Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Kunjungan Ibu.


__ADS_3

Lily baru saja membersihkan meja setelah sarapan. Meskipun banyak asisten rumah tangga, tetapi Lily lebih suka melakukan beberapa perkerjaan rumah sendiri.Ia tidak ingin hanya menganggur di rumah besar itu.


Setelah selesai membereskan meja, Lily menyambangi halaman belakang. Salah satu tempat favoritnya, dia meminta Aric untuk buat rumah kaca. Dia menanam beberapa bunga mawar dan anggrek, Lily sangat menyukai bunga. Satu cita-citanya yang belum terpenuhi adalah membuka toko bunga.


Biasanya Lily merawat bunga-bunga itu dengan Mili, tetapi gadis itu tak kunjung kembali dari kampungnya. Entah kapan mereka bisa bertemu, Mili adalah sosok gadis yang pendiam tetapi sangat rajin. Lily sangat menyukainya.


"Entah bagaimana kabar Mili sekarang? semoga dia cepat kembali," gumam Lily sambil memotong helaian daun anggrek yang mengering.


Setelah di rasa cukup merapikan daunnya, Lily menyemprotkan cairan pupuk pada bunga anggeknya.


Seorang asisten wanita berjalan tergopoh-gopoh, menuju ruang kaca tempat sang majikan menghabiskan waktu. Wanita berseragam hitam putih itu mengatur nafas sebelum masuk kedalam rumah kaca.


"Permisi Nyonya," ucap wanita itu di depan pintu masuk.


"Iya masuk," sahut Lily dari dalam.


Wanita itupun masuk, ia menunduk hormat pada Lily sebelum mulai bicara.


"Ada apa?"


"Maaf Nyonya, ada dua wanita datang mencari Nyonya di depan," lapor asisten itu.


"Dua wanita? siapa?"

__ADS_1


"Mereka mengatakan kalau mereka adalah keluarga Nyonya. Keluarga Wiguna, Salah satunya mengaku sebagai Ibu Anda."


"Keluarga Wiguna?!" beo Lily geram.


Si asisten mengangguk mengiyakan.


Wajahnya mengeras. Tangannya gemetar dan mengepal kuat hingga buku-buku tangannya memutih. Amarah kembali bangkit dan bergemuruh dalan dadanya.


"Di mana mereka sekarang?"


"Masih di luar pagar Nyonya, tanpa izin dari Nyonya atau Tuan kami tidak bisa mengizinkan siapapun masuk," tutur si asisten.


"Apa Aric tahu mereka datang?"


"Lalu, apa jawabnya?"


"Tuan bilang, terserah Nyonya. Nyonya bisa menyuruh kami mengusirnya jika Nyonya mau."


Lily tersenyum, Aric tahu apa yang Lily inginkan. Tetapi kurang seru rasanya jika langsung mengusir mereka.


"Suruh mereka masuk, dan menunggu di ruang tamu. Katakan aku akan segera menemui mereka."


"Baik, Nyonya." Asisten itu pun berlalu setelah memberikan hormat.

__ADS_1


Setelah mendapat izin dari Lily. Penjaga gerbang akhirnya memperoleh dua wanita itu masuk ke mansion.


"Sudah aku bilang kan, aku Ibunya. Kalian masih ngeyel dan tidak membiarkan aku masuk! Siap-siap saja di pecat setelah ini!" teriak Ana pada kedua penjaga.


Penjaga itu hanya memasang wajah datar, ia tidak menghiraukan nenek lampir dan anaknya yang sedari tadi mengomel itu.


"Dasar, pelayanan aja blagu. Kurang ajar."


"Ibu, sudah. Nggak capek apa nyerocos terus dari tadi. Kita udah boleh masuk kan." sahut Cindy.


"Hump .. Ibu tuh kesel tau!"


Keduanya pun turun setelah mobil mereka terparkir di halaman masion. Seorang pelayan wanita menyambut mereka, mengarahkan kedua wanita itu untuk masuk dan menunggu di ruang tamu.


"Nyonya masih di kamar, sebentar lagi beliau akan menemui Anda berdua. Mohon tunggu sebentar." ujar sang pelayan.


" Iya, tau.. pergi sana ambilin minum!" perintah Cindy dengan sok, seolah dia adalah bagian dari rumah ini.


Pelayanan itupun memganggu, kemudian pergi menjauh.


Cindy dan ibunya melihat mewahnya ruang tamu Lily.


"Lihat Bu, wanita itu hidup lebih baik dari kita. Seharusnya dia menunjukkan rasa terima kasih karena kita telah membesarkannya. Dia nggak akan rugi kalau bagi sedikit uang pada kita," ujar Cindy.

__ADS_1


"Kamu benar, dia hidup senang. Kita juga harus ikut merasakan."


__ADS_2