Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu

Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu
Tes DNA


__ADS_3

"Abraham? Kamu sedang apa di sini? Kenapa enggak bilang dulu kalau kamu mau ke perusahaan Paman?" tanya Jonathan dengan bola mata yang melebar sempurna. Lelaki itu cukup terkejut akan kedatangan keponakannya yang datang secara tiba-tiba.


Ketika Jonathan menunjukan ekspresi keterkejutan, begitu pun dengan Abraham. Lelaki yang usianya hanya terpaut satu tahun lebih muda dari Xander tampak membelalakan kelopak mata. Bukan karena pertanyaan Jonathan, tapi ia terkejut akan sosok anak kecil yang baru saja keluar dari ruang meeting. Bocah laki-laki berseragam TK tengah menyeruput susu kotak, berjalan santai menuju ruangan CEO.


Alih-alih menjawab pertanyaan Jonathan, Abraham mengajukan sebuah pertanyaan. "Paman, anak laki-laki itu ... d-dia? K-kenapa wajahnya mirip sekali dengan Xander? A-apakah dia adalah anaknya Xander? Lalu, siapa ibunya? Apakah ibu dari anak itu adalah Lidya?" cecar pria itu tanpa memberi kesempatan kepada sang paman. Sungguh ia tak menduga akan mendapat kejutan langka saat berkunjung ke perusahaan Jonathan.


Jonathan memandangi keponakannya dengan sorot mata tajam seakan ingin menghabisi Abraham saat itu juga. "Jangan bicara sembarangan, Abra! Paman tidak mau akibat ulahmu berita ini sampai tersebar keluar dan menyebabkan banyak wartawan berdatangan, meliput sesuatu yang tidak benar."


Seketika mulut Abraham bungkam tatkala merasakan hawa sekitar terasa dingin menyentuh permukaan kulit. Sejak dulu ia selalu takut jika Jonathan telah mengeluarkan jurus maut yang membuatnya terdiam dalam hitungan detik.


"Maafkan aku, Paman. Aku hanya terkejut saat melihat wajah anak kecil itu mirip sekali dengan Xander," tutur Abraham dengan menundukan wajah. Ia sadar telah melakukan sebuah kesalahan hingga membuat Jonathan geram. Oleh sebab itu, ia tak berani menatap iris biru milik Jonathan terlalu lama akan terlalu beresiko jika seandainya melakukan hal tersebut.


Jonathan menarik napas dalam kemudian mengembuskan secara perlahan. "Sudahlah, tidak perlu diperpanjang." Akhirnya ia mengalah dan tak memperpanjang masalah. "Katakan pada Paman, sedang apa kamu ke sini?"


"Ehm ... kedatanganku ke sini mau--"


Telapak tangan Jonathan terangkat ke udara, memberi kode kepada Abraham untuk berhenti berbicara. "Sebaiknya kita mengobrol di dalam saja. Paman tidak mau ada mata-mata yang memberitahu Bibimu tentang kedatanganmu ke sini. Kalau sampai itu terjadi bersiaplah terjadi huru hara lagi dalam keluarga kita."


Setelah mereka berdua duduk, barulah Jonathan membuka suara. "Ada apa, tumben sekali kamu datang ke sini?"


Abraham memberanikan diri mendongakan kepala menatap Jonathan. Lalu, saat mereka beradu pandang, lelaki itu kembali menunduk. Entahlah kenapa dia bisa setakut ini saat berhadapan dengan Jonathan padahal pria paruh baya itu tak mungkin mengigitnya.

__ADS_1


Merasa kesal karena waktunya terbuang sia-sia, lantas Jonathan kembali berkata, "Jika kamu tidak mau berbicara, sebaiknya tinggalkan tempat ini. Paman masih punya pekerjaan yang harus dikerjakan." Lelaki itu bangkit dan hendak meninggalkan ruangan yang tadi digunakan untuk melawan Dark Devil.


"Ini tentang Tania, Paman. Dia telah kembali," kata Abraham memberanikan diri. Terasa beban dipundak terangkat semua setelah mengucapkan kalimat tersebut.


Berhenti melangkah, Jonathan membalikan badan dan berdiri di ambang pintu. Ia memandang tajam, tapi penuh tanda tanya.


