Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu

Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu
Dalang di Balik Kecelakaan Miranda


__ADS_3

"Apa? Jadi Wanita sialan itu masih hidup? Bukannya kamu bilang kalau dia berhasil kamu lumpuhkan. Lalu kenapa sekarang kamu malah memberitahuku kalau ternyata dia selamat, hah? Apa kamu tidak becus menjalankan tugas yang kuberi?" sentak seorang wanita bertubuh semampai dan berbadan langsing bak gitar Spanyol.


Pria berpakaian serba hitam menundukan kepala, tak berani menatapa iris coklat milik sang bos. "Maafkan saya, Nona. Namun sungguh, saya telah melakukan semua tugas sesuai perintah Anda. Bahkan saya menambah kecepatan laju kendaraan melebihi apa yang Nona minta."


"Tapi usahamu tetap gagal, Bodoh! Kalau berhasil mana mungkin aku memarahimu. Dasar tidak berguna. Percuma saja aku membayarmu kalau pada akhirnya rencanaku gagal," berucap dengan napas tersengal. Dada wanita itu kembang kempis mendengar berita yang disampaikan orang kepercayaannya.


Masih dengan menundukan kepala, pria itu hanya bungkam seribu bahasa. "Maafkan saya, Nona." Hanya itu kalimat yang mampu ia ucapkan. Pasrah jika seandainya setelah ini ia dipecat dan menjadi gelandangan lagi akibat melakukan satu kesalahan. Membela diri pun rasanya percuma saja sebab di mata Lidya, dia tetap bersalah.


"Maaf ... maaf ... maaf! Bisanya cuma minta maaf doang. Emang kamu pikir setelah meminta maaf semua urusan bisa selesai, iya?" skak perempuan cantik yang tak lain bernama Lidya. "Kamu 'kan tahu kalau saya paling tidak suka rencana yang sudah disusun rapi berakhir sia-sia. Lantas kenapa kamu justru melakukan kesalahan, hah?"


Lidya duduk di sofa panjang yang dapat diduduki tiga orang. Menghirup napas dalam, menahannya sebentar kemudian mengembuskan secara perlahan.


Setelah merasa baikan, barulah Lidya kembali berkata, "Apa ada informasi lain yang mau kamu sampaikan kepadaku?"

__ADS_1


"Tidak ada, Nona."


Menghela napas berat dan panjang. Kemudian meraih gawai yang diletakkan di atas meja kaca. Jemari tangan wanita itu membuka m-banking salah satu bank milik negara lalu mengirim sejumlah uang dalam nominal yang cukup besar.


"Aku sudah mengirim uang ke rekeningmu. Jadi, mulai detik ini pergilah dari kota ini dan jangan pernah datang kembali! Aku tidak mau semua orang tahu bahwa dirikulah yang memerintahkanmu mencelakai Tante Miranda." Lidya pun mengeluarkan amplop coklat dari saku celana kemudian melemparkannya ke hadapan si pria. "Itu bonus yang bisa kamu gunakan sebagai uang tutup mulut. Setelah ini kerjasama kita selesai."


Tangan kokoh itu meraih lembaran uang dalam pecahan ratusan ribu rupiah yang dimasukan ke dalam amplop coklat. "Terima kasih, Nona. Dan maaf kalau misi kali ini saya gagal menjalankannya." Membungkukan sedikit punggung di hadapan Lidya. Setelah itu barulah ia pamit undur diri dari hadapan sang bos.


Ketika anak buah Lidya keluar dari bangunan mewah nan megah bak istana negeri dongeng, di waktu bersamaan orang tua Lidya baru saja tiba di rumah. Sang mama yang tak lain adalah salah satu teman geng sosialita Miranda mengerutkan kening, matanya pun memicing.


Papa Lidya yang memang pada dasarnya tak pernah tahu menahu bagaimana pergaulan anak semata wayangnya itu hanya menggendikan bahu. "Mana papa tahu. Waktuku terlalu berharga hanya untuk mencaritahu siapa pria itu. Daripada waktu terbuang sia-sia lebih baik kugunakan untuk bekerja. Dengan begitu harta kekayaan kita semakin melimpah ruah."


"Sudahlah, tidak perlu dipikirkan lagi. Sebaiknya kita masuk ke dalam. Papa ingin segera istirahat. Badanku letih setelah tujuh jam lamanya berada di dalam pesawat." Martin, Papa Lidya menoleh ke belakang. "Mang Jaja, bawakan semua barang bawaanku ke dalam. Ingat, jangan sampai ada yang terjatuh bila tidak mau gajimu saya potong!"

__ADS_1


Tanpa memberi menunggu jawaban sang istri, Martin telah lebih dulu melangkah maju ke depan meninggalkan istrinya yang masih mematung di tempat.


Ibunda Lidya baru menyadari kepergian suaminya setelah mendengar bunyi dentuman berasal dari pintu bagasi yang ditutup kencang oleh tukang kebun di rumah itu. Mengerjapkan mata beberapa kali dan tersadar bahwa dirinya tertinggal jauh dari suami tercinta.


"Papa, tungguin! Iih, kenapa malah ninggalin Mama sih!" Tanpa membuang waktu wanita itu berjalan dengan langkah panjang menyusul suami yang sebentar lagi masuk ke ruang tamu.


Lidya duduk dengan gelisah sambil menghentakkan kaki di atas lantai. Informasi yang disampaikan anak buahnya berhasil membuat perasaannya tidak tenang. Dia benar-benar takut jika aksinya itu diketahui Jonathan dan juga Xander.


Kalau sampai itu terjadi, bisa dipastikan bahwa sebentar lagi dirinya akan merasakan bagaimana dinginnya tidur di dalam penjara yang hanya beralaskan kardus tanpa kasur empuk dan selimut tebal serta pendingin ruangan yang dapat menghidarinya dari kegerahan.


"Tidak, pokoknya aku harus menyembunyikan semua ini dari mereka. Jangan sampai ada satu orang pun tahu bahwa akulah orang yang menyebabkan Tante Miranda masuk rumah sakit." Lidya mengepalkan sebelah tangan kemudian memukulnya ke telapak tangan. "Ya, aku harus merahasia ini dari mereka semua."


"Rahasia apa yang ingin kamu sembunyikan dari kami, Lid?"

__ADS_1


...***...


__ADS_2