Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu

Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu
Dewi Penolong


__ADS_3

"Ma, kamu harus bertahan. Ingat, masih banyak impian yang belum kita wujudkan bersama," ujar Jonathan sambil menggenggam tangan Miranda dengan erat.


Hatinya terasa sakit bagai ada ribuan jarum menusuk saat melihat Miranda tak sadarkan diri. Darah terus mengalir dari kepala dan pelipis wanita itu meski perawat sudah menghentikan pendarahan. Akan tetapi, rupanya usaha mereka sia-sia.


Jonathan berlari di sisi brankar Miranda, mengikuti ke mana para petugas medis membawa tubuh sang istri. Terus merapalkan do'a, bermunajat kepada Sang Pencipta agar memberi keselamatan pada sang istri. Sekesal apa pun dia pada Miranda, sejengkel apa pun dia melihat tingkah laku sang istri yang terkadang membuatnya pening tujuh keliling, tetapi pria keturunan Amerika itu tak sanggup bila harus ditinggal pergi istrinya untuk selama-lamanya.


'Tuhan, jangan pisahkan aku dengannya. Aku masih ingin menghabiskan masa tuaku bersama Miranda. Aku ... ingin dia tahu bahwa kami dikarunia seorang cucu laki-laki yang tampan dan pintar.' Itulah do'a yang Jonathan panjatkan kepada Tuhan.


"Maaf, Pak. Bapak tidak bisa ikut ke dalam. Silakan tunggu di luar." Salah seorang perawat menahan tubuh Jonathan saat pria itu hendak menerobos masuk ke ruang tindakan.


"Tapi, Sus. Istri saya-"


"Bapak tenang saja. Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menolong pasien." Tanpa banyak berbicara, perawat wanita itu menutup pintu ruang tindakan dan mulai membantu dokter menangani pasien.


Jonathan berjalan dengan langkah gontai menuju kursi tunggu yang disediakan pihak rumah sakit. Menjatuhkan bokongnya kemudian mengusap wajah dengan kasar.


"Ya Tuhan, kenapa bisa begini? Bagaimana bisa istriku tertabrak mobil?" Tampak raut frustasi terpancar jelas di wajah Jonathan.


Dia benar-benar merasa gagal sebagai suami karena tidak bisa menjaga Miranda dengan baik sesuai permintaan mendiang papa mertuanya dulu. Dada terasa sesak hingga rasanya pasokan oksigen di sekitar tak mampu memenuhi paru-paru.


"Apa yang harus kukatakan pada keluarga besar Miranda? Bagaimana jika mereka mengatakan bahwa aku adalah suami yang tidak becus menjaga istri." Membayangkan hujatan yang diterima dari sanak saudara Miranda di kota Yogyakarta, membuat Jonathan semakin frustasi dibuatnya.


***

__ADS_1


Tania berlari, menyusuri lorong rumah sakit yang cukup ramai. Akibat tidak terlalu fokus dengan keadaan sekitar, wanita itu beberapa kali menabrak para pengunjung rumah sakit dan nyaris menjatuhkan troli makanan milik pasien yang sedang didorong salah satu petugas medis.


"Maaf, Mbak. Saya tidak sengaja," ucap Tania. Setelah itu bergegas meninggalkan petugas yang hendak membagikan makan siang untuk pasien menuju meja informasi.


"Di mana pasien korban kecelakaan?" tanya Tania pada salah satu petugas yang berjaga di balik meja kerja.


"Atas nama Ibu Miranda?" Pertanyaan itu dijawab anggukan kepala Tania. "Baru saja dibawa ke ruang tindakan, Bu. Ruangannya ada di ujung sana."


"Baik, terima kasih." Tania langsung berlari ke arah yang ditunjukan kepadanya.


Wanita itu semakin mempercepat langkah kakinya ketika ekor matanya menangkap sosok Jonathan yang tengah menjambak rambutnya dengan sangat frustasi.


"Om Jonathan, bagaimana keadaan Tante Miranda? Apa dia baik-baik saja?"


Tania duduk di kursi panjang di sebelah mantan mertuanya itu. Dia memandangi pintu ruang perawatan yang masih tertutup rapat.


