Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu

Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu
Mungkinkah Ibu Kandung Arsenio adalah Tania?


__ADS_3

"Kenapa Mama menghancurkan pernikahan dengan siasat licik Mama?" tanya Xander sekali lagi. Ia membutuhkan penjelasan dari bibir ibu kandungnya sendiri.


Detik itu juga tubuh Miranda mundur beberapa langkah ke belakang. Tidak menduga jika rahasia yang disimpan selama enam tahun akhirnya terbongkar juga.


"Ada apa ini?" tanya Jonathan sembari berjalan menghampiri Xander dan Miranda. Lelaki paruh baya dalam balutan tuxedo memandangi anak serta istri tercinta secara bergantian.


Xander menoleh ke arah Jonathan dengan tatapan sendu disertai kelopak mata berkaca-kaca. "Pa, selama ini rupanya Tania enggak selingkuh. Mama-lah yang menjebak Tania dan Abraham enam tahun lalu. Mama telah menaruh obat tidur ke dalam cake dan memberikannya pada Tania dan mengarang cerita seolah-olah dia berselingkuh di belakangku."


"Mama tega menghancurkan rumah tanggaku, memisahkan aku dengan satu-satunya wanita yang kucintai. Mama jahat, Pa," adu Xander seperti anak kecil yang tengah mengadu sesuatu pada orang tuanya. Tanpa bisa ditahan buliran kristal meluncur begitu saja di antara sudut matanya. Hati pria itu hancur berkeping-keping mengetahui kebenaran yang tersimpan rapat selama ini.


Ada rasa penyesalan dalam diri Xander karena dengan mudahnya percaya begitu saja atas apa yang dilihat oleh mata kepalanya sendiri tanpa memberi kesempatan pada Tania maupun Abraham untuk menjelaskan semuanya. Akibat cemburu buta membuat pria itu tak dapat berpikir jernih dan mengambil keputusan dalam keadaan emosi.


Jonathan masih mematung di tempat. Ia masih syok akan berita yang baru saja disampaikan oleh anak semata wayangnya. Tidak menduga jika Miranda--istrinya tega menghancurkan pernikahan anak semata wayang mereka.


Miranda mengerjapkan mata beberapa kali. "Mama ... melakukan itu demi kebaikan kita semua. Tania adalah cewek matre, yang hanya mengincar harta kekayaaan kita saja. Dia pura-pura mencintai Xander padahal jauh-jauh hari sudah menyusun rencana untuk merebut kekayaan kita. Aku sudah hapal trik licik yang sering digunakan oleh wanita miskin dan rendahan seperti mereka."


Semakin hancurlah hati Xander saat mendengar perkataan Miranda. Semua tuduhan sang mama tidaklah benar adanya.


Tania bukanlah wanita matre yang mengincar harta kekayaan keluarga Vincent maupun Pramono. Dia adalah perempuan baik-baik, setia dan tulus mencintai Xander. Sekalipun Xander adalah orang miskin, Tania tetap bersedia menikah dengannya asalkan rumah tangga itu dibina atas dasar saling percaya satu sama lain. Namun, ternyata Xander sendirilah yang tak menghancurkan pernikahan mereka.


Ekor mata Jonathan terbelalak sempurna. Pria itu menatap dengan sorot mata penuh ketidakpercayaan. "Hanya karena alasan itu kamu tega menghancurkan rumah tangga anakmu sendiri? Kamu benar-benar tega, Ma. Papa enggak nyangka kalau kamu akan berbuat licik demi memisahkan Xander dari perempuan yang dicintainya."


"Apa kamu pikir seorang perempuan yang mempunyai kekayaan melimpah ruah, pekerjaan baik dan dari kalangan atas menjamin bahwa dirinya lebih terhormat? Tentu aja jawabannya enggak. Buktinya wanita pilihanmu yang selalu kamu puja malah bercinta dengan lelaki lain padahal statusnya adalah calon tunangan dari Xander. Jadi, dari kasus ini kita bisa tahu jika kekayaan bukanlah segala-galanya." Jonathan berkata panjang lebar, berharap Miranda mendapat sedikit pencerahan, tidak menjadikan kekayaan sebagai tolak ukur kebahagiaan seseorang.

__ADS_1


Lidya yang sedari tadi bergeming semakin merasa tersindir. Belum usai kekesalannya karena video panas yang beredar kini ia kembali dibuat geram akan sindiran halus yang ditujukan kepadanya.


