Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu

Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu
Mau Apa Om Jahat Ke Sini?


__ADS_3

Xander tidak dapat memejamkan matanya. Sedari tadi membolak balikan badan, mencari posisi nyaman agar segera terlelap. Namun sayang, matanya yang hazel tidak dapat terpejam.


"Fuuck!" umpat Xander kesal sembari melempar guling yang ada dalam pelukan terjatuh ke atas lantai.


Semenjak berpisah dari Tania, hanya guling itu sajalah yang setia menemani kesendiriannya. Walaupun tidak dapat memberikan belaian kasih sayang layaknya seorang istri kepada suami, tapi setidaknya mampu menghangatkan tubuhnya di saat keheningan menyapa.


Pertemuannya dengan Tania tadi siang terus menari indah di pelupuk mata. Terlebih saat Xander mendengar sendiri bahwa Arsenio memanglah darah dagingnya. Dalam tubuh bocah kecil berwajah tampan rupawan mengalih darahnya juga.


Sesaat merutuki kebodohannya karena sempat mengatakan Arsenio adalah anak haram padahal anak kecil berusia enam tahun adalah anak kandungnya sendiri. Dia tercipta dari cairan kenikmatan yang disemburkan Xander di dalam rahim Tania.


"Xander, kamu benar-benar bodoh! Bisa-bisanya mengatakan hal buruk tentang anakmu sendiri. Pantas saja dia membenciku, toh aku sendiri memang pantas untuk dibenci. Ayah macam apa yang tega menghina darah dagingnya sendiri." Timbul penyesalan dalam diri ketika mengingat pertemuan mereka di taman beberapa waktu lalu. "Tuhan, maafkan aku karena pernah menghina anakku sendiri."


Tangan kekar itu meraba nakas, mencari benda pipih berukuran 6.5 inci di atas sana. Setelah menemukan benda yang dicari, Xander segera menghubungi nomor seseorang.


"Halo, Ibrahim. Aku mau kamu mencari alamat Tania dan mengirimkannya kepadaku!" titah Xander setelah sambungan telepon terhubung.


Di seberang sana, tampak Ibrahim sedang mencoba mencerna semua perkataan Xander dalam keadaan masih mengantuk terlihat jelas dari kedua matanya yang masih terpejam. Waktu sudah menunjukan pukul dua belas malam jadi wajar saja apabila lelaki itu dalam keadaan setengah sadar.


Merasa kesal karena tidak mendapat respon dari sang asisten, Xander kembali berkata dengan meninggikan satu oktaf nada suaranya. "Ibrahim, segera kirimkan alamatnya sekarang juga! Jika tidak maka aku akan meminta Papa memotong gajimu sebesar 30%." Suara menggelegar itu sontak membuat Ibrahim tersentak bahkan ia harus menjauhkan telepon genggam itu dari telinga. Kelopak mata terbuka lebar. Seketika nyawanya kembali terkumpul ketika Xander berniat memotong gajinya sebesar 30%.


"J-jangan potong gaji saya, Tuan! Saya--"

__ADS_1


Belum selesai Ibrahim berbicara, Xander telah lebih dulu mematikan sambungan telepon.


Terdengar helaan napas kasar bersumber dari asisten pribadi Xander. "Kalau udah ada maunya ngebet banget mirip kucing sedang biraahi, ingin segera mendapat pelepasan. Apa dia lupa kalau aku ini manusia biasa butuh istirahat setelah seharian lelah bekerja?" Ibrahim mengeluh, pasalnya dia baru bisa tertidur pukul setengah dua belas tadi. Lelaki itu sibuk mengerjakan tugas yang diberikan Jonathan kepadanya. Namun, baru saja matanya terpejam dering ponsel membuatnya kembali terjaga.


Tidak ingin gajinya betulan dipotong Xander, Ibrahim segera melaksanakan titah sang majikan. Kakinya menjejak ke lantai, kemudian berjalan dengan langkah sedikit limbung mendekati meja kerjanya.


Jemari tangan menari indah di atas keyboard, mencari alamat mantan istri Xander. "Untung aja aku masih menyimpan rapih semua data pribadi Tuan Arsen hingga tak perlu repot-repot meminta bantuan Bobby untuk menyelidikannya. Tidak sampai hati jika aku mengganggu waktu istirahat orang lain." Ia sendiri merasa kesal akibat waktu istirahatnya diganggu orang lain apalagi jika dirinya mengganggu Bobby hanya sekadar meminta rekan kerjanya itu mencarikan alamat Tania saat ini. Meskipun posisinya lebih tinggi, tetap saja tidak tega jika merepotkan orang lain. Selama masih bisa mengerjakan sendiri maka akan ia kerjakan tanpa bantuan siapa pun.


