Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu

Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu
Seperti Keluarga Bahagia


__ADS_3

Akhir pekan tiba, kini saatnya Tania mengajak Arsenio pergi berlibur sebagai permintaan maaf karena telah ingkar janji. Beruntungnya Johan tidak mempersulit Tania meski saat itu banyak pekerjaan menanti untuk segera diselesaikan. Arsenio sengaja memilih Puncak dan Bogor sebagai detinasi wisata sebab lokasi itu tidak begitu jauh dari ibu kota dan tentunya banyak tempat wisata yang bisa dikunjungi bersama sang mama.


Saat ini Tania sedang memastikan kembali barang bawaan sebelum berangkat menuju lokasi wisata. Dibantu Arsenio sepasang ibu dan anak tampak sibuk mengecek satu per satu barang bawaan mereka.


"Pakaian ganti, jaket, buku bacaan semuanya udah masuk ke dalam koper," gumam Tania, tangannya berkacak pinggang sebelah sedangkan sebelah lagi menunjuk barang-barang milik Arsenio.


Arsenio yang duduk di atas tempat tidur tampak sedang berpikir keras terlihat dari kedua kening yang saling tertaut satu sama lain.


Tanpa diduga, bocah kecil itu berlari menuju lemari pakaian kemudian membukanya hingga terdengar derit menggema ke penjuru ruangan. "Hampir aja aku melupakannya." Jemari mungil Arsenio mendekap boneka jerapah pemberian Ayra sebagai kenang-kenangan sebelum mereka berpisah.


"Mama, aku bawa boneka itu, boleh?" Arsenio menatap Tania dengan penuh pengharapan. Boneka jerapah itu sudah seperti bagian dari hidupnya yang selalu akan berada di sisinya. Ia tidak bisa tidur jika sehari saja tak memeluk boneka pemberian Ayra.


Tania mengulum senyum di wajah. "Tentu aja boleh. Mama tahu boneka itu sangat berarti bagimu jadi dibawa aja kalau emang kamu enggak ribet membawanya." Wanita cantik yang sebentar lagi berulang tahun berucap bijak, tidak ingin melarang anak laki-lakinya membawa boneka itu di saat mereka berlibur.


Di saat mereka kembali sibuk, tiba-tiba bel pintu unit apartemen Tania berbunyi membuat penghuninya menoleh ke sumber suara, saling memandang satu sama lain kemudian menggedikan bahu hampir bersamaan.


"Apa mungkin Paman Edo? Bukannya kemarin bilang akan datang jam delapan pagi?" ujar Arsenio memecah keheningan.


Tania mengangkat kedua bahunya ke atas. "Maybe. Namun, Mama enggak yakin sih kalau itu Paman Edo, soalnya dia enggak mengirimkan pesan ataupun menghubungi Mama. Lihat, enggak ada, 'kan?" Tangan Tania mengangkat benda pipih berukuran 6.5 inci ke udara.


"Ya udah, kamu tunggu aja di sini biar Mama yang buka." Tania meletakkan kembali telepon genggam miliknya ke atas nakas, kemudian berjalan menuju daun pintu.

__ADS_1


Hari ini hanya ada Tania dan Arsenio saja di rumah, Surti sedang pulang kampung menemui orang tuanya. Kemarin pagi pengasuh Arsenio meminta cuti selama lima hari sebab ingin membawa ibunya berobat ke rumah sakit. Dengan uang pemberian Xander, Surti gunakan untuk biaya berobat ibu tercinta.


"Xander, mau ngapain kamu datang ke sini?" Tania memandangi mantan suaminya dengan tanda tanya. Seingatnya mereka tidak ada janji bertemu di saat Tania hendak mengajak anak semata wayangnya pergi berlibur.


Xander menyeringai dengan sebelah tangan kanan menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal. "Kedatanganku ke sini ingin mengantarkanmu dan Arsenio ke puncak. Kebetulan semalam aku bertemu Edo di café dan dia mengatakan kalau hari ini akan pergi ke Bandung, menemui mertuanya. Nah, dia dilema antara mengantarmu ke Puncak atau pergi menemui mertuanya yang sedang sakit keras. Lalu aku mengatakan agar dia pergi saja ke Bandung dan urusan mengantar-jemput kalian adalah tanggung jawabku."


"Jadi semalam kalian bertemu di cafè, begitu?" tanya Tania penuh selidik. Ia tidak langsung percaya begitu saja pada Xander karena sejak dulu pria itu terkenal modus, pandai memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Jadi jangan heran jika saat ini Tania tidak mudah termakan oleh ucapan mantan suaminya itu.


