
"Apa? Jadi, perusahaan kita mengalami kerugian cukup besar akibat serangan virus yang menyerang perusahaan, begitu?" pekik Miranda dengan bola mata terbelalak sempurna.
Di seberang sana mengangguk kepala. "Benar, Nyonya. Bahkan tim IT perusahaan tak dapat berbuat apa-apa saat virus itu menyerang dan mengobrak-abrik data perusahaan. Hampir sebagian data perusahaan terkunci dan tak bisa dikembalikan."
"Astaga, bagaimana itu bisa terjadi? Lalu, kenapa kamu baru memberitahuku?" keluh Miranda pada salah satu orang kepercayaannya yang ia tugaskan secara khusus di perusahaan milik sang suami.
"Saat kejadian, Tuan Jonathan pun ada di tempat kejadian jadi saat kejadian itu berlangsung, saya pikir beliau telah memberitahu Nyonya."
"Bodoh! Lalu gunanya menggajimu untuk apa jika hal begitu penting saya harus mendengar langsung dari Jonathan!" sembur Miranda kepada Nesa yang tak lain adalah bagian keuangan di perusahaan V Pramono Group.
Nesa menundukan kepala, mengakui kesalahannya karena telah melalaikan kewajibannya sebagai orang kepercayaan Miranda. Ia diterima bekerja di sana bukan hanya mengurusi keuangan melainkan juga sebagai mata-mata nyonya besar Vincent Pramono.
"Ini terakhir kalinya saya menegurmu karena lalai akan tugasmu. Di kemudian hari jangan sampai kejadian ini terulang kembali, mengerti?"
Orang kepercayaan Miranda mengangguk. "Mengerti. Sekali lagi maaf sudah mengecewakan Anda."
Tanpa mau berkata-kata, Miranda telah lebih dulu mematikan sambungan telepon tanpa mengucapakan perpisahan.
"Wanita itu benar-benar bodoh!Bisa-bisanya dia melupakan tugas dan kewajibannya sebagai orang kepercayaanku," gerutu Miranda. Lantas ia memasukan kembali telepon genggam miliknya ke dalam tas sebelum keluar dari dalam kamar kecil.
Berjalan setengah berlari menuju sebuah meja di dekat jendela besar yang menghadap langsung ke sebuah taman kota. Hari ini ia mengajak Jonathan pergi menemui Xander di sebuah restoran Perancis terkenal di kota Jakarta. Katanya ada hal penting yang ingin dibahas bersama anak semata wayang. Namun, bisa diperkirakan jika pembahasan mereka tak jauh-jauh dari rencana pertunangan yang melibatkan pewaris tunggal V Pramono Grup dengan seorang model papan atas bernama Lidya Deborah.
"Pa, kenapa kamu tidak memberitahuku jika perusahaan kita mengalami kerugian yang cukup besar akibat sebuah virus yang meluluhlantakan sebagian data perusahaan. Andai saja tadi aku tidak menelepon Nesa, mungkin saja saat ini diriku seperti orang bodoh yang tak tahu apa-apa. Kamu ... benar-benar keterlaluan!" ujar Miranda dengan menghunuskan tatapan tajam ke arah Jonathan. Hand bag miliknya sampai harus dihempaskan begitu saja sebagai wujud kekesalannya.
Sungguh ia sangat emosi saat mendengar sebuah kenyataan yang mengatakan bahwa perusahaan milik sang suami mengalami merugian besar yang nyaris memuat mereka bangkrut. Selama ini ia pikir semua dalam keadaan baik-baik saja, tapi ternyata di depan sana ada sosok monster besar bernama 'bangkrut' tengah menunggu dengan wajah sumringan dan senyuman manis.
__ADS_1
Jonathan yang tengah duduk santai sambil memainkan telepon genggam terlonjak kaget ketika tas milik Miranda mendarat di seberangnya. Lemparan tas tersebut cukup kencang hingga membuat lelaki itu menghentikan sejenak kegiatannya.
Mendongakan kepala, menatap iris coklat milik sang istri. "Memangnya apa pedulimu? Bukankah kamu tidak pernah ingin tahu bagaimana keadaan perusahaan sekarang. Baik itu sedang berjaya maupun bangkrut sekalipun, kamu tidak pernah mau mendengarnya. Kamu lebih memilih pergi bersama teman-teman geng sosialitamu daripada kuajak diskusi membahas soal perusahaan," cibir Jonathan, semakin membuat dada Miranda kembang kempis. Deru napas wanita itu pun tak beraturan, menahan amarah dalam diri.
