Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Bye Mamah


__ADS_3

"Lihat!" tunjuk Dira pada pintu rumah berwarna coklat dengan tembok di sisinya yang kemerahan. Bia berjalan ke sana, membuka pintunya perlahan.


Begitu masuk, Bia berdiri di atas lantai dengan pola kayu. Matanya melebar melihat ruangan kosong yang dulu terisi sofa gading dan lampu kristal yang menggantung di langit-langit.


"Yah! David terbangin kapal!" seru David sambil turun dari tangga di lantai dua. Sherin menyandarkan kepala di bahu ayahnya. Sementara Louis memegang tangan David. Anak lelaki itu nampak begitu senang bercerita tentang pesawat remotenya yang terbang hingga melebihi pagar.


"Bia sini," ajak Angelica yang duduk di sofa sedang melipat pakaian. Bia berjalan pelan. Rok dress pinknya bergerak-gerak.


"Bunda, bacain Bia dongeng," pinta Bia. Ia naik ke sofa dibantu Angelica. Bundanya meninggalkan pakaian yang belum dilipat sejenak lalu memeluk Bia dan mulai membacakan cerita.


"Babi kecil selamat setelah membuat rumah dari tembok. Serigala pingsan. Selama itu, babi memasukan kerikil ke dalam perut serigala itu. Akibatnya serigala tak bisa berlari dan memangsa babi lagi," Angelica menutup dongengnya.


Bia menunduk. Ia mengusap gambar babi kecil di buku. "Lalu babi kecil ini kesepian, donk. Saudaranya sudah meninggal semua. Jadi cerita ini harusnya belum tamat, Bun. Kan babi kecil masih sendiri," protes Bia.


Angelica mengusap rambut putri kecilnya. "Babi kecil akan menemukan teman baru. Dia sudah berani menghadapi serigala, tentu dia juga mulai berani berkenalan dengan teman lainnya, gak selalu bersama saudaranya terus," jawab Angelica.


Bia mengangguk. Ia ingat senyuman di wajah Angelica. Semuanya begitu terasa hangat di masa lalu. "Kak!" Sherin menepuk bahu Bia. Seketika Bia terperanjat. Ia bangun dari tidurnya dan membuka mata. Bia dapati tubuhnya yang tengah dipeluk oleh Dira. Bia terkekeh. Ia kecup pipi suaminya.

__ADS_1


"Aku memang rindu bunda, ayah, Sherin juga Kak David. Hanya aku senang karena ada kamu, Divan sama Diandre," ucap Bia. Benar kata Bundanya. Kalau kedua saudaranya tidak mati dimakan serigala, babi kecil tak akan berani berkenalan dengan binatang lain.


Tanpa Ayah, Bunda dan saudaranya, Bia tak akan berani menghadapi kenyataan hidup. Ia tak akan berani menghadapi Mayen, mungkin juga hanya akan dimanfaatkan.


Seperti hari ini ....


"Pacarnya Ceril tak mau membantu. Dia bilang malu akibat kasus Ceril itu," ucap Mayen.


Bia mengambil gelas dan meminumnya pelan. "Apa kabar kemarin yang bilang, gak butuh aku karena Ceril juga punya pacar kaya?" batin Bia.


"Kamu gak sayang adikmu?" tanya Mayen mengeluarkan senjata pamungkas.


Wajah Bia datar saja menghadapinya. "Justru aku sayang padanya. Karena itu dia harus belajar jika sikapnya itu salah. Mungkin di dalam penjara dia bisa memikirkan hal itu. Kasihan juga istri pacarnya. Anak-anaknya juga. Harusnya ibu punya pemikiran ke sana," timpal Bia.


Jawaban Bia membuat Mayen kembali emosi. "Kamu itu gak punya hati, ya! Adik kamu dipenjara malah kamu dengan santainya bilang mau kasih dia pelajaran. Lagipula apa salah Ceril? Laki-laki itu sendiri mendatanginya. Salah istrinya gak bisa bikin bahagia suami!" amuk Mayen.


Bia menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ibu, putri ibu di sini juga punya suami. Aku juga punya anak. Andai kalau kejadian itu menimpa Bia, apa ibu juga akan bicara begitu?"

__ADS_1


"Makanya kamu itu jadi perempuan yang enak dilihat sedikit, biar suami kamu betah di rumah. Lebih pantas Ceril yang jadi menantu keluarga Kenan daripada kamu!" tunjuknya pada Bia.


"Menantu untuk siapa? Gak ada keluarga Kenan yang mau dengan wanita penuh kontroversi. Bia mungkin tak semenarik putri ibu yang lain, tapi dia punya kebaikan yang gak dimiliki Ceril. Satu lagi, istriku bukan gak menarik. Dia lelah mengurus dua anak balita. Ibu saja gak pernah lihat waktu Bia danda. Cloena saja kalah saing," celetuk Dira yang tiba-tiba hadir diantara mereka di restoran itu.


Ia menarik lengan istrinya. "Kamu tahu setelah menikah kamu ini milik siapa?" tanya Dira.


"Suamiku," timpal Bia.


"Iya, kamu harus taat dan patuh padaku. Jadi, mulai hari ini jika aku melarang kamu bertemu ibumu lagi, apa kamu mau menurut?" tegas Dira.


Bia mengangguk. "Kamu itu, ya! Kalau sampai aku bilang sama semua orang Bia menelantarkan aku, dia akan dihujat. Apa kamu tega, hah?" ancam Mayen.


Dengan santai Dira menatap wanita itu. "Siapa yang lebih dulu menelantarkan? Anda jelas sudah dengan tegas memberikan Bia pada ayahnya. Saya punya punya bukti. Jadi jangan harap Bia sekarang harus mengurusmu. Sejak usianya empat bulan, dia bukan milikmu lagi!" tegas Dira.


Ia membawa Bia meninggalkan restoran. Bia sempat berpaling pada Mayen. "Bu, Bia melakukan ini bukan karena tak sayang ibu. Bia harap ibu bisa berubah. Ceril juga. Tak bisakah kalian hidup dengan baik tanpa menyakiti rumah tangga orang lain?" batin Bia.


🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2