Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu

Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu
Pertemuan Pertama dengan Arsenio


__ADS_3

"Aah, akhirnya selesai juga. Kirain akan selesai dalam waktu tiga puluh menit sampai satu jam, ternyata bisa memakan waktu hampir dua jam-an lamanya." Fadil, ketua tim IT perusahaan tempatnya bekerja berseru dengan suara lantang. Kedua tangan pria itu terangkat di udara sedangkan punggungnya ia sandarkan di sandaran kursi kerjanya. Ia baru saja membantu Arsenio memperkuat sistem pertahanan perusahaan.


Farhan, saudara kembar Fadil menyahut, "Tidak masalah mau satu jam ataupun dua jam selesainya, terpenting pekerjaan kita diselesaikan dengan baik tanpa ada kesalahan sedikit pun. Sudah untung tidak diminta lembur oleh Little Boss." Pria berusia dua puluh enam tahun menoleh ke arah Arsenio saat mengucap kalimat terakhir.


Arsenio yang masih asyik menyesap susu kotak kesukaannya sambil mengawasi layar monitor di depannya tersenyum mendengar ucapan kedua anak buah sang papa. "Kalau Arsen minta Paman Kembar lembur untuk mengurusi pekerjaan, yang ada nanti Arsen malah dimarahi Mama. Mama pasti marahin Arsen karena bekerja tidak tahu waktu sementara Paman Kembar tahu kalau anak seusia Arsen saat malam hari tiba, harus sudah ada di rumah, mengerjakan pekerjaan rumah yang diberikan guru bukan mengerjakan urusan yang lain."


"Arsen tidak mau Mama marah, Paman, jadi sebisa mungkin kita kerjakan sebelum sore tiba agar malam harinya Arsen bisa belajar di rumah," sambung Arsenio.


"Paman Farhan setuju dengan ucapanmu, Little Boss. Anak kecil seusiamu memang harus lebih fokus dalam pendidikan bukan fokus dengan urusan yang lain. Jangan seperti saudara kembar paman yang satu ini. Saat seusiamu, kerjaannya hanya bermain saja sampai Mama kami mengomelinya tiada henti. Telinga paman sampai panas mendengar Mama kami yang terus memarahinya," sindir Farhan seraya menjulurkan lidah ke depan. Sangat senang sekali menggoda saudara kembarnya itu apalagi sampai membongkar aib masa lalunya di depan orang lain. Bagi pria berkulit sawo matang, ada kepuasan tersendiri kalau sampai keburukan saudara kembarnya itu diketahui banyak orang.


Tak suka dengan perbuatan Farhan, Fadil melempar bantal kecil yang ia letakkan di belakang tubuhnya. Bantal kecil itu sengaja dijadikan penyangga agar bagian punggungnya tidak terasa pegal akibat terlalu lama duduk di kursi. "Dasar bawel! Hobi sekali membuka aib saudaranya sendiri. Itu hanya bagian dari masa lalu, sekarang aku sudah berubah, tidak lagi memikirkan hal lain selain urusan pekerjaan. Jadi, berhentilah mengumbar aib masa laluku!"


Arsenio meluruhkan tubuhnya yang mungil dari kursi, kemudian berjalan mendekati tempat sampah yang ada di sudut ruangan. Ia membuang kotak susu kosong yang sudah habis dihisap olehnya. Setelah itu kembali ke tempatnya semula.


"Sudah, sudah, tidak boleh bertengkar lagi. Arsen tidak mau Paman Kembar berkelahi hanya karena masalah ini." Bocah laki-laki itu mencoba melerai dua bersaudara yang jago di bidang IT. Ia melirik jam dinding yang ada di ruangan. Jarum jam menunjukan pukul tiga sore dan itu artinya sudah lebih dari tiga jam ia berada di kantor sang kakek. "Pekerjaan kita sudah selesai dan waktunya Arsen pulang ke rumah. Biasanya Mama akan menelepon Arsen jam lima sore nanti jadi Arsen mesti ada di rumah sebelum Mama menghubungi."


