Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Bonchap MKS 3


__ADS_3

🍁🍁🍁


Malam itu Divan gelisah. Meski logikanya ingin mengalah, tapi hatinya perih bukan main. Hingga pukul satu malam, ia tak juga bisa tidur. Divan turun dari kasur dan berjalan keluar kamar. Ia pergi ke dapur untuk mengambil minuman dingin berharap pikirannya kembali tenang.


"Kenapa gak tidur?" tanya seseorang dari pintu dapur ketika Divan mengambil minuman di kulkas. Divan berbalik dan menemukan Dira di sana.


"Gak, Pah. Lagi gak enak pikiran saja," jawab Divan. Ia menarik kursi di meja dapur tempat biasa Bia memotong bahan masakan.


Dira menghampiri putranya. "Itu hak kamu ingin cerita atau tidak. Hanya papah mungkin bisa membantu meski itu sedikit," tawar Dira. Ia usap rambut putranya.


Di situ Divan berpikir keras. Tentu ia tahu papahnya memiliki pengalaman banyak. "Pah, kalau Divan tanya pilih Divan atau Diandre, papah akan pilih siapa?"


Dira terkekeh. "Pilih mamah Bia saja."


Jawaban yang telak untuk Divan. Ia tahu, orang tuanya tak akan memihak anak mana pun jika itu salah dan baru akan membela jika itu benar. "Divan suka pada seorang wanita. Ternyata Diandre juga suka pada wanita itu?"


Dira menarik napas. "Lalu wanita itu suka pada siapa?"


Di sana Divan terdiam. Ia juga belum mengucapkan apapun pada Davina. "Divan gak tahu. Inginnya melamar dia besok, tapi mendengar pengakuan Diandre ... Divan gak tega."


Dira bisa melihat sisi istrinya pada diri Divan. Sisi yang selalu mengalah tak peduli dirinya menderita. "Dulu, mamahmu itu cinta pertamaku. Karena aku takut persahabatan kami hancur, aku tak mengutarakan perasaanku. Akhirnya dia pacaran dengan pria yang menyakitinya."


"Suatu hari mamah kamu pernah merelakan aku demi karir. Dia juga tak mau memperjuangkanku dan membiarkan aku dengan wanita lain. Dia lebih suka kabur. Kamu tahu apa yang terjadi? Kamu yang jadi korban. Akibat mamah dan papahmu yang tak saling jujur," cerita Dira.


Divan terdiam. Ia mencoba menelaah maksud Dira menceritakan hal itu. "Aku tahu, Diandre pasti akan sedih mendengar kenyataanya. Namun, berbohong pun bukan membuat semua hal lebih baik. Aku pernah hidup dengan wanita yang tidak kucintai dan tidak mencintaiku. Rasanya seperti mati. Lain saat bersama Bia, punya kalian bertiga dan tahu apa itu berjuang demi cinta."


"Jadi Divan harus bagaimana?"


"Bicarakan ini dengan adikmu. Kadang ada waktu di mana kalian harus bicara sebagai seorang lelaki. Kamu ingat pernah memberikan boneka pororomu untuk Diandre?"

__ADS_1


"Iya, dan aku sering nangis tiap malam. Memalukan," ucap Divan sambil tertawa.


"Lalu Diandre tahu kamu nangis karena boneka itu. Akhirnya kamu tahu dia bagaimana?"


Divan mencoba mengingat-ingat. "Dia nangis karena merasa bersalah. Bahkan lebih lama daripada saat aku kehilangan boneka itu."


Lumayan ada jeda diantara mereka akibat Divan harus menelaah. "Aku mungkin akan takut Diandre sedih jika tak mengalah, tapi Diandre juga akan jauh lebih terluka jika tahu aku mengalah padanya. Dia anak yang kompetitif," rangkum Divan.


Dira mengangguk. "Aku akan mengatakan semuanya pada Diandre," tekad Divan.


🍁🍁🍁


Pesta pernikahan itu digelar dengan meriah. Emelie mengucapkan ikrar janji sehidup semati. Daren dan Sora menjadi yang paling terharu. Kini mereka hanya akan menghadapi masa tua bersama tanpa putri yang biasa mereka jaga.


"Oom jangan sedih! Diandre masih menerima orang tua angkat, kok!" celetuk Diandre memeluk Oomnya. Ia memang sedang mencari kambing hitam agar dibiarkan kuliah di Heren.


Daren tertawa. "Nanti papah kamu ngamuk," tolak Daren sambil mencubit gemas pipi Diandre.


"Nek, Divan ganteng gak kayak gini?" tanya Divan.


"Kamu selalu ganteng!" puji Mrs. Carol. Divan tersenyum. "Doain, Nek. Malam ini Divan mau melamar perempuan," tegas Divan.


