Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Gudang


__ADS_3

Dalam sebuah gudang terbengkalai di salah satu dermaga, seorang wanita diikat di kursi kayu. Matanya masih terpejam karena efek obat bius.


Byur


Seember besar air dingin menguyur tubuhnya. Wanita itu perlahan membuka matanya, kepalanya masih terasa berat.


Lily berusaha untuk sadar, ia mengedarkan pandangan. Entah di mana ia berada sekarang, sebuah tempat dengan jendela kecil, yang letaknya cukup tinggi. Tempat itu penuh dengan debu, kotor, beberapa kotak kayu teronggok di sudut ruangan.


"Sudah puas melihat?!" sebuah suara yang Lily kenal membuatnya menoleh.


"Kau!" Lily sungguh terkejut saat melihat sosok yang berdiri di depannya.


Seorang laki-laki dengan membawa ember kosong, yang masih meneteskan air. Dia menyeringai menakutkan, matanya merah menatap tajam pada Lily. Ada kemarahan yang sangat disorot matanya.


"Iya aku, kenapa kau terkejut? Aku sudah bilang kan, kita searah."


"Apa mau mu? Lepaskan aku!" Lily berusaha meronta, ia menghentakkan kakinya berusaha untuk melepaskan tali yang mengikat tangan dan kakinya.


"Hahaha ... tidak semudah itu,. kau ingin lepas. Jangan harap!"


Braak


Lusius membanting ember yang dibawanya, Lily menjerit kecil, ketakutan.


"Lepaskan, sebelum suamiku datang dan menghajar mu!" Teriak Lily, wanita itu berusaha menyembunyikan rasa takutnya.


Lusius semakin geram, ia mendekat mencengkeram kuat dagu Lily hingga wanita itu meringis kesakitan.


"Suamimu, memang itu yang aku inginkan. Dia datang kemari, menemuiku ... sudah lama sekali rasanya aku tidak berdua dengan Aric."


Deg


Mata Lily melebar mendengar pria itu mengucapkan nama suaminya, apa sebenarnya hubungan pria ini dengan Aric?


Lusius tersenyum miring. " Tidak usah heran seperti itu, aku dan Aric lebih dekat dengan sahabat. Dan aku bertemu dengannya lebih dahulu daripada kau, wanita j*l*ng!" teriak Lusius, menghempaskan dagu Lily dengan kasar.


Lusius meludah kesamping, seolah ia jijik menatap wajah Lily. Kemarahan sangat terasa menyelimuti pria itu.


"Aku tidak tahu apa yang istimewa dari wanita murahan seperti mu, hingga Aric mau menyentuh tubuh kotor seperti ini." Lusius mendorong bahu Lily dengan kasar.


Lily hanya diam, menatap heran pada Lusius. Ucapan pria itu begitu ambigu, seolah ia tidak terima kalau Aric bersamanya.


Lusius mendekatkan wajahnya, hingga begitu dekat dengan Lily.


"Kau merubahnya, aku akan membuat kau dan anakmu lenyap, agar bisa membuat Aricku kembali seperti dulu," bisik Lusius penuh penekanan.

__ADS_1


"Ap-Apa maksudmu?"


Lusius menarik dirinya, ia melangkah mundur beberapa langkah. Tangannya mengeluarkan sebuah remote kecil dan saku celana.


Lusius menekan tombol, deru mesin menggema di ruangan itu. kait katrol perlahan turun, seorang anak laki-laki digantung di sana. Mata Lily melebar, melihat Adam yang tidak sadarkan diri dengan tangan terikat pada kait katrol. Kain hitam menutupi wajahnya, mulut kecilnya juga disumpal dengan kain.


"Adam!" teriak Lily.


Air matanya mengalir seketika, melihat Adam. Ia tidak menyangka laki-laki itu tega berbuat sekejam itu pada anak sekecil Adam.


"Lepaskan dia! Lepaskan Anakku! Apa yang kau inginkan, heh? Uang? Aku akan memberikan semua yang aku punya, tapi Lepaskan dia, lepaskan Adam!!" Teriakannya kencang.


"Hahaha ... Kau menawarkan uang? Ciuh ... aku tidak kekurangan sama sekali."


Lusius kembali mendekati Lily.


"Aku bisa saja melepas kau dan anakmu, tapi tentu ada syaratnya. Dan yang jelas bukan uang," Lusius berkata dengan santainya.


"Apa yang kau inginkan?"


