
"Nia, kamu jadi pergi nemuin mantan mertuamu itu?" tanya Khansa saat melihat Tania tengah bersiap-siap.
Tania melirik sekilas, lalu merapikan kembali tumpukan berkas yang berserakan di atas meja. "Iya, nih. Enggak enak kalau sampai telat. Namaku bisa semakin buruk di matanya," sahut wanita itu sambil meraih sling bag di atas meja. "Ya udah, aku duluan. Sorry, enggak bisa makan siang bareng kamu."
"Nope! Kamu, hati-hati. Misalkan mantan mertuamu macam-macam, jangan lemah, harus tunjukan kalau kamu itu berani!" pesan Khansa yang mana dijawab anggukan kepala Tania.
Tania berdiri di depan pintu masuk perusahaan, menunggu ojek online yang telah dipesan sebelumnya. Hari ini dia memang tak membawa motor sebab kota Jakarta tadi pagi diguyur hujan hingga membuat wanita itu terpaksa memesan taxi online daripada jatuh sakit akibat menerobos guyuran air hujan.
"Pelan-pelan ya, Pak. Jangan ngebut-ngebut!" pinta Tania sebelum driver ojol melajukan kendaraan roda dua miliknya.
Panasnya terik matahari yang menyinari bumi, tak mengurungkan niat Tania menemui Miranda. Walaupun muncul kekhawatiran dalam diri wanita itu, bagaimana jika seandainya Miranda telah menyusun rencana untuk mempermalukannya lagi di depan umum?
Kalau boleh jujur, sebetulnya Tania masih sedikit trauma akan kejadian tujuh tahun lalu. Namun, ia tidak mau mempertunjukannya pada Miranda karena takut mantan ibu mertuanya itu justru memanfaatkan kesempatan yang ada untuk menindasnya kembali.
Sementara itu, tampak Miranda sedang duduk dengan gelisah, menunggu kedatangan Tania. Di sebelah wanita itu ada Jonathan, yang setia menemani sang istri.
Jemari tangan Miranda saling meremas satu sama lain. Wajah pun terlihat lebih pucat dan telapak tangan berkeringat akibat rasa gugup yang mendera. "Duh, bagaimana ya, jika seumpama Tania tidak bisa maafin aku? Apa selamanya hubunganku dengan Xander akan seperti ini?"
Jonathan mengulurkan tangan ke atas pangkuan Miranda, menyentuh punggung tangan istrinya dan berkata, "Jangan gugup, semua pasti baik-baik saja. Ingat pesanku, minta maaflah dengan tulus dan singkirkan sikap angkuh, sombong dan rasa bencimu kepada Tania. Bagaimanapun, Tania itu adalah mantan menantu kita dan korban fitnahmu. Jadi memang seharusnya kamu meminta maaf padanya karena pernah mencoreng nama baiknya di depan semua orang."
Hati Miranda sedikit tenang karena ucapan Jonathan. Dengan susah payah Miranda tersenyum, memaksakan diri terlihat baik-baik saja meski sisa kekhawatiran masih terlihat jelas di wajah wanita itu.
__ADS_1
***
"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" Salah satu pelayan restoran menyambut kedatangan Tania dengan ramah. Seulas senyuman manis tak lupa dia berikan kepada pelanggannya yang baru saja datang.
"Siang. Reservasi atas nama Miranda Vincent Pramono. Kebetulan saya sudah janjian dengan beliau di sini," jawab Tania.
"Mari, ikuti saya."
Tania melangkah ke dalam restoran bintang lima. Suasana sekitar cukup sepi sebab para pengunjung yang datang ke sana bukanlah orang sembarangan. Kebanyakan dari mereka adalah kaum berdompet tebal bukan kalangan menengah ke bawah macam Tania.
Jantung Tania semakin lama semakin berdegup kencang saat kakinya yang jenjang melangkah mengikuti pelayan yang akan mengantarkannya ke meja tempat Miranda menunggu.
Bumi tempat Tania berdiri seakan berhenti berputar saat netranya menangkap sosok wanita paruh baya tengah duduk di kursi tepat di samping jendela besar dengan view kota Jakarta. Dan ... lebih mengejutkannya lagi, Miranda tidak seorang diri melainkan ada Jonathan sedang duduk manis di sebelah mantan ibu mertuanya.
