Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Hari Sebelum Divan Ada


__ADS_3

Itu bukan harapan atau impian, itu pernah jadi nyata. Rasanya begitu indah hingga terulang kembali dalam mimpi Bia malam itu. Sebelum Divan hadir ke dunia ini dan Bia masih memakai seragam SMAnya, perjalanan dari rumah ke sekolah dihabiskannya di atas motor sport Dira. Kecuali hari itu.


"Mogok?" tanya Bia.


Jemari Dira menggaruk rambutnya. Tak seperti biasa, motor itu tidak menyala meski sudah ditekan tombol starternya. "Kayaknya begitu. Sudah dicoba dibenerin dari tadi tapi gak nyala."


Dira sampai menonton video dari youtube untuk membetulkan motornya sendiri. Alih-alih nyala, malah semakin parah. "Nyerah aku, Bi," keluh Dira. Ia berjalan menuju wastafel yang bisa disediakan di luar gedung sekolah, tujuannya agar siswa rajin mencuci tangan setelah aktivitas luar.


"Baju kamu kotor." Bia menunjuk kemeja seragam Dira setelah pria itu kembali. Seragam putih itu berubah kotor terkena oli.


Dira mengangkat standar motornya. "Kita dorong ke parkiran." Dira menenteng motornya kembali ke parkiran sekolah. Bia mengikuti saja dari belakang sambil membawakan tas Dira. Sampai di parkiran, Dira kembali menurunkan standar motor. "Motor biar di sini. Kita pulang naik kendaraan umum saja."


Bia mengangguk. Dira mengambil tasnya dari tangan Bia. Ia juga memaksa mengambil tas Bia. "Ambil tas kamu saja. Kenapa sama tasku juga?"


"Anggap saja sebagai pertanggung jawaban nyuruh kamu jalan kaki," jawab Dira. Ia menggendong tasnya di punggung sementara tas Bia ia peluk.


Bia melingkarkan lengannya di lengan Dira. Sengaja Dira membuat lambat langkahnya agar sejajar dengan Bia. Langit sudah tertutup awan mendung. Angin meniup pelan dan terasa sejuk. Sesekali Bia melihat wajah pacarnya kemudian tersenyum geli. Jika sedang berdua dengan Dira saja, ia merasa menjadi wanita paling beruntung.

__ADS_1


"Pansangan paling bikin iri, nih!" Terdengar suara beberapa orang pria yang sedang duduk nongkrong di pinggir jalan.


Dira dan Bia berbalik. Mereka teman satu klub basket Dira di sekolah. "Kenapa?" tanya Dira. Ia berhenti melangkah, begitu juga Bia.


"Romantis banget, Dir. Sampe gak kepisah kayak rainbow cake," komentar salah satu temannya.


Dira tertawa. "Makanya cari pacar itu jangan modal tampang saja. Yang penting setia, manis dan bikin ngakak," jawab Dira santai. Kontan Bia menepuk tangan Dira dengan kencang.


"Bikin ngakak gimana?" tanya temannya Dira lagi.


"Sudahlah! Daripada habis dibunuh, aku pulang dulu," pamit Dira. Ia masih mengusap pantatnya yang terasa sakit.


Tiba di depan gerbang, Dira dan Bia berdiri di sisi jalan. Lama mereka menunggu taksi. Keduanya juga tidak punya kontak untuk memanggil taksi. Sudah setengah jam mereka berdiri dan kendaraan itu belum juga lewat.


"Kamu pegal, gak?" tanya Dira. Bia mengangguk. Betisnya seperti mati rasa. Dira menuntun Bia ke halte bus. Di sana ada satu kursi yang tersisa. "Duduk di sini."


Bia melihat ke sisi kanan dan kiri. "Terus kamu duduk di mana?" tanya Bia tak kuasa melihat Dira masih berdiri. Tangan Dira dengan lembut mengusap kepala Bia. Sesekali sinar matahari mengintip ketika awan tertiup angin. Tak lama cahayanya kembali tertutup awan yang baru datang.

__ADS_1


"Tasnya biar Bia pegang," saran Bia sambil menarik tasnya juga tas Dira. Dira menurut. Ia berikan tas Bia dan dirinya. Dira berjongkok di depan Bia. Beberapa orang sudah naik bus, tapi mereka masih bertahan di sana untuk naik taksi. Bukannya tak mau, mereka tak punya kartu khusus untuk naik bus. Selain itu bus tidak lewat ke komplek perumahan tempat mereka tinggal. Jadi harus jalan jauh lagi.


Trotoar dipenuhi daun-daun maple kering. Sudah musim gugur dan sebentar lagi akan datang musim dingin. "Tunggu di sini," ucap Dira kemudian pergi meninggalkan Bia di sana. Gadis itu kebingungan, hendak ke mana pacarnya tiba-tiba pergi.


Tak lama Dira datang. Ia membawa sekeresek makanan dan sebuah gitar di tangannya.


"Lha, kamu dapat ini di mana?" tanya Bia.


"Beli," jawab Dira polosnya.


Gelengan terlihat dari kepala Bia. "Kalau beli makanan gak apa-apa. Cuman gitar, masih sempatnya."


"Aku tadi nanya pada pemilik toko. Katanya taksi baru beroperasi sekitar dua jam lagi karena demo," jelas Dira.


Bia membuka mulutnya lebar-lebar dan matanya terbelalak. "Demo apalagi? Kemarin demo mahasiswa dan pedagang."


🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2