
"Hai, aku Kris. Salam kenal," ucap anak itu sambil menunduk. Divan manyun, ia sama sekali tak terima ada anak laki-laki yang jauh lebih tampan darinya. Apalagi sikap anak laki-laki itu sangat kaku.
"Salam kenal juga Kris! Aku Bia, mamahnya Divan," ucap Bia. Kris tersenyum. Ia melirik ke arah Divan dengan tatapan hangat. Sedang Divan masih berusaha menilai medan, takutnya di sini posisi popularitasnya direbut Kris.
Kris mendekati Divan. Ia pegang tangan putra Dira itu. "Aku ikut main di sini boleh?" tanya Kris. Divan mengangguk. Ia merasa tak enak karena sikap Kris ternyata baik sekali.
Jadilah kedua putra orang kaya itu bermain di ruang main Divan. "Banyak mainan, ya?" tanya Kris.
Dengan bangga Divan mengangguk. "Di rumah Kris gak ada?" tanya Divan penasaran. Papahnya sempat bercerita tentang rumah Kris berada di pinggir pantai dengan pasir putih dan memiliki tempat landasan helikopter. Divan pikir itu keren, hanya jika tak ada mainan buat apa?
"Divan punya lebih banyak. Kris tinggal pindah-pindah rumah. Di papah terus di nenek. Kalau papah pergi, gak ada jaga Kris," cerita anak itu sambil melihat-lihat mainan Kris.
"Mamahnya ke mana?" tanya Divan penasaran karena jika papahnya pergi kerja, ia pasti akan bersama Bia.
Kris menggeleng. "Mamah Kris sudah meninggal. Papah bilang mamah gak bisa pulang lagi. Kris belum pernah ketemu mamah, cuman foto saja," cerita anak itu.
Divan merasa kasihan. Ia ingat kakek dan neneknya yang belum pernah ia temui dan hanya tertidur di bawah ukiran batu di dalam tanah. "Jadi papah Kris kerja, Kris sendiri?" tanya Divan.
Kris mengangguk. "Kata Nenek, Kris nanti punya mamah. Nenek mau bawa mamah Kris ke Bandung," jelas Kris.
"Bandung itu apa?" Ini pertama kalinya Divan mendengar nama itu. Pastinya anak-anak tak tahu persis kenapa nama tempat beda-beda.
__ADS_1
Kris menggeleng. Ia juga tak mengerti. "Divan, Kris ada hadiah," ungkap Kris. Ia membuka tas lalu mengeluarkan sebuah kotak dari sana. Divan menerimanya.
Tangan mungil anak itu membuka kotak pemberian Kris. Divan tertegun melihat ada truk mainan di sana dan namanya juga terukir di sisi ban truknya.
Divan jadi ingat dengan truk Oginya yang hilang saat ia sedang pemotretan. "Ini buat Divan?" tanya anak itu dengan wajah berkaca-kaca.
Kris mengangguk. "Iya, papah Divan bilang, Divan suka truk mainan," jelas Kris
Bagi anak-anak itu, truk mainan berharga karena menyenangkan. Divan sama sekali tak tahu jika mainan itu didesain oleh desainer terkemuka dan dibuat khusus untuk dirinya. Harganya juga tak murah. Kalau dirupiahkan, itu dua puluh enam juta dan lebih mahal dari pada borong keset satu toko di pasar. Modal jual cireng saja kalah.
Divan berpikir, ia ingat akan sesuatu. "Kris punya pesawat, ya?"
"Papah punya itu. Heli juga punya papah. Kris ada mobil saja buat sekolah. Kenapa?" tanya Kris bingung.
"Cari di mall saja. Nenek bilang di mall semua ada," timpal Kris.
"Kayaknya Divan senang main dengan Kris," komentar Bia. Dira yang sedang tiduran di karpet dan bermain dengan Diandre mengangguk. "Kita beruntung anak itu main ke rumah kita. Katanya Kris itu tak dibiarkan bergaul dengan orang sembarangan?"
"Mau bagaimana lagi. Dia pewaris utama keluarganya. Selain itu, papahnya sama sekali gak ribet. Tuan Darwin itu bukan orang yang kaku seperti yang orang kebanyakan bilang. Hanya saja kata dia, jangan sampai neneknya Kris tahu," jelas Dira.
Bia terkekeh. Rupanya yang ribet itu keluarga neneknya. "Terus bagaimana pekerjaan kamu?"
__ADS_1
Dira bangkit. Ia duduk sambil menggendong Dio di pangkuan. "Baik, sih. Aku pikir akan sangat betah tinggal di sini. Lusa aku sudah mulai ke kantor. Kamu juga harus tabah mulai aku tinggal lagi."
Bia memeluk leher Dira dari belakang. Dira duduk di bawah bersandar pada sofa sementara Bia duduk di sofa. "Aku dampingi kamu di mana pun kok. Hanya pulangnya jangan malam terus. Soalnya aku gak mau tidur sendirian," protes Bia.
Dira mendongak. Ia kecup bibir Bia setelah menutup mata Diandre. "Jangan bahas itu siang-siang. Masih ada anak-anak. Ini kepancing ini ikannya," protes Dira.
Bia mengusap rambut suaminya. "O, papan," ucap Diandre menunjuk ruang tengah. Ia turun dari pangkuan Dira dan pergi menuju kakanya.
"Dia nempel terus dengan Divan," keluh Dira.
Bia terkekeh. "Mau gimana lagi. Mereka hampir sebaya dan main pasti berduaan terus. Pasti dekat. Ada Kris aku yakin Diandre cemburu."
Dira mengangguk. "Sebentar lagi Diandre juga bakalan sebesar Divan dan gak ada lagi anak bayi yang bisa dicubit gemes," keluhnya.
"Siapa bilang gak ada," timpal Bia.
Dira kembali mendongak. Bia mengusap perutnya. "Makanya aku sering bilang kalau musim hujan tahan diri," protesnya sambil mencubit pipi Dira.
Pria itu tertegun. Ia naik ke atas sofa. "Ini? Beneran? Kapan?" tanya Dira tak sabaran.
"Tadi pagi baru tes biasa sih. Besok kalau memang belum masuk kerja, antar ke dokter, ya?" pinta Bia.
__ADS_1
🍁🍁🍁