Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu

Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu
Engagement Part II


__ADS_3

"Joana, kamu yakin Pak Johan langsung meminta kita langsung masuk ke dalam ballroom? Enggak perlu nungguin Beliau dulu?" bisik Tania tatkala mereka sudah tiba di lokasi tujuan.


Kedua wanita itu janjian bertemu dengan Johan di hotel tempat diselenggarakannya acara pertunangan. Namun, ternyata sang pemilik perusahaan akan datang terlambat sebab ada sanak saudaranya yang dirawat di rumah sakit.


Joana mendekatkan bibirnya ke telinga Tania. "Benar. Saat kita masuk tinggal tunjukan saja kartu undangannya kepada petugas yang berjaga."


Detik itu juga Tania mendelik, menatap tajam kepada Joana. "Kalau undangan ini kita bawa, lalu saat Pak Johan mau masuk, bagaimana? Bukankah hanya ada satu undangan saja yang diberikan oleh pemangku hajat?"


Sekretaris Johan yang saat itu terlihat begitu berbeda dari biasanya tersenyum lebar hingga memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapi. "Kamu tenang aja, Pak Johan punya seribu macam cara untuk bisa masuk ke dalam gedung. Udah ah, ngapain kita bahas si Bos mulu. Lebih baik segera masuk sebelum acara dimulai. Aku udah enggak sabar ingin melihat betapa mewahnya pesta pertunangan Tuan Xander dengan Nona Lidya."


Tania menghela napas ketika tangan Joana menarik lengannya agar mereka berjalan lebih cepat menuju ballroom hotel yang ada di sebelah kanan.


"Wuah ... mewah sekali!" ujar Joana sesaat setelah mereka masuk ke dalam ballroom. Wanita itu berdecak kagum melihat betapa indahnya ruangan tempat digelar acara pesta petunangan antara Xander dan Lidya.


Mengusung konsep cherry blossom, ballroom hotel yang mampu menampung sebanyak lima ratus orang dalam waktu bersamaan terlihat sangat meriah. Dekorasinya didominasi warna merah muda, dilengkapi dengan lampu kristal yang semakin menambah kesan elegan. Bangku-bangku putih dengan pita warna gold tersusun rapih mengelilingi meja bundar yang ada di ruangan tersebut. Juga alunan lagu cinta nan romantis telah diputar semakin membuat suasana kian romantis.


Langkah kaki Tania terhenti sejenak. Ekor mata wanita itu menyapu seisi ruangan. Ada perasaan yang sulit diungkapkan tatkala mata indahnya melihat sendiri betapa mewah nan megahnya ruangan tersebut.


"Tania, ayo jalan! Kok kamu malah ngelamun sih," tegur Joana saat menyadari rekan kerjanya itu tertinggal di belakang.

__ADS_1


Dengan gerakan cepat jemari tangan Tania mengusut buliran air mata yang tanpa senjaga meluncur begitu saja. "I-iya, Jo. Aku segera datang." Tanpa banyak membuang waktu, wanita itu berjalan menghampiri Joana dengan langkah gontai dan perasaan campur aduk.


Alunan lagu A Thousand Years dari Christina Perri semakin menambah keromantisan dan memperindah suasana di pagi hari yang menuju siang hari. Para tamu undangan yang hadir menanti dengan harap-harap cemas, bahkan ada sebagian dari mereka sudah tak sabar ingin melihat bagaimana prosesi pertunangan antara kedua manusia yang ditakdirkan hidup bersama.


"Tania, kamu baik-baik aja?" tanya Joana.


"Ehm ... ya, aku baik-baik aja." Tania terpaksa berbohong, menutupi kesedihan yang dibalut rasa sakit hati karena sebentar lagi akan melihat dengan mata kepalanya sendiri jika lelaki yang cintai menyematkan cincin di jari manis wanita lain.


Tak berselang lama, terdengar suara seorang lelaki mengenakan setelan jas dengan kemeja putih di dalamnya naik ke atas panggung. Lelaki bertubuh jangkung berbicara lewat alat pengeras suara sambil sesekali membaca susunan acara dari secarik kertas putih yang berada di genggaman tangan kirinya.