"Tapi tetap saja, aku berhak tahu, Pa. Sebagian saham perusahaan itu adalah milik kedua orang tuaku, jadi aku berhak mengetahui apa saja yang terjadi di sana," sahut ibu kandung Xander dengan meninggikan nada suara. Kedua tangan mengepal di samping badan. Beruntungnya mereka berada di ruangan VVIP hingga tak ada satu orang pun merasa terganggu oleh suara teriakan Miranda.
Jonathan mendesaah pelan. Lagi dan lagi ia mendengar suara bernada tinggi bersumber dari sang istri. "Terserah apa katamu saja, Ma. Aku tidak ingin memperpanjang masalah ini." Lantas, ia kembali memainkan telepon genggam miliknya, mengamati laporan pekerjaan seluruh karyawan perusahaan.
Merasa diacuhkan membuat Miranda meradang. Ia kembali berseru, "Lalu apa yang kamu dan Xander perbuat untuk mengembalikan sebagian data yang terkena virus?"
Dengan santai Jonathan menjawab, "Aku mengambil alih pekerjaan Xander dan meminta anakmu istirahat di rumah."
"Apa? Jadi kamu memecat anakmu sendiri, begitu?" tanya Miranda dengan bola mata terbelalak sempurna.
Pria jangkung berambut mulai keperakan mendengkus kesal karena Miranda terus membahas hal yang sama. "Bukan memecatnya, tapi men-skor. Ia tetap istirahat di rumah sampai aku menemukan antivirus yang dapat mengembalikan sebagian data yang terhapus."
"Pa, kenapa kamu melakukan itu kepada anak kita tanpa melibatkan aku? Aku pun punya hak mengutarakan pendapatku, bukan cuma kamu saja," imbuh Miranda.
Jonathan mengembuskan napas kasar. Entah dengan cara apa lagi memberitahu Miranda untuk menghentikan perdebatan ini. Sungguh, ia sangat lelah dan ingin menghentikan keributan ini, tapi rupanya Miranda masih ingin berdebat dengannya.
"Ma, aku melakukan itu semua sebagai bentuk teguranku kepada Xander, karena dia tidak becus mengurus perusahaan. Seandainya ia mengantisipasi semua ini mungkin saja kejadian ini tak menimpa kita."
"Alasan! Bilang saja kalau kamu memang sengaja agar keluarga Lidya tahu dan mereka membatalkan rencana pertunagan anak kita, iya 'kan? Aku tahu sejak dulu kamu tidak pernah setuju jika Xander menikah dengan Lidya."
Menarik napas dalam, kemudian mengembuskan secara perlahan. "Terserah kamu saja, Ma, mau percaya atau tidak, itu bukan urusanku."
__ADS_1
Jonathan bangkit dari sofa, merapikan pakaian yang sedikit berantakan. "Aku mau ke toilet sebentar. Kalau Xander dan Lidya datang, kamu sampaikan saja apa yang ingin disampaikan kepada mereka. Jangan menungguku!"
.
.
.
Halo semua, tanpa terasa sudah hampir berada di penghujung tahun 2022. Author ingin mengucapkan selamat tahun baru untuk para reader semua, semoga tahun 2023 segala harapan Kakak semua bisa dikabulkan. Aamiin.
Sambil nunggu update-an karya ini, yuk mampir dulu ke karya author. Karya ini menceritakan tentang orang tua Zahira yang ada di karya Pengantin Pengganti Sahabatku. Jadi, bagi Kakak yang penasaran, yuk buruan merapat!
Judul : Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil.
Nama pena : senja_90
Blurb : Kehamilan merupakan sebuah impian besar bagi semua wanita yang sudah berumah tangga. Begitu pun dengan Arumi. Wanita cantik yang berprofesi sebagai dokter bedah di salah satu rumah sakit terkenal di Jakarta. Ia memiliki impian agar bisa hamil. Namun, apa daya selama 5 tahun pernikahan, Tuhan belum juga memberikan amanah padanya.
Hanya karena belum hamil, Mahesa dan kedua mertua Arumi mendukung sang anak untuk berselingkuh.
Di saat kisruh rumah tangga semakin memanas, Arumi harus menerima perlakuan kasar dari rekan sejawatnya, bernama Rayyan. Akibat sering bertemu, tumbuh cinta di antara mereka.
Akankah Arumi mempertahankan rumah tangganya bersama Mahesa atau malah memilih Rayyan untuk dijadikan pelabuhan terakhir?
Kisah ini menguras emosi tetapi juga mengandung kebucinan yang hakiki. Ikuti terus kisahnya di dalam cerita ini!
__ADS_1