Masih dengan posisi duduk, Ibrahim mengetikkan alamat lengkap kediaman Tania dan Arsenio saat ini. [Apartement Harmoni. Jln. Author Senja_90. No unit apartemen 802.]


Xander tersenyum saat telepon genggam miliknya berbunyi. Sangat yakin jika pesan itu berasal dari Ibrahim.


Senyuman semakin megembang saat bola matanya bergerak, membaca setiap kalimat yang tertera di layar ponsel. [Oke, thanks!] balasnya singkat.


Kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur yang nyaman dan empuk dengan kedua tangan terlipat di bawah kepala. Pandangan mata menatap langit-langit kamar. Sekelebat wajah cantik sang mantan terindah tergambar di sana.


"Besok aku harus menemui mereka. Apa pun yang terjadi aku tetap akan datang walau kehadiranku tidak diharapkan Tania maupun Arsenio." Xander sudah membulatkan tekad ingin mengunjungi Tania dan Arsenio besok pagi. Tidak peduli jika kedatangannya mendapat penolakan keras dari anak tercinta.


Keesokan harinya, Xander melajukan kendaraan roda empat miliknya ke sebuah gedung pencakar langit yang berada di kota Jakarta. Memang bukan kawasan elite dengan harga sewa pertahun mencapai ratusan juta rupiah, tapi setidaknya cukup nyaman untuk ditinggali.


Bermodalkan alamat yang dikirimkan Ibrahim tadi malam, Xander mengayunkan kakinya yang jenjang menuju lantai delapan. Sepanjang jalan menuju unit apartemen Tania, lelaki berperawakan kekar dengan tinggi badan kurang lebih 180 cm mengatur napas guna menyingkirkan kegelisahan yang terus bergelayut manja di dada. Telapak tangin berkeringat, detak jantung pun memompa lebih cepat dari biasanya.

__ADS_1


"Come on, Xander. Jangan jadi lelaki cemen! Masa mau ketemu anakmu malah grogi," ucap Xander pada dirinya sendiri.


Sejujurnya, Xander khawatir akan mendapat penolakan dari Tania dan tentunya Arsenio--anaknya sendiri meski ia mempunyai tingkat kepercayaan diri yang tinggi tetap saja ada rasa cemas bersembunyi di dirinya.


Kini Xander berada tepat di depan pintu masuk unit apartemen Tania. Akan tetapi, ia tidak langsung menekan bel pintu lelaki bermata hazel lebih dulu menarik napas dalam, menahannya aebentar kemudian mengembuskan secara perlahan guna mengumpulkan keberanian dalam dada.


"Aku yakin pasti bisa!" tutur Xander menyemangati dirinya sendiri. Lantas dia mengulurkan tangan ke depan, menekan bel pintu beberapa kali berharap penghuni apartemen itu membukakan pintu.


Daun pintu terbuka diikuti kemunculan seorang anak kecil di sana. Xander dapat melihat sepasang mata hazel Arsenio menyiratkan ketidaksukaannya sesaat setelah membuka pintu.


Dagu terangkat ke atas, kedua tangan terlipat di depan dada. Dengan ketus Arsenio berkata, "Mau apa Om Jahat datang ke sini? Berniat menyakiti Mamaku lagi? Jangan harap aku akan membiarkan itu terjadi karena sampai kapan pun Om ataupun Tante Jahat enggak pernah bisa menyentuh Mamaku!"


Bagai mendengar suara petir di siang hari, tubuh Xander membeku di tempat seketika. Ucapan Arsenio layaknya sebilah mata pisau yang sangat tajam melesak mengenai jantung. Sungguh tidak menduga jika bocah kecil yang pernah dia anggap sebagai anak haram akan berani mengatakan hal demikian di hadapannya.


Tania yang saat itu sedang menyiapkan makanan terlonjak dati tempatnya saat ini bahkan nyaris menjatuhkan piring ke lantai. Akan tetapi, dengan sigap ia mencengkeram piring itu hingga tak jatuh ke bawah. Sementara Surti sedang sibuk mengurusi keperluan sekolah Arsenio jadi tidak mendengar keributan yang terjadi di depan pintu.


"Sayang, kamu kenapa? Kenapa berteriak kencang, Nak?" tanya Tania sesaat setelah ia mendekati anak tercinta. Alih-alih menjawab pertanyaan sang mama, Arsenio bergeming di tempat. Tatapan matanya memandang lurus ke depan dengan tatapan sinis.


Tania mengikuti arah pandang anaknya. Dan alangkah terkejutnya saat mendapat sosok Xander di depan sana. "Xander?" ucapnya dengan bola mata sipit yang melebar sempurna.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2