
"Aku pulang," ucap Dira sambil membuka pintu kamar pukul sepuluh malam itu. Banyak pekerjaan yang menyita waktu di pabrik. Demi masa depan pabrik yang menjadi cikal bakal berdirinya Kenan Grouph dan juga titipan dari kakeknya, Dira rela berlelah-lelah.
Bia sudah tertidur di ranjang. Di sampingnya juga terlelap Diandre dan Divan. Perasaan bersalah seakan membuncah di hati Dira. Tiga hari ini ia sibuk sendiri hingga selalu pulang malam dan membiarkan Bia menjaga kedua jagoannya sendirian.
Rencananya, Dira ingin mandi dan mengganti pakaian dulu. Namun, ia mendengar rengekan Diandre. Sebelum Bia terbangun, Dira lekas memakai handsanitizer lalu menggendong Diandre. Di usia masih belum genap satu bulan, bayi memang sering menangis tanpa memiliki jadwal tetap.
Dira mencoba sebisa ia. Jika Diandre hanya merasa tidak nyaman, biasanya hanya digendong langsung diam. Rupanya popoknya basah. Kedua orang tua muda itu memang sudah sepakat tidak menggunakan diapers untuk kesehatan Diandre. Dira lekas membawa Diandre ke walking closet di mana ada meja tempat ganti popok.
"Bayi papah yang ganteng berhenti menangis, ya? Ini mau papah ganti," ucapnya. Ia buka popok Diandre lalu mengelap bagian tubuh Diandre yang basah dengan lap yang sudah ia celupkan dalam air hangat.
Dira sudah lihai melakukannya karena selama seminggu Bia masih dalam pemulihan, Dira yang mengurus Diandre. Kecuali kalau Diandre lapar, tentu hanya Bia yang bisa mengurus hal itu.
Setelah popok diganti, Diandre langsung kembali tertidur. Dira mengganti matras waterproof dengan yang baru, kemudian membaringkan Diandre di atas tempat tidur lagi. Dira melirik Divan yang tidur memeluk boneka pororonya. Ia belai rambut Divan dan mengecup pipi tembem seperti bakpau itu.
Divan bergerak pelan. Tangan mungilnya menyentuh pipi Dira. Merasakan hangat kulit papahnya, Divan membuka mata. "Papah pulang?" tanyanya. Dira mengangguk. Ia tepuk-tepuk punggung Divan lagi.
__ADS_1
"Kenapa tidur di sini?" tanya Dira. Biasanya anak itu sering menolak setiap diajak tidur di kamar Dira.
Divan mengusap pipi Dira dengan lembut. "Papah dak ada kan, Divan jagain adik sama mamah," jawab Divan dengan polosnya.
Dira mengecup kening Divan. "Makasih banyak anakku. Kakak ganteng memang hebat. Sekarang semakin dewasa dan buat papah bangga terus," puji Dira.
Divan tersenyum senang mendapat pujian dari papahnya. Dira menepuk-nepuk punggung Divan lagi. "Divan tidur lagi, papah mau mandi dan ganti baju dulu, ya?"
Tak butuh lama, Divan menguap lalu menutup mata dan kembali tertidur. Lekas Dira pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh dan mengganti pakaian dengan piyama.
Dira sempat terdiam lama di depan alat elektronik itu. Hingga muncul keisengan untuk membuka media sosial yang sudah lama tidak ia buka.
Namun, begitu melihat halaman log in, Dira ingat dengan akun pasangannya dengan Bia waktu SMA dulu. Ia masih ingat email juga passwordnya. Waktu itu, anak-anak di sekolahannya memang sedang populer membuat akun pasangan. Hebatnya akun itu tak ditemukan siapapun sampai sekarang.
Apa yang diunggah ke internet memang tersimpan lama. Foto-foto Bia dan Dira waktu SMA masih tersimpan di sana meski versi cetaknya sempat Dira bakar dulu. Iseng, Dira mengunduh foto-foto itu lagi dan ia simpan di album pribadinya.
__ADS_1
Ada foto Dira dan Bia yang diambil sejak bayi sampai lulus SMA. Timbul keisengan Dira lainnya. Ia susun foto itu, dari mereka lahir, balita, masuk TK, SD, SMP, SMA hingga foto saat Dira jadi artis dan Bia melahirkan kemudian foto saat mereka menikah. Setelah itu, Dira tambahkan foto dengan Diandre yang baru diambil kemarin.
Dira tertawa sendiri merangkai foto-foto itu. Apalagi saat merangkai foto Divan dari bayi sampai usia tiga tahun. Anak itu memang ada saja posenya. Paling parah pose Divan saat merentangkan tangan dan mengangkat sebelah kaki seperti Bruce Lee. Mana sambil mengenakan kaca mata hijau dan baju over all.
Setelah video itu selesai, Dira memasukan lagu ciptaannya untuk Bia yang sempat dirilis dua tahun lalu kemudian ia unggah menjadi story IG di akun artisnya yang sempat ia lock.
Dira melihat foto-foto di feed. Ia lihat dirinya sendiri saat masih sibuk dengan dunia keartisan, foto saat rekaman, saat shooting video klip, pemotretan hingga kumpul dengan rekan artisnya. Rasanya itu baru terjadi kemarin dan kini semua sudah berakhir.
Dira memandang keluarga kecilnya yang tengah terlelap. "Kalau aku masih jadi artis, tentu tak bisa memandangi kalian tidur begini. Paling kalau pulang, tidur karena lelah."
Merasakan keberadaan suaminya, Bia terbangun. Ia membuka mata lalu setengah terduduk di tempat tidur. "Dira, sudah pulang?" tanya Bia.
"Tidur lagi saja, nanti bangun kalau aku mau tidur," saran Dira.
🍁🍁🍁
__ADS_1