"Nona, apa kita bisa lanjutkan lagi? Sepertinya Anda sudah ditunggu oleh Tuan dan Nyonya Jonathan."
Suara lembut wanita berseragam wanita membuat kesadaran Tania kembali. Ia berkedip beberapa kali dan berdehem guna mengumpulkan keberanian di dalam dada untuk bertemu kembali dengan Miranda, wanita jahat yang pernah menghancurkan rumah tangganya bersama suami tercinta.
"Selamat siang, Om, Tante. Maaf sudah membuat kalian menunggu terlalu lama."
Jonathan bangkit dari kursi dan menyambut hangat kedatangan Tania. "Tidak masalah, terpenting kamu datang ke sini, itu sudah lebih dari cukup bagi kami. Benar begitu, Ma?" kata pria itu sambil menoleh ke samping, di mana posisi Miranda berdiri.
__ADS_1
Dengan tergagap dan senyuman kaku Miranda menjawab, "B-benar. Yang penting ... k-kamu datang itu sudah membuat s-saya ... senang."
Untuk beberapa saat Tania terpaku di tempat. Mencoba mencerna kembali apa yang baru saja Miranda katakan.
Barusan Miranda bilang kalau dia senang bertemu dengan Tania? Sejak kapan? Bukannya sejak awal berpacaran dengan Xander, Miranda tak menyukai Tania. Lalu kenapa sekarang wanita paruh baya itu justru bilang dia senang karena dapat bertemu kembali dengannya. Benar-benar aneh.
"Duduk, Nia," kata Jonathan pada mantan menantunya.
Tania menganggukan kepala dan mengucap terima kasih. Kemudian menarik kursi di depan kedua mantan mertuanya. Kedua telapak tangan yang ada di atas meja saling mencengkeram satu sama lain. Entah kenapa dia bisa jadi gugup begini seakan dirinya telah melakukan sebuah kesalahan besar lalu diadili di hadapan semua orang.
Suasana tampak terasa tegang, terlihat dari air muka dua wanita beda generasi. Keduanya meremas telapak tangan masing-masing guna menyingkirkan kegugupan yang hinggap di diri.
"Ma, kamu bisa bicara sekarang dengan Tania. Gunakan waktu sebaik mungkin dan jangan sampai kamu menyesal karena tidak menggunakan waktu yang ada untuk mengatakan tujuanmu memintanya datang ke sini," bisik Joanthan terdengar lirih. Sengaja mengecilkan volume suara yang hanya dapat didengar oleh mereka saja.
Miranda menatap lekat iris biru milik sang suami. Lalu keduanya saling bertatapan satu sama lain. Tak lama kemudian mantan mertua Tania mengangguk mantap dan hati semakin yakin untuk meminta maaf pada wanita muda di depannya.
Miranda menelan saliva susah payah, mencoba membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba kering dan perih. Setelah dirasa cukup, barulah ia mengutarakan alasannya meminta Tania datang kemari.
"Tania, sebelumnya Tante mau ucapin terima kasih karena kamu udah bersedia meluangkan waktu di tengah kesibukanmu bekerja." Perkataan itu mengawali percakapan mereka di siang hari. Lalu, Miranda kembali berkata, "Sebenarnya ... Tante memintamu ke sini karena ... mau ... ehm ... mau ... meminta maaf padamu."
"Tante minta maaf atas semua kesalahan yang pernah diperbuat di masa lalu. Tante menyesal karena telah menghancurkan rumah tanggamu bersama Xander. Menjebakmu seolah-olah kamu dan Abraham berada dalam selimut yang sama hingga semua orang menganggap bahwa kamu adalah wanita murahan yang tega selingkuh di belakang suami. Padahal ... iru semua tidaklah benar. Kamu adalah wanita baik-baik dan istri setia. Kamu selalu menjaga kesucian diri dan pernikahanmu di saat Xander tidak ada di rumah. Semua yang terjadi di masa lalu adalah kesalahan saya. Sayalah yang bertanggung jawab atas semua yang terjadi menimpamu."
__ADS_1
***