
Tania melirik jam dinding, waktu sudah menunjukan pukul tujuh lebih lima belas menit. "Sayang, sebaiknya kamu sarapan dulu sebelum sekolah. Mama enggak mau kamu sakit," sergahnya. Wanita bermata sipit menginterupsi percakapan antara mantan suami dan anak tercinta. Ia lama-lama merasa khawatir dengan anaknya yang terlihat begitu antusias menyudutkan Xander. Walaupun usia masih enam tahun, tapi Arsenio mempunyai seribu macam cara membuat lawan bicaranya tak berkutik.
"Ayo, sarapan dulu! Mbak Surti udah menyiapkan sarapan untukmu," bujuk Tania lembut. "Mbak Surti, tolong temani Arsen makan."
Arsenio bangkit dari kursinya, kemudian melirik ke samping. "Mama enggak sarapan bareng aku?" tanya bocah itu dengan menaikan sebelah alis.
Kepala mendongak ke atas lalu menggeleng. "Kamu duluan aja, nanti Mama nyusul." Sebelum Arsenio berjalan, wanita itu mengulum senyum di bibir.
"Maaf, kalau ucapan Arsenio membuatku tersinggung." Tania berkata tanpa berani menatap mata hazel jernih nan indah milik sang mantan terindah.
Xander memaksakan diri untuk tersenyum di hadapan Tania, walaupun hatinya dalam keadaan tidak baik-baik saja. "Enggak apa-apa, aku bisa memaklumi kenapa Arsen berkata begitu. Lagi pula, semua yang dikatakan dia ada benarnya. Aku emang bodoh karena begitu mudahnya termakan hasutan Mama hingga tak memberi kesempatan padamu dan Abraham untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Aku ...."
"Udahlah, enggak perlu dibahas lagi toh semunya udah clear. Aku udah maafin kamu dan Arsen pun lama-lama mengerti kenapa kita bisa pisah." Tania tidak mau membahas lagi masa lalu sebab baginya jika semua kenangan itu terus diingat hanya akan membuat dadanya terasa sesak dan luka lama yang belum mengering kembali menganga.
Suasana tiba-tiba hening. Tidak ada satu orang pun yang mau berkata. Baik Xander maupun Tania sibuk dengan pikiran masing-masing.
Dasar pengganggu! Awas aja kalau sampai Om jahat melukai Mama, akan aku sadap ponselnya dan kuedit fotonya kemudian kusebar di sosial media agar citranya sebagai CEO perusahaan hancur. Arsenio bermonolog. Satu tangkup sandwich isi daging dan sayuran ia masukan ke dalam mulut, mengunyah makanan itu dengan kasar seraya memperhatikan interaksi antara mama dan papanya.
Seorang pria tengah duduk manis di kursi kemudi. Pandangan matanya terus menatap lurus ke luar jendela sambil sesekali mengetuk-ngetukan jari di stir mobil. Xander, nama lelaki itu segera undur diri setelah puas menyampaikan permintaan maafnya pada Arsenio. Akan tetapi, ia tidak langsung pulang ke apartemen melainkan menunggu di parkiran depan gedung apartemen milik Tania.
__ADS_1
Wajah yang tadinya gelisah berubah menjadi cerah bagaikan sinar mentari di pagi hari. Lelaki tampan bertubuh tegap menurunkan kaca jendela mobil. "Tania, kamu sedang menunggu taxi?" seru Xander dengan suara lantang.
Merasa namanya dipanggil tentu saja Tania menoleh ke sumber suara. Sepasang mata sipit terbelalak sempurna saat menyadari siapakah gerangan yang tengah memanggilnya. "Xander?" ucap wanita itu lirih. Tidak menduga jika mantan suaminya masih berada di sekitar kediamannya.
Mengingat bagaimana sikap Miranda saat mereka kembali bertemu setelah lima tahun tak bertemu, membuat Tania membuang muka mengalihkan pandangan ke arah lain. Sudah cukup mereka berinteraksi kini saatnya kembali menjadi orang asing, tidak saling mengenal satu sama lain karena dia enggan berurusan lagi dengan perempuan yang sudah melahirkan Xander ke dunia.