Ia melirik Diandre mengingat ada sesuatu yang harus ia tuntaskan dengan adiknya itu. "Nek, tunggu dulu, ya?"


Divan berjalan menghampiri Diandre yang duduk di kursi depan bersama Daren dan Sora. Ia menepuk pundak adiknya. "Ngomong bentar, yuk?" ajak Divan. Diandre mengangguk dan mengikuti kakaknya.


"Lihat, dua pangeran tampan Bia mau ke mana?" tanya Sora pada Bia yang masih menganggumi betapa cantiknya Emelie hari ini.


"Biarin saja, Kak. Mereka itu memang nempel kayak magnet. Jangankan yang laki-laki, adiknya yang perempuan saja ngekor kalau kakaknya main," timpal Bia.

__ADS_1


"Rasanya baru kemarin Mamah lihat mereka masih pada balita waktu kalian pertama pulang dulu," Maria ikut berkomentar.


"Mereka masih balita di mata Bia, Mah," timpal Bia sambil tertawa.


Pernikahan itu dihadiri banyak orang penting. Keluarga Silvina juga hadir. Hanya Davina sedang ada bimbingan yang tak bisa ditinggal. Daren berdiri begitu juga dengan Dira ketika Darwin datang mengucapkan selamat.


"Selamat Tuan Kenan. Aku harap pernikahan putrimu langgeng," ucap Darwin. Daren mengangguk sambil menyalami tangan Darwin.


"Selamat Tuan Kenan, sukses dan lancar acaranya," Pasqual ikut menyusul menyalami Daren.


Kedua rekan bisnis Dira itu tiba tadi pagi dan langsung ke tempat acara. "Terima kasih banyak. Saya tidak menyangka dua chairman dari grup perusahaan besar datang berkunjung," ucap Daren terharu.


"Key!" sapa Dira pada orang yang berdiri tak jauh dari Biru. Ia direktur di KY seperti Dira. Key berjalan maju meghampiri Dira dan menyalami rekannya itu kemudian baru mengucapkan selamat pada Daren.


Sementara Diandre masih mengikuti Divan menuju tempat yang sepi. "Ada apa ini? Mencurigakan sekali. Apa kamu mau membunuhku akibat akan menjadi anak angkat Oom Daren dan takut posisi pewaris utama aku rebut?" kelakar Diandre


"Dre, aku mau jujur tentang sesuatu." Saat mereka berada di sisi kolam, Divan baru mengucapkan maksudnya.


Meski tak tahu apa yang akan diperbincangkan kakaknya, Diandre tahu Divan sedang gundah. "Bilang saja. Kita saudara. Jangan main rahasiaan denganku. Apalagi mikir aku bakalan nangis."


Meski ucapan Diandre mengundang tawa, tetap saja Divan sulit untuk tertawa. "Diandre, soal perempuan yang kamu foto waktu itu," mulai Divan. Ia harus menarik napas panjang untuk mengungkapkannya. Jujur ia takut Diandre tersakiti, hanya Dira bilang Diandre akan lebih sakit kalau tahu Divan mengalah untuknya.


"Namanya Davina. Dia cinta pertamaku, perempuan yang aku tunggu selama ini. Yang mau aku nikahi," jujur Divan sambil menutup mata.


Diandre terkejut mendengarnya. Melihat Divan menunduk, Diandre tahu kakaknya merasa bersalah dan ingin mengalah seperti biasa. "Aku adikmu, harusnya kamu mengalah. Termasuk dalam cinta," tegas Diandre.


Divan terbelalak. Ia tatap adiknya dengan wajah kaget. Kulitnya memucat. Beberapa detik Diandre biarkan pemandangan itu hingga, "Kakak pikir aku bakalan bilang gitu? Ayolah, berapa banyak perempuan yang aku kejar? Aku tak seperti kakak yang mudah bucin pada satu wanita. Aku ingin mencari hingga mendapat yang lebih lagi," ralat Diandre.


Divan bisa melihat wajah santai adiknya. Namun, Diandre pandai menutupi perasaan. "Lagi pula Diandre gak ada waktu mengejar perempuan. Mumpung sahabat papa di sini, Diandre mau ke numpang ke Indonesia. Aku mau ke kampung Kak Yuno. Lebih menyenangkan mengejar sunset dari pada mengejar wanita," ucap Diandre enteng.

__ADS_1


Divan mengangguk. Tangan Diandre menepuk pundak kakaknya. "Semangat berjuang Divan. Mudah-mudah punya istri buat kamu berhenti selfie di IG! Eh, itu juga kalau diterima," kelakarnya.


🍁🍁🍁


__ADS_2