"Dari mana kamu tahu jika Tania ada di kota ini?" Jonathan mulai bertanya. Sedikit penasaran bagaimana Abraham mengetahui jika mantan menantu kesayangannya telah kembali dari suatu tempat yang sama sekali tidak ada satu orang pun tahu di mana keberadaan wanita itu selama lima tahun terakhir. Mungkinkah selama ini mereka saling berkomunikasi?


Menggelengkan kepala, menyingkirkan pikiran negatif yang sempat hinggap di benaknya. Tania bukanlah wanita sembarangan. Dia wanita terhormat jadi tidak mungkin menjalin komunikasi dengan Abraham di saat statusnya sudah bukan lagi menjadi istri Xander, batin Jonathan.


"Beberapa hari lalu aku pergi ke sebuah restoran untuk menghadiri acara reuni kuliah dan tanpa sengaja bertemu dengan Tania di sana. Kupikir hanya halusinasiku saja, tapi ternyata dia benar-benar kembali. Tania ... kembali ke kota ini, Paman." Abraham mendongak dan menatap Jonathan, kemudian buru-buru menundukan kepalanya lagi.


Sudut bibir Jonathan tertarik ke atas, kenyataan yang baru saja didengar memberikan angin segar dalam diri pria berusia lima puluh empat tahun. Instingnya terhadap Tania tidak pernah salah. Bagi pria keturunan Amerika, Tania Maharani tetaplah wanita baik-baik meski kedua orang tuanya tidak diketahui keberadaannya.


"Apa? Jadi, Paman sudah tahu? Lalu, kenapa tidak memberitahuku?" pekik Abraham. Ia cukup terkejut dengan penuturan Jonathan.


Jonathan kembali menghunuskan tatapan tajam bagai sebilah pisau yang baru saja diasah. "Memangnya kamu siapa hingga Paman harus melapor terlebih dulu?"


Makin menciutlah nyali Abraham mendengar suara bernada kekesalan. Bodoh, kenapa bibirku malah mengatakan kalimat yang tidak seharus ditanyakan kepada Paman Joe. Aargh, kenapa aku jadi hilang kendali setiap kali membahas soal Tania? merutuki kebodohannya karena telah berkata lancang.


"Jadi, kedatanganmu ke sini hanya ingin menyampaikan berita itu saja?" Jonathan kembali membuka suara setelah terjadi keheningan beberapa saat.

__ADS_1


"Ya, Paman." Abraham tidak bisa menjawab dalam kalimat panjang. Merasa saat ini apa pun yang dilakukan selalu salah di mata Jonathan. Ia lebih memilih diam daripada harus berurusan dengan Jonathan.


Suasana kembali sunyi. Baik Jonathan maupun Abraham sibuk dengan pikiran masing-masing. Abraham masih cukup terkejut sebab rupanya Jonathan sudah tahu jika mantan menantu keluarga Vincent telah kembali, sedangkan Jonathan sibuk memikirkan siapa ibu kandung Arsenio yang sebenarnya.


"Paman, bocah laki-laki yang tadi, siapa? Kenapa wajahnya mirip sekali dengan Xander?" Akhirnya pertanyaan itu kembali Abraham tanyakan kepada Jonathan. Entahlah kenapa ia jadi penasaran akan sosok anak kecil yang melangkah santai sambil menyesap susu kotak. Gayanya yang so cool mirip seperti Xander sewaktu masih kecil.


Aah ... tiba-tiba saja Abraham jadi merindukan saat mereka masih akur, saling menyayangi dan melindungi satu sama lain.


Mengambil napas panjang dan menahannya di dalam rongga dada sebelum mengembus kencang. "Aku pun belum tahu ada hubungan apa antara bocah laki-laki itu dengan Xander. Namun, naluriku mengatakan jika dia adalah cucuku."


"Naluriku pun mengatakan demikian, Paman. Ada banyak kemiripan antara bocah itu dan Xander," ujar Abraham setuju pendapat Jonathan.


Abraham memberanikan diri membalas tatapan Jonathan. "Paman, kenapa tidak coba lakukan tes DNA saja untuk memastikan apakah dia benar-benar anak Xander atau bukan daripada menduga-duga sesuatu yang tidak pasti. Kalau semuanya sudah jelas, Paman tinggal mencari siapa ibu kandung dari bocah itu. Apakah benar Lidya atau mungkin--"


.


.


.


Halo semua, yuk mampir ke karya teman author. Judul karya dan nama penanya ada di bawah sini. 👇

__ADS_1



__ADS_2