Arsenio menyondongkan kepalanya ke samping kanan hingga dapat melihat sosok papanya yang tengah memandangi mereka. Lidahnya terjulur ke depan seolah sedang mengejek Xander. "Emang enak dicuekin!" ucapnya puas.
"Sabar, Xander. Jangan sampai terpancing emosi! Anakmu hanya kesal sebab kamu sudah menyakiti Tania dan memberi penderitaan kepada mereka." Xander mencoba mengingatkan dirinya untuk tidak marah akan sikap nyeleneh yang ditunjukan Arsenio. Menganggap semua ini sebagai balasan dari kesalahannya di masa lalu.
Beberapa kali Tania melirik arloji di pergelangan tangan, kemudian beralih pada jalanan di depan sana. Tampaknya dia sedang menunggu taxi online yang dipesannya sepuluh menit lalu.
"Bu, sepertinya taxi pesanan kita kejebak macet. Lihat, sejak tadi posisinya ada di sini terus." Surti, pengasuh sekaligus teman curhat Tania menyodorkan telepon genggam miliknya ke hadapan sang majikan. "Kalau terus menunggu kita bisa telat sampai tujuan. Den Arsen pun pasti disuruh berdiri di depan kelas oleh Miss Niken."
Hari ini Tania memang tidak mengendarai kendaraan roda dua miliknya sebab 'si putih' nama motor bebek kesayangan sedang berada di bengkel. Kemarin saat dia pulang bekerja tiba-tiba motornya mogok dan mengharuskan masuk bengkel. Dengan terpaksa wanita itu membiarkan montir membawa si putih.
"Ikutlah denganku, akan aku antarkan kalian sampai tujuan."
Tania berbalik dengan cepat. Iris matanya yang coklat menangkap bayangan pria yang pernah menjadi bagian dari masa lalunya.
Arsenio menggertakan gigi, mengepalkan kedua tangannya seolah siap bertarung dengan papa kandungnya. "Jangan ganggu Mamaku!" ucapnya lantang sembari memasang badan, berdiri di depan dengan kedua tangan direntangkan ke samping kanan dan kiri.
__ADS_1
Xander menghela napas kasar. Ia tahu meluluhkan hati Arsenio tidaklah mudah bahkan lebih sulit menaklukan si bocah genius daripada merebut hati Tania.
Dulu Xander cukup membawa mawar merah dan satu cup es krim rasa cokelat ke hadapan Tania sembari berlutut maka gadis itu bersedia menerima pernyataan cintanya. Akan tetapi, tidak bagi Arsenio. Bocah berusia enam tahun itu masih menyimpan dendam kepadanya.
Xander membungkukan sedikit badannya, kemudian mengucap puncak kepala Arsenio. "Om enggak bermaksud mengganggu Mamamu. Tadi Om perhatikan sepertinya kalian sedang menunggu taxi, tapi sampai sekarang belum juga datang. Kalau mau, Om bisa mengantarkanmu dan juga Mamamu sampai tujuan. Kebetulan Om mau pulang jadi bisa sekalian jalan."
"Enggak perlu! Sebentar lagi juga taxi-nya datang kok," tolak Arsenio cepat.
Tania tersenyum bangga sebab Arsenio selalu melindunginya. Dalam hati merasa beruntung karena Tuhan telah menitipkan harta yang paling berharga dalam hidup ini.
"Enggak perlu repot, Tuan. Sebentar lagi taxi kami datang," ujar Tania lembut. "Terima kasih udah bersedia membantuku."
"Tapi Tania, bagaimana jika kalian--"
Belum selesai Xander berkata, deru mesin kendaraan terdengar jelas di telinga. Satu unit taxi berwarna biru berhenti tepat di hadapan mereka.
"Lihat, belum ada lima menit taxinya udah sampai." Tania tersenyum lebar. "Kalau begitu kami permisi dulu." Tanpa memberi kesempatan pada Xander untuk berbicara, Tania lebih dulu menarik jemari tangan mungil anaknya masuk ke mobil.
Tatkala mobil itu melaju, jendela mobil di kursi penumpang terbuka dan menampakan tangan mungil Arsenio. Kepala bocah itu menyembul dan dia berkata, "Dadah, Om Jahat!" Seringai mengejek tersungging di bibirnya yang ranum.
Rasakan! Emang enak kita cuekin.
__ADS_1
...***...