'Aku tahu perbuatan Tante Miranda di masa lalu adalah salah. Namun, kumohon, tolong selamatkan dia, Tuhan. Walaupun dia sudah menghancurkan rumah tanggaku dan memfitnahku di depan orang banyak, tapi aku ikhlas menerima itu semua sebagai ujian dalam hidupku. Aku juga ikhlas memaafkannya. Jadi kumohon, tolong selamatkan Tante Miranda.'


Beberapa menit kemudian, pintu ruang tindakan terbuka disusul seorang pria paruh baya mengenakan snelli putih yang membungkus tubuhnya. Pria itu menurunkan masker yang menutup hidung dan mulut ketika melihat dua orang bangkit dan menghampirinya.


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok? Apa dia baik-baik saja?" Terdengar sarat akan penuh kekhawatiran tatkala Jonathan menanyakan keadaan sang istri.


"Kondisi pasien kritis. Kami perlu melakukan tindakan operasi akibat kecelakaan yang terjadi menimpa pasien. Pasien mengalami patah tulang pada bagian tangan kanan dan kakinya. Pasien pun kehilangan banyak darah sehingga kami membutuhkan donor darah. Kebetulan stok darah di rumah sakit ini dan beberapa bank darah kosong untuk golongan darah O. Apa dari keluarga pasien ada yang mempunyai golongan darah sama dengab pasien?" tutur Dokter itu menjelaskan panjang lebar.

__ADS_1


Tubuh Jonathan lemas seketika saat mendengar informasi yang baru saja disampaikan oleh dokter Agam. Bagaimana bisa menjadi pendonor untuk Miranda, sedangkan golongan darahnya saja AB. Haruskah dia menghubungi ibunda Abraham, dan menanyakan apakah adik iparnya itu mempunyai golongan darah yang sama dengan Miranda?


Jonathan benar-benar tak bisa berpikie jernih saat ini. Otaknya yang pintar seketika nge-blank saat dihadapkan pada situasi genting seperti sekarang ini.


Tania yang berdiri di sebelah Jonathan maju satu langkah ke depan. Dengan penuh keyakinan dia berkata, "Dokter, golongan darah saya O. Anda bisa mengambil darah saya untuk diberikan kepada pasien. Sebanyak apa pun darah yang dibutuhkan, saya rela memberikannya."


Tanpa terasa air mata Jonathan jatuh berderai di antara kedua pipi. Wanita yang sempat dihina, dicaci maki dan dipermalukan di hadapan semua orang kini justru menjadi penyelamat Miranda. Sungguh, dia tak tahu harus berkata apa lagi menyaksikan sendiri betapa bersihnya hati Tania.


"Suster, bawa Ibu ini untuk dilakukan tes terlebih dulu sebelum mendonorkan darahnya pada pasien."


Tania mengikuti dengan patuh saat seorang perawat wanita membawanya menuju sebuah ruangan khusus yang digunakan seseorang untuk melakukan serangkaian pemeriksaan sebelum mendonorkan darah pada pasien. Serangkaian pemeriksaan itu meliputi pemeriksaan tekanan darah, nadi dan suhu. Kemudian mengambil sample darah untuk memeriksa hemoglobin si pendonor.


Di saat Tania sedang beristirahat di ruangan khusus pasca mendonorkan darahnya pada Miranda, Xander dan Arsenio berjalan mendekati Jonathan.


"Kakek Jo!" seru si Bocah Kecil bermata hazel.


Jonathan segera merentangkan kedua tangan menyambut Arsenio yang membawa tubuhnya dalam pelukan. "Halo, Cucuku. Kakek kangen banget sama kamu, Nak." Dia ciumi kening, pipi dan puncak kepala cucu tercinta penuh kasih sayang.


"Pa, gimana keadaan Mama? Aku bergegas ke sini setelah mendapat telepon Tania." Xander menyapu pandangan sekitar, mencari keberadaan sang mantan istri. "Apa Tania belum datang ke sini?"


Jonathan menggendong Arsenio dan mendudukannya di kursi panjang. Setelah itu, dia juga ikut duduk di sebelah bocah kecil itu. "Mamamu saat ini sedang berada di ruang operasi. Dia mengalami patah tulang pada bagian tangan dan kaki. Sementara Tania masih berada di ruang pemeriksaan. Mantan istrimu itu baru saja mendonorkan darahnya kepada Mamamu."


...***...

__ADS_1



__ADS_2