Dasar Tua Bangka! Berani-beraninya dia menghinaku, gerutu Lidya dalam hati. Ia mengepalkan kedua tangannya di samping badan. Rahang wanita itu pun mengeras sempurna menahan gejolak emosi yang siap meledak kapan saja.


"Tapi segala-galanya butuh uang, Pa!" seloroh Miranda.


Jonathan terkekeh pelan. Kepalanya menggeleng mendengar ucapan Miranda. "Memang benar. Namun, apakah dengan uang bisa membeli kebahagiaan?" skaknya. Yang mana perkataan itu sukses membungkam mulut Miranda seketika.


***


Sementara itu, Tania masih memandangi sebuah meja panjang di belakang layar. Kemunculan bekas cup es krim rasa cokelat yang tergelatak di lantai menghadirkan kecurigaan pada diri wanita cantik bermata sipit. Terlebih bagian tutup meja yang menjuntai ke bawah bergerak sedari tadi membuat Tania semakin dibuat penasaran ada gerangan apakah di bawah sana?


Tania menoleh ke samping, memberikan kode pada Joana lewat tatapan mata. Beruntungnya rekan kerjanya itu mengerti arti dari tatapan mata Tania.


Tatkala sudah sampai di tempat yang dituju, Tania berhenti sejenak dan kembali menatap sesuatu di depan sana dengan perasaan campur aduk. Di bawah sana enggak mungkin, Arsen, 'kan? Anakku enggak mungkin melakukan itu semua. Wanita bertubuh semampai bermonolog.


Tak ingin terus dibuat penasaran, Tania mengulurkan tangan ke depan, kemudian menyingkap bagian samping penutup meja. Bola mata terbelalak sempurna saat mendapati sosok anak kecil yang sangat berarti dalam hidupnya.


"Arsenio? Sedang apa kamu di sini, Nak?" tanya Tania menatap kebingungan.


Merasa namanya dipanggil, tentu saja membuat sang empunya nama menoleh ke sumber suara. Tersenyum menyeringai seperti anak yang tertangkap basah telah melakukan kesalahan besar. Pinggiran mulut dipenuhi sisa-sisa es krim yang belum sempat dibersihkan karena terlanjur ketahuan.


"Eeh ... Mama." Kedua sudut bibir Arsenio tertarik ke atas seakan membentuk busur panah yang indah. "Aku ke sini karena ingin membalas perbuatan Om dan Tante jahat karena mereka pernah menyakiti Mama. Aku ingin membuat mereka malu hingga tak ada kepikiran sama sekali untuk melukai Mama lagi."

__ADS_1


"Apa?" pekik histeris Tania. "Bagaimana bisa kamu kepikiran melakukan perbuatan itu?" Wanita itu dibuat semakin tidak mengerti kenapa bisa Arsenio nekad melakukan perbuatan itu di depan semua orang.


"Ehm ... itu ...."


Percakapan mereka harus terhenti tatkala sekelompok pria bertubuh jangkung mengenakan pakaian batik masuk ke dalam ballroom hotel. Tampaknya mereka hendak merapikan kembali ruangan itu ke tempat semula.


Tania membungkukan sedikit badan, kemudian mengulurkan tangan ke hadapan Arsenio. "Kamu bisa jelaskan semuanya di rumah. Sekarang lebih baik kita tinggalkan dulu ruangan ini."


Arsenio mengangguk. Lantas, ia menerima uluran tangan Tania. Bocah kecil itu bangun dibantu sang mama.


Debaran jantung Tania berpacu layaknya mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi. Tubuh terasa beku saat jemari tangannya yang lentik membuka pintu ballroom dan mendapati sang mantan suami berjalan dengan langkah cepat melintas di depan ruangan. Disusul Jonathan yang mengekori di belakang.


Sadar bahwa ada seseorang yang sedang berdiri di ambang pintu ballroom, Xander menghentikan langkahnya dan menoleh pada dua sosok di depan sana.


"Tania?" ucap Xander lirih sambil memandang sendu pada Tania dan bocah kecil yang sedang menggenggam erat jemari tangan mantan istrinya itu.


Kesadaran Tania kembali. Lantas, ia buru-buru menarik tangan Arsenio, menjauhi pintu ballroom. "Sayang, kita pulang sekarang." Tanpa membantah sedikit pun, Arsenio menuruti perkataan Tania.


Namun, saat Tania dan Arsenio mulai meninggalkan ballroom hotel, dari jarak yang tidak terlalu jauh tampak seseorang memperhatikan ibu dan anak itu. "Mungkinkah ibu kandung Arsenio adalah Tania?"


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2