Derap langkah kaki terdengar memasuki ballroom hotel. Sesosok lelaki tampan berjalan dengan gagah berani dalam balutan tuxedo warna biru navy yang membungkus tubuhnya yang kekar dan berotot. Pandangan mata lurus ke depan tak menoleh ke arah manapun, hanya fokus pada satu titik di depan. Lantas, ia berdiri di tengah panggung menunggu calon tunagannya.


Sekian menit waktu berlalu hingga tuan Adam muncul dengan tangan kanannya menggandeng putrinya yang cantik jelita. Ayah dari Lidya berjalan dengan gagah berani dalam balutan tuxedo warna abu-abu. Semua mata tertuju kepada Lidya yang tampil sempurna dalam balutan kebaya modern warna senada dengan tuxedo yang dikenakan sang calon pengantin pria.


"Kamu siap, Nak?" tanya Tuan Adam dengan menggenggam erat tangan putri tercinta.


Dengan antusias Lidya menjawab, "Tentu saja, Papa. Aku sangat siap!"


"Baiklah, kita melangkah secara perlahan mendekati calon suamimu," sahut Tuan Adam. Lalu, mereka melangkah bersama naik ke atas panggung.

__ADS_1


"Saat kamu telah resmi menjadi calon istri Xander, kurangi sikap kekanak-kanakanmu dan egomu juga, Nak. Jangan sampai Xander marah dan dia malah memutuskan pertunangan kalian. Kalau itu sampai terjadi, Papa dan Mama tidak bisa membantumu," bisik Tuan Adam sembari terus melangkah bersama Lidya di sampingnya.


"Papa tenang aja. Xander enggak mungkin memutuskan pertunangan kami karena aku udah tahu letak kelemahannya di mana. Jadi, kalau dia berbuat macam-macam maka aku tinggal bilang pada Tante Miranda," menyeringai licik dengan mengangkat dagu ke atas. Lidya sangat yakin jika Xander tidak bisa berkutik sedikit pun jika Miranda turun tangan.


Xander menundukan kepala sebagai tanda penghormatan kepada Adam, tangan kanannya menerima tangan Lidya. Tak ada senyuman sedikit pun terlukis di wajahnya yang rupawan. Meskipun Miranda telah berpesan kepadanya untuk terus mengulum senyum di wajah selama acara berlangsung, tapi buktinya ia tak menuruti permintaan sang mama. Biarlah diomeli toh ia telah menjalankan keinginan Miranda dengan baik.


Setelah itu, Jonathan selaku orang tua dari Xander berbicara di hadapan semua orang, mengucap sepatah dua patah kata sebelum menuju acara inti.


"Para tamu undangan, terima kasih sudah hadir dalam acara pertunangan putera semata wayangku. Hari ini di hadapan semua orang, Alexander Vincent Pramono akan melangsungkan pertunangan dengan seorang wanita cantik yang tak lain adalah putri dari kerabatku sendiri, bernama Lidya. Semoga dengan begini, ikatan di antara aku dan Tuan Adam semakin erat."


Suara tepuk tangan riuh terdengar kala mendengar sambutan dari pendiri perusahaan V Pramono Group. Tampak kedua keluarga turut bahagia. Terutama Lidya yang semakin menyunggingkan senyuman lebar di sudut bibir. Namun, tidak begitu bagi Xander. Lelaki itu tampak tengah memendam kekesalan, terlihat jelas dari rahangnya yang menonjol keluar dan sebelah tangan kiri mengepal sempurna hingga memperlihatkan otot-otot halus di punggung tangan.


Pembaca acara kembali berbicara dengan suara lantang di hadapan semua orang. "Sebentar lagi kita akan memasuki acara inti. Namun, sebelum itu marilah kita nikmati sejenak perjalanan kisah asmara antara sepasang kekasih yang tengah berbahagia ini dalam sebuah cuplikan video. Mang Eman, ... tarik!" ujar lelaki itu memberi kode kepada temannya yang tengah duduk manis di belakang panggung.


"Ashiiiaap!" Dengan semangat, lelaki yang dimaksud oleh si pembaca acara menekan sebuah icon. Maka munculah beberapa cuplikan video yang bisa disaksikan oleh semua orang lewat sebuah layar besar di depan sana.


.


.

__ADS_1


.



__ADS_2