
Aric duduk di bangku ruang kerjanya, ruangan yang tidak kalah besar dari milik Ahnan adiknya. Selama ini Aric lah yang menjalankan perusahaan bersama Hakim, Ahnan hanya datang dan duduk manis, berakting seolah-olah ia paling berkuasa di perusahaan.
Sebenarnya jabatan Ahnan tak kalah tinggi dari Aric, mereka berdua merupakan pemilik langsung dari Gulfaam corporation. Namun, sifat Ahnan yang malas dan suka bermain-main tidak membawa perusahaan ke arah yang berarti malah membuatnya menjadi lebih buruk. Dengan terpaksa Aric mengambil alih kepemimpinan, secara tidak langsung. Dialah yang memegang penuh kendali Gulfaam corporation.
Aric menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, dengan telunjuk dan jempolnya mengurut pangkal hidung dengan mata yang terpejam. Lelah, pria itu baru saja menyelesaikan rapat darurat. Berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan kepercayaan pada investor dan klien kembali.
Tadi malam ia mendapat kabar kalau para klien kecewa dengan hasil kerja mereka, bahan yang dikirimkan kualitasnya tidak sesuai dengan yang telah di sepakati, beberapa klien protes dan mengajukan pembatalan kontrak kerja, beberapa diantaranya meminta ganti rugi dengan jumlah yang cukup besar. Dengan kecakapan Aric, semua bisa di atasi dengan baik. Walaupun ia harus tetap membayar ganti rugi.
Semua masalah ini, bukan teka-teki lagi bagi Aric, ia tahu kenapa dan siapa pelakunya. Namun, lagi-lagi Aric hanya bisa menyelesaikan semua masalah sendiri.
Suara ketukan pintu membuat Aric terpaksa membuka matanya.
"Masuk," sahutnya.
Seorang wanita paruh baya berseragam OB mendorong pintu ruangan Aric, di ikuti dengan seorang wanita berparas cantik dibelakangnya.
"Tuan, Nyonya ini mencari Anda," ujar wanita itu.
Mata Aric berbinar, penatnya hilang seketika saat melihat wajah cantik yang sangat ia rindukan.
"Sayang, Kenapa kau datang?" tanya Aric seraya bangkit dari duduknya, ia tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia, dengan senyum lebar di bibirnya.
"Kenapa? Apa aku tidak boleh datang?" tanya Lily.
"Tentu saja boleh, aku hanya terkejut saja." Aric meraih tangan sang istri, mengendongnya dengan lembut.
"Terima kasih, kau boleh pergi sekarang," tirah Aric pada wanita yang mengantarkan Lily.
"Sama-sama Tuan, kalau begitu saya m permisi." Wanita itu pun keluar, dari ruangan Aric. Tak lupa ia menutup pintu di belakangnya.
Aric menarik Lily dengan lembut untuk duduk di sofa yang ada di sana. Lily mengedarkan pandangannya, menyapu seluruh ruangan itu. Ruangan yang cukup nyaman, dengan nuansa hitam putih.
Lily duduk setelah meletakkan kotak makan siang di meja. Ia terkejut saat Aric memeluk nya.
"Hei ... ini kantor, jangan macam-macam!" pekik Lily.
__ADS_1
"Tenang saja, tidak ada yang berani masuk tanpa izinku." Aric mempererat pelukannya, menyandarkan kepala di bahu Lily.
Pria besar itu bermanja, melepaskan kepenatan setelah berkerja keras. Lily pun turut menyandarkan kepalanya pada kepala Aric, jujur saja ia juga mengalami pagi yang tidak begitu baik. Bersama seperti ini, membuat Lily merasa tenang.
"Bagaimana pekerjaanmu?" tanya Lily setelah keheningan cukup lama tercipta di ruangan itu.
"Baik, semuanya selesai dengan baik. Bagaimana dengan kedua wanita itu? Apa kau mengusir mereka, Sayang?" tanya Aric pura-pura tidak tahu.
Pria itu mengetahui setiap detail yang terjadi dalam mansion.
"Aku, apakah aku salah menolak mereka?"
Aric menggeleng, ia merangkum wajah cantik Lily dengan kedua tangannya
"Kau tidak salah, Mereka pantas mendapatkannya." ujar Aric dengan sungguh-sungguh, mata Lily mengembun. Ia memeluk erat tubuh kekar sang suami.
"Apa kau menyesal?" tanya Aric sambil mengusap lembut rambut panjang Lily.
"Ak-Aku tidak tahu, Aric. Aku tidak tahu," jawab Lily dengan air mata yang sejak tadi ia tahan.
Saat ini Lily merasa menjadi orang jahat, melakukan semua itu pada Ana dan Cindy. Bagaimanapun, keluarga itu telah membesarkannya. Dalam hati kecilnya ia masih menyayangi mereka, orang-orang yang menjadi keluarganya.
Lily menggeleng pelan dalam pelukan Aric.
"Semua sudah terjadi, Aku bahagia bersamamu sekarang," ujar Lily dengan lirih. Namun, masih terdengar oleh Aric.
Aric tersenyum bahagia, ia sudah sempurna. Di kehidupan yang kelam, ia menemukan kembali cahaya, jantungnya kembali berdetak saat Lily masuk dalam kehidupannya.
Kedua insan itu larut dalam pelukan hangat, Aric mengecup pucuk rambut Lily sambil mengusapnya perlahan.
Lily sadar sekarang, betapa dia jatuh cinta pada laki-laki ini. Jantungnya kini berdetak atas namanya, entah sejak kapan ia juga tidak tahu. Yang Lily tahu, kini dalam hatinya dipenuhi Aric, sosok yang begitu lembut dan selalu melindunginya.
Lily mengendur pelukannya, ia menatap lekat wajah tampan yang selalu tersenyum untuknya.
"Apa kau lapar? Aku membawakan sesuatu untukmu." Lily meraih kotak bekal yang ia bawa.
__ADS_1
"Kau memasak untukku?" tanya Aric, dengan perasaan tidak enak, entah kenapa sejak kehamilan Lily.
Dapur adalah area paling berbahaya, saat mendapat sentuhan wanita itu. Kreatifitas Lily sungguh di luar nalar, mengalahkan chef kelas atas.
"Iya, kenapa, kau tidak suka ya?" tanya Lily dengan raut wajah sendu.
"Suka? tentu saja tidak. Tapi aku sangat suka." Aric mengecup pipi Lily, membuat wanita itu merona.
Lily membuka kotak bekal berwarna merah itu, dengan penuh semangat ia menyodorkan hasil karyanya pada Aric.
"Tada, bagaimana bagus kan?"
Aric mengerutkan keningnya, istrinya sungguh kreatif. Mungkinkah ia tahu, kalau perkejaan sampingan Aric seorang mafianya.
"Bagaimana, bagus tidak? kenapa diam?" tanya Lily sekali lagi.
"Bagus Sayang, aku sampai terkesima melihatnya," jawab Aric jujur.
Lily tersenyum lebar, tidak sia-sia dia seharian membuat bekal itu untuk Aric. Ia pun mulai menyuapkan makanan yang ada dalam kotak itu pada suaminya.
Aric membuka mulutnya lebar, menikmati setiap bulir nasi bekal cinta buatan sang istri. Meskipun bentuknya sedikit aneh, tetapi Aric yakin Lily membuatnya dengan sepenuh hati.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bekal cinta buatan Lily 🤣🤣🤣