
Beberapa hari kemudian, Arsenio sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Lagi dan lagi dokter menasihati Tania agar memperhatikan asupan makanan yang masuk ke perut sang putra.
"Kamu sudah dengar sendiri 'kan, Boy, apa kata Om Dokter barusan? Enggak boleh makan es krim terlalu banyak karena-"
"Karena perutku bisa sakit lagi dan dirawat ke rumah sakit," timpal Arsenio sebelum Xander menyelesaikan ucapannya.
"Good, boy. Ini terakhir kalinya kamu masuk rumah sakit karena pencernaanmu bermasalah. Papa enggak mau di kemudian hari melihat Mamamu terlihat cemas karena mengkhawatirkanmu. Mengerti?" Arsenio menganggukan kepala patuh. "Bagus, ini baru namanya anak Papa."
Tangan Xander mengacak-ngacak helaian rambut sang putera dengan gemas. Sementara Tania hanya tersenyum sambil memasukan semua pakaian ke dalam koper kecil milik Arsenio. Matanya berkaca-kaca, terharu melihat kedekatan antara mantan suami dan anak semata wayangnya.
Aah ... seandainya saja Tania dan Xander belum bercerai, pasti rumah tangga mereka bahagia karena saling menyayangi dan mencintai satu sama lain.
Tania menurunkan koper si kecil ke lantai dan menariknya mendekati ranjang pasien. "Apa kalian sudah selesai berbicara? Kalau sudah, sebaiknya kita pulang sekarang sebelum hujan turun." Wanita itu mengalihkan pandangan ke luar jendela. Langit di siang itu terlihat mendung. Awan pekat menyelimuti sinar mentari dan pepohonan bergoyang diterpa angin kencang menandakan bahwa hujan akan segera turun membasahi bumi.
"Udah dong. Ayo, kita pulang, Pa!" Arsenio mengulurkan tangan ke arah Xander dan pria berdarah setengah Amerika menyambut uluran tangan anak tercinta. Lalu kedua pria itu berjalan beriringan keluar ruang perawatan. Tania mengekori di belakang, memberi kesempatan pada Xander agar hubungannya semakin dekat dengan Arsenio.
Xander duduk di balik kemudi, sedangkan Arsenio di kursi penumpang dan di sebelah mantan CEO perusahaan V Pramono ada Tania yang dengan suka rela duduk di kursi depan samping mantan suaminya. Kali ini Tania berinisiatif sendiri tanpa harus adu mulut dengan Xander.
"Mau mampir ke suatu tempat sebelum pulang ke apartemen?" tawar Xander saat kendaraan roda empat itu melaju meninggalkan halaman rumah sakit. Ia menyalakan lagu instrumen mengiringi perjalanan mereka.
Tania melirik satu kali, kemudian menolehkan kepala ke belakang seakan meminta pendapat Arsenio. Bocah kecil itu menggelengkan kepala sebagai jawaban.
__ADS_1
"Sebaiknya kita pulang saja. Kalaupun memang ingin makan nanti aku buatkan makan siang untuk kalian. Kebetulan Surti sudah berbelanja sayuran serta lauk pauk untuk persediaan selama satu minggu ke depan jadi aku tinggal mengolahnya saja menjadi makanan matang," tandas Tania.
"Ya sudah, kalau gitu kita pulang saja. Kalau kamu dan Arsenio ingin tidur, tidur saja. Nanti aku bangunkan kalian berdua kalau sudah sampai."
Mobil yang dikemudikan Xander melaju cepat membelah jalanan ibu kota. Kini kendaraan mewah itu memasuki halaman parkir sebuah gedung pencakar langit di kota Jakarta.
"Tania, biar aku saja yang menggendong Arsen. Kamu cukup bawa koper di bagasi dan boneka kesayangannya saja," ucap Xander saat melihat Tania hendak menggendong Arsenio.
Tania segera menghentikan kegiatannya. Ia geser tubuhnya ke samping guna mempersilakan Xander menggendong putera kesayangan mereka. Sepasang mantan suami istri itu berjalan beriringan menyusuri lorong kecil menuju lift yang membawa mereka menuju lantai tujuh.