"Aku ingin Aric," jawab Lusius dengan pasti.


Lily memelototkan matanya, ia menggeleng cepat.


"Kau gila!" teriak Lily lagi.


Laki-laki itu sangat terobsesi pada suami Lily, kenapa dan mengapa Lily juga tidak tahu. Semua ini pasti berkaitan dengan masa lalu Aric.


Pintu gudang berderit membuat Lily dan Lusius menoleh kearah pintu masuk. Seorang laki-laki, berbadan tegap berjalan masuk dengan penuh amarah.


"Aric, akhirnya kau datang." Lusius merentangkan kedua tangannya menyambut Aric dengan bahagia.


Mata Lily berbinar, sang penyelamat sudah datang. Aric menatap tajam pada Lusius, dan kemudian. Sebuah pukulan ia hadiahkan di perut Lusius.


"Bangs*t kau Lusy!"


Aric menendang Lusius dengan keras, hingga laki-laki berambut pirang itu terhuyung ke belakang dan jatuh.


"Kau tidak apa-apa, Sayang?" tanya Aric dengan cemas.


Lily hanya bisa menggeleng, dengan air mata yang terus mengalir. Aric memeluk tubuh istrinya yang basah kuyup, bibirnya wanita itu memucat.


"Adam, selamatkan Adam," ucap Lily di sela tangisannya.


"Aku akan menyelamatkan kalian, maaf. Maafkan aku."

__ADS_1


Lusius tertawa lepas, melihat Aric yang begitu sayang pada istrinya. Membuat Lusius semakin muak pada Lily.


"Mau membawa Jal*ng itu. Tidak semudah itu Aric,'


Lusius mengambil sebuah balok kayu, dengan cepat ia berlari kearah Aric.


"Awas!" pekik Lily. Aric semakin mengeratkan pelukannya pada Lily, melindungi tubuh wanita itu dalam dekapannya.


Brak.


Balok kayu itu patah, setelah menghantam kepala Aric. Darah segar mengalir dari luka di kepalanya.


"Aric!!" Pekik Lily, cair merah itu menetes dari helaian rambut hitamnya.


Aric sedikit melonggarkan pelukannya, ia menatap wajah istri yang berderai air mata.


"Aku baik-baik saja, jangan khawatir. Apa kau tidak terluka?" Lily menggeleng cepat.


Lusius semakin geram, saat terluka seperti ini. Aric bahkan Aric melindungi wanita itu dengan tubuhnya yang berharga.


"Kalian masuk!" teriak Lusius pada anak buahnya.


Empat orang berbadan kekar masuk. Lusius memberikan kode untuk menjauhkan Aric dari Lily. Dan dua orang lagi di perintahkan untuk mengurus Adam.


Dua orang menarik paksa Aric, hingga pria itu melepaskan pelukannya, kepala Aric terasa sedikit pening. Membuat dia tidak bisa melawan.


"Well ... kau sepertinya sangat mencintai keluarga kecilmu A. Bagaimana kalau begini saja, aku akan berbaik hati kali ini, aku berikan dua pilihan. Pertama, kau bisa berkerja sama denganku dan aku akan melepaskan kalian semua, atau kedua, kau berduel denganku. Satu lawan satu, tapi kau hanya boleh melawan satu kali jika aku sudah menyerangmu 3 kali. Bagaimana? Adil kan?"


"Jangan, kau gila. Pilihan macam apa itu?!"


"Hahaha ... Lihatlah A, bahkan wanita j*l*ng ini menyebutku gila, menarik sekali."


Aric menatap tajam pada Lusius, Ia meronta hingga kedua laki-laki itu melepaskan pegangannya.


Aric menarik kerah baju Lusius, hingga wajah mereka hanya tersisa sejengkal. Rahang Aric mengeras, ia sangat marah mendengar Lusius menyebut istrinya dengan sebutan j***ng.


"Tutup mulut kotor mu! Atau aku kan menyesal membuatmu pernah mengenal ku!"


Bukannya takut, Lusius malah tersenyum lebar, ia bergitu senang melihat tatapan Aric yang bengis.


"Jadi kau pilih yang mana, pertama atau kedua?"


Lusius mengisyaratkan matanya kearah Lily.


"Bedebah kau!" teriak Aric, saat melihat anak dan istrinya.

__ADS_1


Anak buah Lusius mengalungkan senjata tajam pada leher Adam.dan Ibunya.


__ADS_2