
Tania sedang berada di perusahaan tempatnya bekerja. Siang ini ia dan beberapa karyawan perusahaan diminta hadir untuk membahas soal perkembangan proyek yang dimenangkan oleh Johan Architecture. Ketua tim diminta menjabarkan sejauh mana kemajuan dari pembangunan tersebut.
"Sejauh ini pembangunan mall milik perusahaan V Pramono Group telah mencapai sekitar 20%. Para pekerja, bekerja dengan giat selama berada di bawah pengawasan mandor. Jika melihat dari progresnya saat ini, tampaknya akhir tahun depan mall itu sudah dapat berdiri megah dan dikunjungi para pengunjung. Selama pembangunan, tidak ada kendala apa pun sehingga para pekerja dapat bekerja dengan baik. Demikianlah paparan yang dapat saya sampaikan. Terima kasih."
Ikbal, ketua tim yang bertanggung jawab terhadap proyek pembangunan milik salah satu klien penting perusahaan tersenyum lebar karena dapat mempresentasikan di hadapan banyak orang tanpa ada keraguan sedikit pun. Pun begitu dengan Tania. Wanita itu amat sangat bahagia karena tim yang ada di bawah naungannya dapat menjalankan tugas dengan baik.
Tania mengangkat ibu jari ke udara dan berkata dengan lirih. "Good job, Bal!" Ikbal hanya mengangguk pelan sebagai balasannya.
Johan cukup terkesan dengan ketua tim yang ditunjuknya. Tidak sia-sia ia memberi kesempatan kepada mereka untuk terjun langsung menangani proyek tersebut.
"Bagus. Saya puas dengan kinerja kalian semua. Usaha dan kerja keras kalian memang luar biasa," ucap Johan sambil memberi tepuk tangan sebagai apresiasinya. "Baiklah, meeting kali ini kita akhiri sampai sini saja. Sekali lagi, terima kasih."
Para hadirin membereskan alat tulis mereka dan satu per satu meninggalkan ruang meeting. Kini, di ruangan itu hanya tersisa Johan, Joana dan Tania.
"Tania, besok kamu dan Joana ikut saya perjalanan dinas ke Kalimantan selama lima hari. Jangan lupa bawa semua rancangan desain serta dokumen penting yang saya minta kemarin. Saya tidak mau saat tiba di sana, ada satu berkas yang tertinggal. Mengerti?" ujar Johan sambil mengancingkan jas yang membalut tubuhnya.
Tania yang saat itu sedang membuka IPad dan mengawasi perkembangan proyek pembangunan mall milik perusahaan Jonathan terkejut setengah mati. Pasalnya besok adalah jadwal Tania mendaftarkan Arsenio ke sekolah yang baru. Walaupun pendaftaran dilakukan secara online, tetap saja ia harus datang ke sekolahan tersebut untuk menilai sendiri apakah lingkungan di sana benar-benar nyaman bagi Arsenio bersekolah.
Reflek Tania berseru dengan suara lantang. "Kenapa mendadak, Pak? Bukankah rencananya akhir bulan?"
"Memang benar. Namun, baru saja saya mendapat info kalau proyek kita di Kalimantan mengalami masalah dan saya, sebagai pemimpin perusahaan harus segera menyelesaikan masalah itu. Saya sudah memerintahkan orang kepercayaan untuk mengurusi masalah yang terjadi di sana, tapi hasilnya nihil. Oleh karena itu, saya terpaksa turun tangan dan meminta kalian berdua ikut denganku," tutur Johan panjang lebar.
"Kenapa, Tania? Kamu ada urusan keluarga hingga tak bisa ikut bersama saya dan Joana?" tebak Johan. Tidak biasanya Tania menolak perintahnya secara mentah-mentah.
Tania menatap Joana dan Johan secara bergantian. Ingin rasanya ia menolak perintah Johan, tapi bagaimana jika ternyata pria paruh baya itu kecewa jika seandainya ia mengatakan yang sebenarnya? Jenjang karirnya sedang melesat pesat. Sekali saja melakukan kesalahan maka berimbas pada karirnya.
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa, Pak. Saya hanya terkejut saja dengan informasi yang baru saja didengar. Baiklah, jika Bapak meminta saya ikut maka saya akan berangkat." Tania menjawab dengan suara mantap meski di dalam hati ada sedikit keraguan.
***
Tania kembali ke meja kerjanya dengan langkah gontai. Menumpu dagu menggunakan punggung tangan, pikiran wanita itu melayang ke angkasa.
"Bagaimana ini? Siapa yang dapat menggantikanku datang ke sekolahan besok? Mbak Surti? Mana bisa kuandalkan. Dia pasti repot jika harus ke sekolahan sekaligus menjaga Arsen." Tania mengacak-acak rambutnya dengan frustasi. "Argh! Kenapa sih harus ada kendala segala. Hu ... menyebalkan sekali!"
