
"Tante Miranda? Syukurlah Tante sudah siuman." Bola mata Tania berkaca-kaca saat melihat mantan ibu mertuanya sudah sadarkan diri. Suara wanita itu pun terdengar gemetar ketika mengucap kalimat tersebut.
"Tania, sebenarnya kita sedang di mana? Kenapa kepala diperban dan kaki tante sakit sekali untuk digerakan?" Masih bertanya hal yang sama. Miranda menanti jawaban dari Tania.
Tania tersenyum getir. Tangannya yang lembut membelai puncak kepala Miranda dengan hati-hati. "Saat ini Tante sedang berada di rumah sakit. Tadi Tante mengalami kecelakaan dan langsung dilarikan ke sini. Untuk lebih jelasnya lagi, aku panggilkan dokter dulu, ya? Biar dokter yang menjelaskan secara detail kepada Tante. Kalau aku yang jelasin, takutnya salah kaprah."
Miranda hanya mengerjapkan mata. Setelah itu Tania berlari keluar ruangan dan memanggil tenaga medis yang bertugas merawat Miranda petang ini.
***
Tania berdiri di belakang dokter Agam yang tengah memeriksa kondisi Miranda pasca operasi. Seorang perawat wanita mencatat keluhan apa saja yang dirasakan sang pasien sambil memeriksa cairan infus dan mengatur oksigen yang berguna membantu pernapasan pasien.
"Akibat kecelakaan tadi siang membuat kaki dan tangan mengalami patah tulang. Bagian kepala pun mengalami cidera akibat menghantam aspal dengan keras. Beruntungnya tidak terjadi geger otak," pungkas Dokter Agam memberi penjelasan kepada Miranda. "Jadi untuk sementara waktu mobilitas Bu Miranda terbatas, tidak seaktif sebelumnya."
"Maksud Dokter ... s-saya cacat? Tidak bisa berjalan lagi seperti dulu?" tanya Miranda untuk memastikan. Dia benar-benar takut jika akhir hidupnya akan dihabiskan dengan duduk di kursi roda, tanpa bisa berjalan ke sana ke mari layaknya seekor burung yang terbang bebas ke atas angkasa."
__ADS_1
Dokter Agam tersenyum hangat. "Bukan cacat, Bu. Hanya istirahat sementara waktu sampai benar-benar kondisi Ibu pulih. Ibu akan cepat sembuh apabila rajin mengikuti fisioterapi."
"Oh ya, tadi juga Ibu sempat mengalami pendarahan hebat bahkan kami harus mencari pendonor yang mempunyai golongan darah sama dengan Bu Miranda. Akan tetapi, stok darah di rumah sakit dan bank darah, tak tersedia dengan golongan darah O. Namun, lagi dan lagi, Bu Miranda beruntung karena ada orang yang suka rela mendonorkan darahnya untuk Ibu."
Miranda menatap dokter Agam dengan penuh selidik. "Siapa orang itu, Dok? Pertemukan saya dengan dia sekarang juga. Saya ingin mengucap terima kasih kepadanya karena telah menyelamatkan nyawa saya."
Sampai detik ini Miranda belum tahu siapakah gerangan yang bersedia mendonorkan darah secara cuma-cuma kepadanya.
Dokter Agam memundurkan tubuhnya beberapa langkah ke belakang kemudian menggesernya ke samping hingga tubuh Tania yang sedari tadi bersembunyi di balik tubuh pria paruh baya dalam balutan jas dokter terlihat. Kepala wanita itu menunduk sambil meremas jemari tangan satu sama lain. Belum siapa jika Miranda tahu bahwa dirinyalah orang yang mendonorkan darah pada ibu kandung Xander.
"Wanita inilah yang telah menjadi Dewi Penolong Bu Miranda. Dia bersedia memberikan setetes darahnya demi menyelamatkan Anda. Bu Miranda beruntung sekali mempunyai menantu sebaik dan berhati Malaikat seperti Bu Tania," puji Dokter Agam sungguh-sungguh.
Tubuh Miranda membeku seketika. Matanya yang indah menatap lekat iris coklat dokter Agam, kemudian beralih memandangi mantan menantunya itu. Dia cukup terkejut atas informasi yang baru saja disampaikan oleh dokter penanggung jawabanya.
"Jadi ... kamu yang sudah menyelamatkan nyawa tante, Nia? Iya?" Tania hanya mengangguk pasrah menjawab pertanyaan Miranda.
__ADS_1
Detik itu juga air mata Miranda meluncur di antara kedua pipi. Ruangan yang semula sepi kini menjadi berubah ramai akibat suara isak tangis bersumber dari wanita kelahiran lima puluh lima tahun silam. Semakin besar penyesalan dalam diri wanita itu saat mengetahui kalau perempuan yang sangat dia benci dulu justru menjadi dewi penolongnya.
"Ya Tuhan. Ampunilah aku yang sempat menghina dan memfitnah perempuan baik macam Tania. Bukannya aku memperlakukan dia dengan baik layaknya menantu pada umumnya, aku justru merusak rumah tangga anak dan menantuku sendiri. Aku memang pantas menerima ini semua. Bahkan ujian yang Engkau berikan rasanya tidak cukup untuk membalas semua kejahatanku di masa lalu."
Tania bergegas mendekati Miranda. Dengan bibir gemetar wanita itu berkata, "Tante jangan bicara begitu, tidak baik. Bukankah kita sudah berbaikan, jadi jangan pernah mengungkit kenangan pahit di masa lalu." Jemari tangan wanita itu merangkum tangan sang mantan ibu mertua kemudian mencium punggung tangan Miranda dengan penuh cinta.
"Lagi pula, semua ujian yang Tuhan berikan kepada makhluk ciptaan-Nya hanya ingin menguji sejauh mana kita bersabar menghadapi cobaan ini. Bukan karena alasan lain. Aku yakin, kecelakaan yang Tante alami tidak ada kaitannya dengan perbuatan Tante di masa lalu. Jadi, sudah ya, jangan pikirkan masalah itu lagi. Aku tidak mau kalau Tante kenapa-kenapa. Kasihan Om Jonathan dan Xander bila melihat kondisi Tante semakin drop." Tania berusaha membujuk Miranda akan tak berpikiran negatif di saat tubuhnya belum sehat 100% pasca kecelakaan beberapa waktu lalu.
"Benar yang dikatakan oleh Bu Tania. Ingat, Bu Miranda baru saja dioperasi jadi masih banyak membutuhkan waktu istirahat agar kondisi segera pulih kembali. Sementara waktu jangan biarkan pikiran negatif bersarang di kepala Bu Miranda. Ingat, kesehatan Ibu jauh lebih penting dari segalanya."
Sadar jika tidak seharusnya berada di tengah Tania dan Miranda, dokter Agam memberi kode kepada perawat yang berada di sebelahnya untuk bersiap undur diri dari ruangan tersebut. Dia tidak mau menjadi orang ketiga yang ikut campur dalam urusan orang lain.
"Pesan saya cuma satu, perbanyak istirahat dan rajin mengikuti terapi fisiologi agar Bu Miranda dapat berjalan leluasan tanpa dibantu skrup maupun kursi roda. Baiklah, untuk kunjungan kali ini sampai di sini saja. Sampai jumpa lagi, Bu Tania dan Bu Miranda. Selamat sore." Kemudian lelaki paruh baya itu pamit undur diri dari hadapan Tania dan Miranda.
...***...
__ADS_1