
Beberapa hari kemudian, dokter sudah memperbolehkan Miranda pulang ke rumah. Selama itu pula Tania dan Arsenio tak pernah absen mengunjungi Miranda di rumah sakit. Kegiatan itu menjadi rutinitas wajib bagi sepasang ibu dan anak tersebut.
Seperti sekarang ini, Tania sedang memasukan pakaian mantan ibu mertuanya ke dalam koper. Sementara Jonathan tengah berbincang dengan dokter jaga sebelum istri tercinta kembali ke rumah sedangkan Xander dan Arsenio sedang mempersiapkan kejutan khusus untuk Miranda.
"Pak Jonathan jangan lupa untuk terus datang ke rumah sakit memeriksakan kondisi Bu Miranda. Buat janji temu untuk melakukan fisioterapi agar istri Anda dapat beraktivitas mandiri seperti sedia kala."
Jonathan mengangguk petanda mengerti. "Baik, Dok. Terima kasih sudah merawat istri saya dengan baik. Saya tidak akan pernah melupakan jasa Dokter serta perawat dan tenaga medis lainnya."
Dokter senior itu terkekeh pelan. Tangan menepuk pundak Jonathan pelan. "Tidak perlu berterima kasih, Pak. Ini sudah menjadi tugas dan kewajiban kami sebagai tenaga medis, menolong pasien yang membutuhkan pertolongan. Ya sudah, kalau tidak ada yang mau ditanyakan, saya undur diri dulu masih banyak kerjaan yang harus diselesaikan."
Pria paruh baya dalam balutan snelli putih menoleh ke arah Miranda. "Bu Miranda, selamat karena Ibu sudah diperbolehkan pulang." Setelah berpamitan, dokter pria berambut keperakan itu undur diri dari hadapan semua orang, menyisakan Tania dan kedua mantan mertuanya.
__ADS_1
"Tania, terima kasih ya udah mau jagain tante selama berada di rumah sakit. Kehadiranmu dan Arsen tidak hanya menghibur, tetapi juga menjadi menawar kesakitan yang tante derita. Kalian berdua adalah obat paling mujarab dari semua obat yang ada di dunia ini," ucap Miranda tulus. Merasa beruntung karena selama dia sakit, ada seseorang yang mau merawatnya. Walaupun Jonathan setia berada di sisinya, tetapi dia support dari orang lain dan orang itu tak lain adalah Tania dan cucu tersayang, Arsenio.
"Jangan sungkan, Tante. Aku senang kalau Tante merasa terhibur akan kehadiranku dan juga Arsen," sahut Tania. Menurunkan koper ke lantai lalu berkata, "Tante sudah siap pulang ke rumah?"
Dengan antusias Miranda menjawab, "Siap dong! Tante sudah tidak sabar ingin segera pulang ke rumah. Walaupun cuma rumah kontrakan, tetapi tante sangat bersyukur karena masih diberi tempat tinggal yang layak dan nyaman untuk ditinggali."
Tania dan Jonathan saling lirik, kemudian mengulum senyum di bibir masing-masing. Sifat Miranda memang benar-benar telah berubah. Ibu kandung Xander sudah bisa menghargai orang lain dan tak lagi silau akan harta kekayaan yang bersifat sementara.
***
"Jadi, cucuku yang paling tampan dan menggemaskan itu pernah membobol sistem pertahanan perusahaan V Pramono, Nia? Oh astaga, tante tidak menduga jika di usianya yang baru menginjak enam tahun mampu mencuri data perusahaan. Cucuku bukan hanya imut, tetapi juga pandai seperti Mamanya. Tante yakin di masa mendatang dia akan menjadi orang sukses yang mampu membanggakan orang tua dan keluarganya."
__ADS_1
Tania tersenyum malu menceritakan bahwa dulu Arsenio pernah meretas sistem pertahanan perusahaan yang didirikan oleh Jonathan hanya karena dendam. Karena kebodohannya, Arsenio berpikir Xander telah menelantarkan mereka hingga harus menjalani kehidupan yang cukup keras. Arsenio tidak berpikir kalau saat itu Xander sendiri tak mengetahui jika dirinya tengah berbadan dua.
Lelah berbincang, Miranda menyenderkan punggung di sandaran kursi penumpang. Menatap keindahan pemandangan di luar dari jendela mobil. Akan tetapi, sebuah kesadaran muncul ke permukaan saat menyadari bahwa jalanan yang dilalui bukanlah jalanan menuju rumah kontrakan yang selama belakangan ini ia tinggali.
Menegakan tubuh kemudian berseru, "Pa, kamu mau bawa aku ke mana? Jalanan ini 'kan bukanlah jalanan menuju rumah kontrakan."
Sudut bibir Jonathan tertarik ke atas membentuk sebuah lengkungan seperti busur panah. "Nanti juga kamu akan tahu. Sebaiknya sekarang kamu tidur, kalau sudah sampai tujuan akan kubangunkan."
Lantas, Miranda menoleh ke arah Tania yang saat itu pura-pura tertidur karena tidak ingin memberitahu rencana yang disusun Jonathan dan mantan suaminya, Xander.
Satu tarikan napas panjang, Miranda mengalah. Ia menyenderkan kembali punggungnya ke belakang kemudian mencoba memejamkan mata meski sebetulnya tidak mengantuk, tetapi berusaha terpejam menuruti perintah suami tercinta.
__ADS_1
'Bersabarlah, Sayang, karena sebentar lagi kamu akan mendapat kejutan indah buah dari kesabaranmu selama menjalani ujian yang kuberi. Aku yakin kamu pasti senang setelah tahu apa kejutan tersebut,' batin Jonathan.
...***...