Disaat Tania kembali sibuk mencari jalan keluar dari permasalahan yang membelenggunya, tiba-tiba wajah Xander terlintas di benak wanita itu.
"Kenapa aku enggak minta tolong Xander aja untuk datang ke sekolahan." Wajah Tania kembali berseri bagai mentari yang sedang bersinar di siang hari. "Ya, aku yakin, Xander pasti bisa menggantikanku."
Tak ingin membuat waktu terlalu lama, Tania segera telepon genggam miliknya dan mencari kontak sang mantan suami.
"Halo, Xander." Itulah kalimat pertama yang Tania ucapkan kala sambungan telepon terhubung.
Tania menggelengkan kepala. "Enggak, Arsenio baik-baik aja." Ia menjeda kalimatnya, mencari cara bagaimana mengatakan pada Xander jika dirinya membutuhkan bantuan pria itu.
Xander mengusut butiran peluh yang mengalir di leher menggunakan handuk kecil tanpa melepaskan benda pipih berukuran 6.5 inci dari daun telinga. "Kalau ada yang mau dibicarakan, katakan aja, jangan ragu."
"Ehm ... begini, besok aku diminta Pak Johan untuk pergi ke Kalimantan karena proyek yang kami tangani ada kendala. Di waktu bersamaan, aku pun hendak pergi ke sekolah untuk menyerahkan berkas dan formulir pendaftaran Arsen. Aku enggak bisa minta bantuan Mbak Surti karena dia pasti repot mengerjakan dua tanggung jawab dalam waktu bersamaan. Kalau seumpama aku minta bantuanmu, bagaimana? Apa kamu bisa menggantikanku menyerahkan semua berkas tersebut?" Tania menggigit kuku jarinya usai menyampaikan tujuannya menelepon Xander.
Sejujurnya Tania enggan sekali merepotkan orang lain. Ia selalu berprinsip selama bisa meng-handle semuanya kenapa harus meminta bantuan orang terlebih orang itu adalah mantan suaminya sendiri.
"Kamu yakin melimpahkan itu semua kepadaku? Enggak takut aku membuat kesalahan dan justru merugikan Arsenio dan dirimu sendiri?"
__ADS_1
"Tentu saja aku yakin! Selain kamu dan Mbak Surti, enggak ada orang lain yang bisa kupercaya di dunia ini. Kamu adalah papa kandung Arsen dan aku yakin, kamu tidak akan bertindak bodoh."
Terhentak di dalam dada mendengar jawaban itu. Desiran halus tengah Xander rasakan. Sama sekali tidak menduga Tania begitu mempercayainya.
"Namun, jika kamu tidak bisa, tidak masalah. Aku akan meminta Mbak Surti mengurusi semuanya," sambung Tania saat tak mendengar suara Xander di seberang sana.
Sebuah senyuman datar muncul di ujung garis bibir. "Bagaimana kamu bisa berpikiran begitu?" sahut Xander. "Jangan langsung menyimpulkan sesuatu jika belum tahu kebenarannya. Yang ada, kamu akan rugi sendiri."
"Seharusnya ucapan itu kamu tujukan untuk dirimu sendiri, Xander. Apa kamu tidak ingat bagaimana dulu kamu marah kepadaku dan menghinaku dengan kata-kata pedas saat melihatku berada di kamar yang sama dengan Abraham? Padahal semua yang kamu lihat tidak semuanya benar!" balas Tania tertawa sinis.
Perkataan itu sukses membungkam mulut Xander saat itu juga. Senjata makan tuan, gerutunya dalam hati.
"Kapan kamu berangkat?"
"Besok pagi, pukul sembilan. Namun, aku harus berada di bandara dua jam sebelum keberangkatan."
"Baiklah, serahkan saja semuanya kepadaku. Berkas penting milik Arsenio tolong titipkan saja pada Mbak Surti, besok pagi aku datang ke apartemen untuk mengambilnya. Setelah itu baru pergi ke sekolah."
Dengan wajah semringah, Tania menjawab, "Oke. Terima kasih, Xander, dan maaf kalau merepotkan."
"Nope! Ini udah jadi kewajibanku sebagai orang tua Arsenio juga. Safe flight!"
Kembali menghela napas panjang dan berat, Xander meletakkan telepon genggam miliknya ke dalam saku celana. Kini ingatannya kembali akan kenangan pahit di masa lalu.
"Udah tujuh tahun berlalu, tapi rupanya Tania belum bisa melupakan itu. Sudahlah, tak apa. Terpenting aku sudah mengakui kesalahanku dan mencoba memperbaiki semuanya. Semoga aja jalan untuk rujuk terbuka lebar."
__ADS_1
...***...