"Oh ya, besok kita kumpul lagi seperti biasa, memastikan kembali apa ada sistem pertahanan yang baru dipasang oleh kita dapat dibobol orang lain atau tidak. Jika tetap berhasil dibobol maka Arsen harus mengerjakan plan B yang sudah kita jelaskan beberapa hari lalu," sambung Arsenio dengan nada serius. Untuk urusan pekerjaan, ia memang selalu bersungguh-sungguh. Sifatnya itu menurun dari sang papa, yang tak pernah main-main jika menyangkut urusan pekerjaan. Jadi jangan heran kalau perusahaan yang didirikan Jonathan berkembang pesat saat berada dalam kendali Xander.

__ADS_1


Fadil dan Farhan yang sempat terlibat perkelahian kecil seketika terdiam. Lalu keduanya saling memandang satu sama lain. Kembar bersaudara itu mengangguk hampir bersamaan.


"Siap, Little Bos!" sahut keduanya hampir bersamaan.


Arsenio memasang tas ransel di punggung lalu mengambil tempat minum motif kartun kesayangan yang sempat ia taruh di atas meja. "Arsen mau pulang dulu. Sampai ketemu lagi besok. Dadah Paman Kembar." Jari mungil itu melambai di udara.


Arsenio berjalan sambil bersenandung lirih menyanyikan lagu kesukaannya. Menyusuri lorong sepi menuju ruangan yang sementara waktu ini digunakan Jonathan untuk meng-handle perusahaan selama Xander berbulan madu di luar negeri.


Di saat bersamaan, rupanya Aura pun hendak menemui Jonathan di ruangannya. Kakinya yang jenjang dibungkus sepatu heels setinggi lima centi meter terhenti saat melihat anak kecil berjalan seorang diri menyusuri lorong perkantoran yang sepi. Ia mengernyitkan kedua alis kala melihat wajah tampan itu begitu mirip dengan seseorang.


"Sebaiknya aku samperin saja dia, daripada mati penasaran." Maka Aura mempercepat langkah kakinya, mendekati anak kecil yang sedang berjalan di depannya.


"Adik kecil?" ujar Aura yang mana suara lembut itu berhasil menghentikan langkah kaki Arsenio. Si bocah kecil itu menoleh ke sumber suara. Mendongakkan kepala demi melihat siapa orang yang memanggil dirinya.


Jantung Aura berhenti berdetak. Bumi tempatnya berpijak seolah tak lagi berputar pada porosnya saat sepasang matanya menatap iris hazel milik anak kecil itu. Ia membeku di tempat selama beberapa saat.


"Tante panggil aku? Ada apa?" tanya Arsenio tanpa mengalihkan matanya dari sosok tinggi di depan sana.

__ADS_1


"Apa Tante butuh sesuatu?" Kembali Arsenio bertanya saat tak mendapat respon apa pun dari Aura. Ia sampai melambaikan tangannya yang mungil di depan wajah Aura.


Lamunan panjang terhenti saat telapak tangan Arsenio melambai di udara. Aura menggelengkan kepala demi mengembalikan kesadarannya.


"Tante kenapa? Apa Tante tersesat? Mau Arsen antar ke ruangan siapa? Kebetulan Arsen sedikit banyak tau ruangan para pekerja di kantor ini."


Aura mengukir senyum di sudut bibir. Ia sedikit membungkukan badan demi mensejajarkan tinggi badannya dengan Arsenio. "Tante tidak tersesat, kok. Hanya saja tadi tante cukup terkejut saat tanpa sengaja melihatmu ada di sini. Ehm, kalau boleh tau, kamu siapa? Dan kenapa ada di kantor ini? Apa orang tuamu bekerja di sini juga?"


Arsenio memandang Aura dengan lekat. Hampir setiap hari berkunjung ke perusahaan, tetapi mengapa baru kali ini bertemu dengan wanita cantik yang usianya tak jauh berbeda dari sang mama. Kecantikannya pun tak kalah jika dibandingkan dengan mama tercinta.


Mata memicing tajam. Sikap waspada Arsenio tunjukan di depan Aura sebab khawatir wanita asing itu punya niat jahat kepadanya.


Dengan suara lantang Arsenio menjawab, "Namaku Arsenio, anak Mama Tania dan Papa Xander. Cucu dari Kakek Jonathan. Tante sendiri, siapa?"


Detik itu juga tubuh Aura rasanya didorong seseorang dari tebing yang sangat tinggi. 'Jadi, anak ini anaknya Tania dengan sepupunya Abraham yang bernama Xander?' Aura bermonolog dengan sepasang mata melotot seakan-akan mau copot dari tempatnya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2