Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Ikatan batin


__ADS_3

Aric menarik nafasnya dalam, mencium aroma harum rambut Lily yang membuat Aric candu.


"Sudah saatnya kau tau tentang keluargaku, Sayang." Aric mengecup lembut kening Lily.


Lily merasakan kehangatan cinta Aric. Namun, di saat yang sama ia bisa merasakan kesedihan dan rasa kecewa yang dalam dari suaranya yang bergetar.


"Ibuku, seorang wanita yang tangguh. Ia tidak pernah mengeluh dengan kehidupan kami, meskipun ayah seorang yang kaya raya tapi kehidupan kami justru sebaliknya. Kami tidak pernah di perbolehkan untuk datang ke rumah besar itu, tentu saja. Bagi mereka kami tidak pantas, kami layaknya lumpur yang akan mengotori lantai marmer mereka yang mengkilat."


Lily mengusap punggung Aric dengan lembut, ia tidak menyangka suaminya itu mengalami masa lalu yang buruk.


"Mereka sangat membenci kemiskinan, bagi mereka kami adalah aib yang harus di tutup rapat. Cinta ayah saja tidak cukup untuk melindungi ibu, meskipun ayah sangat mencintai ibuku tapi ia juga terikat dengan keluarganya. Bahkan dia tidak bisa berbuat apa-apa, saat para orang tua itu berusaha melenyapkan kami"


"Me-melenyapkan," beo Lily, ia menarik diri. Sedikit mendongak wajahnya ke atas, menatap mata Aric. Kilatan amarah terlihat jelas di sana.


Aric mengangguk.


"Kau masih ingin mendengarnya?" tanya Aric.


Lily menggelengkan kepalanya, meskipun ia begitu penasaran dengan cerita Aric. Namun, ia tidak ingin suaminya itu mengingat kenangan buruk masa lalu.


"Maaf, aku membuatmu mengingat semuanya," ujar Lily sendu.


"Melihat wajahmu bisa membuatku tenang, Sayang. Tidak apa jika kau ingin mendengar semuanya, aku tidak keberatan."


Lily membekap mulut Aric.


"Tidak, cukup. Ini sudah larut, kau harus beristirahat." Aric mengecup telapak tangan Lily yang menempel di bibirnya.


Aric menarik Lily dalam pelukannya, ia merebahkan diri dengan sang istri si atasnya.


"Kapan aku bisa mengunjunginya?" tanya Aric tiba-tiba, suaranya terdengar memelas.


"Aku bahkan belum memeriksakan diri ke rumah sakit, dan kau ingin mengunjunginya."


Aric menepuk jidatnya dengan keras.


"Astaga! Aku lupa? maaf aku terlalu sibuk, bagaimana kalau besok kita ke rumah sakit."


"Hem ... Kau memang selalu sibuk, tidak pernah ada waktu untukku," sindir Lily.


"Ah ... Maaf, beberapa waktu ini memang aku memang sibuk, ada banyak serangga yang harus aku bereskan."


"Jadi kau tidak ke kantor untuk mengurusi serangga? bukannya kapan hari kau membasmi tikus?"

__ADS_1


Aric menurunkan Lily dari atas tubuhnya, dengan lembut Aric membaringkan sang istri di sisinya.


"Emh ... Aku biasa membasmi segala jenis hama penganggu," jawab Aric sambil mengusap lembut perut Lily yang masih rata.


"Dia rindu padaku, Sayang. Dengarlah dia mengatakannya." Aric menempel telinga di perut Lily.


Lily memutar bola matanya jengah, janin mereka masih berupa gumpalan darah. Bagaimana ia bisa bicara.


"Dia masih belum terbentuk sempurna. Bagaimana dia bisa bicara? kau terlalu mengada-ada, Aric."


"Ini ikatan antara Ayah dan anak, aku bisa merasakan kerinduannya padaku."


"Nggak usah modus, cepat tidur. Aku sudah ngantuk!"


"Hem ... baiklah." Aric menarik kepalanya menjauh, ia merebahkan diri di samping sang istri.


keduanya memejamkan matanya, dengan saling berpelukan. Mereka mengarungi lautan mimpi bersama, malam yang indah setelah begitu banyak yang mereka lalui hari ini.


.


.


.


.


.


Seorang laki-laki bermata hazel sedang menikmati malamnya, bersenang-senang di diantara lautan manusia yang meliuk-liukkan tubuh menikmati dentuman musik DJ yang menggema di tempat itu.