Xander menganggukan kepala cepat. "Benar. Kalau kamu enggak percaya, boleh telepon dia." Pria bermata hazel dan penyuka warna hitam menyodorkan smartphone miliknya ke hadapan Tania. "Silakan, jika kamu emang enggak percaya bisa langsung tanyakan sendiri pada Edo."


Tania menatap Xander dan benda pipih dengan logo buah apel tergigit di belakangnya secara bergantian. Ekor matanya yang tajam menelisik ke mata hazel indah nan jernih milik mantan suaminya.


Xander berjalan mengikuti Tania yang lebih dulu mengayunkan kakinya yang jenjang. Yes, akhirnya aku punya waktu berduaan lagi dengan Tania. Ternyata benar kata pepatah 'kalau jodoh tidak akan ke mana'. Pria itu amat sangat bahagia karena untuk kesekian kalinya ia mempunyai kesempatan untuk mendekati mantan istri dan anak kesayangan. Dengan begitu peluang mendapatkan mereka terbuka lebar.



Setelah memastikan tidak ada barang tertinggal, ketiga insan itu masuk ke dalam mobil. Sebagai pemilik mobil sekaligus sopir yang akan mengantarkan kedua penumpang istimewa, tentu saja Xander duduk di kursi balik kemudi, sedangkan Tania dan Arsenio duduk di kursi belakang.


"Tania, masa kamu tega membiarkan aku duduk sendirian di depan? Kamu enggak berniat menjadi teman ngobrol aku selama perjalanan? Bagaimana jika seandainya aku ngantuk karena enggak ada yang ajak ngobrol?" cecar Xander seraya memandangi Tania dari kaca spion yang ada di mobil.


Kedua tangan Tania mengepal sempurna dan rahangnya pun mengeras mendengar ucapan Xander. "Keputusan untuk mengantar kami adalah keinginanmu, bukan aku yang minta. Jadi saat aku memutuskan duduk di belakang menemani Arsen, kamu enggak boleh protes dong."

__ADS_1


"Iya, aku tahu. Hanya saja apa kamu enggak kasihan sama aku, Gwiyomi."


Tania terdiam, bola matanya mulai berkaca-kaca dan sekelabat bayangan di masa lalu kembali menari indah di pelupuk matanya. Gwiyomi dalam bahasa Korea merupakan panggilan sayang seorang pria terhadap kekasihnya yang artinya adalah seseorang orang yang lucu dan imut. Xander sengaja memanggil Tania dengan sebutan itu karena di matanya wanita cantik yang telah memberi satu orang jagoan tampan terlihat begitu imut dan menggemaskan.


Arsenio melihat raut wajah Tania berubah segera menyentuh punggung tangan sang mama. "Biarin aja Mama duduk di sini Om, biasanya aku akan tertidur sepanjang perjalanan. Kalau misalkan Mama duduk di depan, siapa yang bisa aku jadiin sandaran? Lagi pula aku enggak suka kalau Mama dan Om dekat-dekat. Ingat ya, Om, aku belum betul-betul maafin kesalahan Om yang udah membuat Mama dan aku menderita."


Seketika Xander bungkam. Pria itu tak lagi dapat berucap, semua perkataan Arsenio bagaikan anak panah yang melesak tepat ke jantung.


Tak ingin merusak suasana, Xander mengalah dan membiarkan Tania duduk di belakang bersama Arsenio. Kupikir kejadian kemarin berhasil mencairkan gunung es di hati Arsenio. Namun, rupanya gunung es itu masih membeku seperti dulu.


Pria berpakaian casual dengan kacamata hitam bertengger di hidungnya yang mancung menghela napas kasar. Wajib mengeluarkan jurus lain agar Arsen benar-benar luluh dan mau memaafkanku.


Alphard berharga ratusan juta rupiah melaju sedang membelah jalanan ibu kota. Xander mengendarai mobilnya dengan kecepatan 60 KM/jam. Sesekali memperhatikan dua mahkluk yang begitu ia sayangi di dunia ini. Seulas senyum tipis terlukis di wajah saat melihat betapa cerianya wajah Tania dan Arsenio hari ini.


Tuhan, jika suatu hari nanti aku diberi kesempatan untuk bisa bersama mereka, izinkan aku untuk tetap melihat kebahagiaan Tania dan Arsenio. Lantas, Xander kembali fokus pada jalanan di depan sana.


Di saat bersamaan, Arsenio memandangi Xander dari kaca spion yang sama. Jadi begini rasanya jalan-jalan bersama Papa dan Mama, mengasyikan juga, ya? Pantas aja teman-teman semangat sekali saat bercerita di depan kelas rupanya memang seru karena bisa jalan sama Mama dan Papa.


Andai saja trageti itu tidak terjadi, pasti saat ini hidup kami bahagia. Tania bermonolog sembari memandangi Xander dan Arsenio secara bergantian.


...***...

__ADS_1


__ADS_2