"Aku sudah mendaftarkan Arsenio di sekolahnya yang baru. Saat hari pertama sekolah jika kamu tidak sibuk, sebaiknya ikut denganku mengantarkan Arsenio ke sekolahannya. Bukannya aku ingin mengaturmu, hanya saja aku tidak mau jika Arsenio merasa sedih karena di hari pertama bersekolah, dia tidak diantar oleh satu-satunya orang yang dicintai. Akan timbul rasa iri dalam diri anak ini jika melihat hanya dia saja yang tidak ditemani Mamanya."
"Namun, jika memang kamu sibuk dan tak punya waktu luang biar aku saja yang menemaninya. Daripada aku berdiam diri di apartemen tanpa melakukan apa pun lebih baik mengantar Arsenio sekolah untuk pertama kali. Pasti sangat menyenangkan bisa berduaan dengan puterku yang tampan ini." Xander memandang penuh cinta pada sosok kecil dalam dekapan. Tatapan mata itu memancarkan betapa besarnya kasih sayangnya sebagai seorang ayah.
Xander sempat mengerutkan dahi. Sebelum akhirnya terkekeh setelah menangkap sinyal berbahaya dari antene di kepala sang mantan istri.
"Kenapa? Cemburu? Tenang saja, aku tidak mungkin tertarik pada mereka. Kamu tahu sendiri sejak dulu hingga sekarang hatiku ini hanya untukmu seorang. Meskipun para Emak-Emak rempong itu bergosip, menggoda dan merayuku, cinta dan hatiku ini hanya untukmu seorang."
Tania tersenyum simpul mendengarnya. Ia dibuat salah tingkah seperti anak remaja yang baru mengenal cinta. Wajah memerah bagaikan buah tomat segar yang baru saja dipetik di perkebunan.
***
__ADS_1
Saat ini Tania sedang bergelut dengan peralatan dapur. Jemarinya yang lentik sedang menggoreng bumbu halus di atas wajan panas. Siang itu Tania secara khusus membuat nasi goreng seafood lengkap dengan selada air, mentimun dan tomat.
"Eum ... harum sekali. Kamu memang perempuan multi talent. Pintar mencari uang, mendesain bangunan, cantik, mandiri dan jago masak. Paket komplit pokoknya. Pantas saja Arsenio tumbuh sehat karena kamu pintar mengurusnya," puji Xander sungguh-sungguh. Sedari tadi pria itu dengan setia menemani Tania dan sesekali membantu mantan istrinya membawakan bumbu makanan ataupun bahan makanan yang diperlukan ibu kandung Arsenio.
Tania menggantung celemek di dekat lemari es dan membawa tiga tumpukan piring bersih lengkap dengan peralatan makan ke atas meja makan. "Dasar gombal. Jangan pikir aku akan menambah jatah makananmu, Xander. Ingat, aku membuat nasi goreng ini sesuai takaran. Jadi jangan pikir aku akan memberi jatah tambahan karena kamu sudah memujiku."
Xander berdecak kesal. "Ck, selalu saja dianggap tukang gombal! Padahal semua yang terucap di bibirku tulus bersumber dari lubuk hatiku yang terdalam."
"Udah ah, jangan diperpanjang! Sebaiknya kita makan sekarang sebelum makanan ini menjadi dingin. Kamu duduk dulu, aku panggilkan Arsenio sebentar."
Tania keluar dari kamar bersamaan dengan Arsenio yang berjalan bersisian di sebelah sang mama. Keduanya duduk di kursi makan dan menyantap makanan yang diolah Tania.
Suasana hangat tercipta walau hujan deras turun membasahi bumi. Suara gemuruh petir saling bersahutan, tapi tak mengganggu kebersamaan mereka. Baik Tania maupun Xander tanpa begitu perhatian satu sama lain.
Tuhan, semoga setelah ini Mama dan Papa bisa bersama lagi. Aku janji kalau sampai itu terjadi akan belajar dengan tekun agar menjadi juara pertama di sekolah.
Aah ... tampaknya Arsenio lupa jika dia akan tetap menjadi juara meski tak belajar sama sekali.
Di saat Xander tengah menikmati masakan Tania, dering ponsel pria itu berbunyi membuatnya menghentikan sejenak kegiatannya.
Tangan Xander terulur ke depan, meraih benda pipih berukuran 6.5 inci. Kening pria itu berkerut saat membaca setiap kalimat yang dikirimkan seseorang kepadanya.
__ADS_1
[Datanglah malam ini ke rumah, ada hal penting yang ingin papa bahas denganmu.]
...***...