"Ehm .. Ahnan tanganmu nakal." Seorang wanita berpakaian serba minim,ia menempelkan tubuhnya pada Ahnan.


Tangan Ahnan meremas bongkahan padat belakang wanita itu. wanita itu semakin merengek-rengek manja, saat Ahnan meremasnya dengan kuat. wanita itu sampai mengigit bibir bawah saking menikmati tangan Ahnan.


"Kita lanjutkan, malam ini masih panjang." Wanita itu menempatkan dadanya pada Ahnan.


"Tidak malam ini, aku harus pulang," ucap Ahnan setelah menenggak minuman memabukkan miliknya.


"Kenapa pulang? aku belum memuaskanmu." Wanita itu mengedipkan matanya manja, tangannya sudah menjelajah masuk ke dalam kemeja Ahnan.


Menyusup membelai dada laki-laki itu, menggodanya dengan nakal.


"Lepaskan tanganmu Jina, aku harus kembali. Pria tua itu semakin cerewet akhir-akhir ini."

__ADS_1


Ahnan meletakkan gelas kosong dengan keras di atas meja, ia kemudian bangkit dari duduknya. Meskipun enggan ia harus pulang, apalagi istrinya juga semakin cerewet di masa kehamilannya sekarang.


Dengan diantar sopir, Ahnan pulang. Setelah beberapa lama perjalanan akhirnya ia sampai di sebuah rumah besar.


Entah berapa gelas minuman yang ia nikmati di tempat hiburan itu, Ahnan berusaha berjalan meskipun sempoyongan.


"Ahnan!" teriak seorang wanita yang tak lain adalah Veronica, istrinya.


Ahnan menoleh, ia memicingkan matanya berusaha untuk mengenali sosok yang berjalan ke arahnya.


"Apa kau harus seperti ini tiap hari, sebentar lagi kau akan menjadi seorang ayah. Tunjukkan sedikit tanggung jawabmu!"


Ahnan berdecih sebal, suara ini. Ia tidak berharap pulang dengan sambutan sang pemilik suara, kepalanya terasa lebih pening, saat ia harus mendengarkan ocehan istrinya.


"Anakmu baik-baik saja kan? apa itu tidak cukup?" tanya Ahnan balik.


Tubuh pria itu terhuyung ke belakang, ia berpegangan pada meja dibelakangnya agar tidak jatuh.


"Dia juga anakmu, darah dagingmu. Kenapa kau bicara seperti itu?"


"Hehehehe ... Hahahaha .... Darah daging, apa kau yakin? kau bisa melakukan hal itu saat masih bersama pria busuk itu, bagaimana kau menjamin kalau itu anakku."


Plak.


Veronica meradang, sebuah tamparan keras ia berikan pada suaminya itu.


"Jaga bicaramu, kalau kau tidak merayuku aku tidak akan pernah bersama denganmu! kau yang membuat hidupku hancur!" teriaknya marah.


"Hancur? .... Hahahaha .... Aku membelimu dengan harga mahal, apa aku harus mengingatkanmu harga yang aku harus bayar pada keluargamu," ujar Ahnan, pria itu kemudian melanjutkan langkahnya ke kamar.


"Kau ...kau hey!" teriak Ahnan pada Veronica.


Veronica menatap tajam pada Ahnan, ia tidak ingin menjawab panggilan Ahnan.


"Bisu ya ... ya, begitu juga lebih baik. Aku tidak harus mendengarkanmu mengoceh setiap hari. Siapkan air aku mau mandi!"


Ahnan berjalan sambil bersenandung tidak jelas menuju kamarnya. Kamar yang ia tempati bersama Veronica.


"Aaaghhh .... Sial, kau bayi sialan!" Teriak Veronica frustasi.


Menikah dengan Ahnan setelah hamil di luar nikah membuat kehidupan wanita itu 180 berubah, bahagia? kata itu jauh dari hidupnya. Dia memang tidak kekurangan harta, tetapi Ahnan pria itu begitu tidak menganggap dirinya sebagai istri.


Tiap pagi ke kantor dan pulang larut dalam keadaan mabuk, bahkan sering kali Veronica menemukan bekas percintaan di tubuh pria itu.

__ADS_1


Jika bukan atas nama baik keluarga, dan gelontoran dana yang di berikan oleh Hadid untuk keluarga Veronica, ingin rasanya dia pergi dari rumah ini. Sekarang ia menyesal karena melepaskan Aric, andai saja waktu bisa berputar kembali.


__ADS_2