertuliskan 'ruang CEO'. Menghirup udara sebanyak-banyaknya guna mengisi pasokan oksigen di paru-paru. Wanita cantik yang merupakan lulusan terbaik di universitas terkenal di Jakarta terlihat begitu cemas, bagaimana jika Johan menanyakan hal serupa kepadanya? Apa yang harus dikatakan toh ia sendiri tidak tahu hal apa yang membuat hatinya begitu berbunga-bunga.


"Masuk!" seru Johan dari dalam ruangan.


Tania terhenyak beberapa saat ketika mendengar seruan itu. Kembali menarik napas dalam sebelum akhirnya memutar handle pintu dan masuk ke ruangan Johan.


Johan tersenyum lebar kala ekor matanya menangkap paper bag di tangan Tania. "Kamu kok bisa tahu sih kalau saya dan keluarga sangat menyukai salah satu makanan khas kota Bogor. Terima kasih banyak, ya. Saya yakin, istri dan anak-anak pasti senang jika tahu saya membawa makanan kesukaan mereka."


Rasanya seperti beban berat terangkat seketika saat mendengar perkataan Johan. Dalam hati merasa bersyukur karena rupanya pemimpin perusahaan sekaligus bosnya itu menyukai oleh-oleh sederhana yang ia berikan.


"Jangan sungkan, Pak! Tapi maaf, saya hanya memberikan kue ini dan beberapa cinderamata lain untuk Bapak dan keluarga. Namun, sekiranya kurang berkenan, mohon dimaafkan."


Johan menerima oleh-oleh pemberian Tania dengan senang hati. Ia tak melihat harga dari suatu produk melainkan dari ketulusan hati dari si pemberi. Untuk apa barang mahal jika ternyata tidak ikhlas memberi. Jadi lebih baik barang biasa, tapi ikhlas memberi. Bukan begitu?


Johan menyodorkan air mineral dalam kemasan gelas dan menyodorkannya kepada Tania. "Bagaimana liburanmu kemari, seru?" tanya pria itu sembari mencicipi kue talas Bogor pemberian Tania.

__ADS_1


Empat lapisan dua warna, perpaduan antara warna ungu dan kuning serta lapisan keju di atasnya membuat air liur Johan tak tertahankan lagi. Lantas ia meminta office boy membawakan piring serta garpu ke ruangan dan memutuskan mencicipi beberapa potong kue tersebut sebelum diberikan kepada istri dan anak-anaknya.


Jemari tangan Tania yang ada di atas pangkuan saling meremas satu sama lain. Rasa takut kembali ia rasakan. Takut apabila Johan menanyakan pertanyaan sama seperti Joanan.


"Alhamdulillah, seru, Pak. Arsen senang sekali ketika kami pergi berlibur. Bahkan dia sampai tidak ingat waktu saking asyik bermain."


Johan terkekeh pelan. "Namanya juga anak-anak. Cucu saya juga begitu, setiap kali diajak bermain ke arena bermain anak-anak, mereka enggan beranjak padahal sudah lebih dari dua jam bermain. Terkadang saya sampai geleng kepala melihat tingkah laku mereka."


Tania tersenyum canggung. Sedikit aneh membicarakan urusan pribadi di jam kerja. Namun, mau bagaimana ini semua bukan keinginannya, Johanlah yang lebih dulu membahas urusan di luar pekerjaan.


"Lain kali kalau kamu ingin ambil cuti, jangan sungkan untuk mengatakannya kepada saya, Tania. Saya pasti memberimu izin. Jangan sampai saya kena tegur Tuan Xander untuk kedua kali karena mengira jika saya adalah pimpinan kejam yang memaksa para karyawannya terus bekerja seperti sapi perah. Padahal saya tidak pernah memaksa seseorang terus bekerja jika seandainya dia memang ingin cuti libur. Karena saya tahu kalian pasti stress apabila terus dipaksa bekerja tanpa mendapat jatah libur."


Bola mata Tania membesar seakan tidak percaya atas apa yang disampaikan Johan barusan. "Jadi, Tuan Xander sempat menghubungi Bapak dan meminta Bapak mempermudah proses pengajuan cuti saya?"


Johan menganggukan kepala sebagai jawaban. "Betul sekali! Bahkan dia rela membayar kompendasi jika seandainya saya merugi akibat ketidakhadiranmu di kantor ini." Pria itu terkikik geli. "Aneh-aneh saja. Masa iya saya menerima uang ganti rugi hanya karena hal sepele."


"Apa? Jadi Tuan Xander juga rela membayar uang ganti rugi. Begitu?"


Lagi dan lagi Johan menganggukan kepala. "


Melihat itu semua membuat saya berpikir, apakah kalian mempunyai hubungan khusus hingga dia rela melakukan itu semua. "Oh ya, Tania. Sebenarnya, kamu dan Tuan Xander punya hubungan apa hingga dia rela melakukan apa pun demi kamu. Apa kalian punya hubungan spesial yang tidak diketahui orang lain?"


...***...

__ADS_1


__ADS_2