Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Orang Lain Yang Tak Dikenali


__ADS_3

"Buat apa kamu di sini?" Baru membuka pintu ruangan, Bia sudah mendapat bentakan kasar dari Cloena. Wanita itu berbaring di ranjang pasien yang lumayan lebar. Sama sekali tak ada makanan apapun di atas meja. Hanya ada sebotol air mineral.


Dengusan terdengar dari mulut Bia. "Lagi sakit saja, suaranya masih kencang," ledeknya. Bia masuk ke dalam ruangan dan menutup pintu. Meski sedikit ketakutan, Bia tetap melancarkan aksinya.


"Siapa suruh kamu masuk?" tegur Cloe.


"Manager kamu," jawab Bia singkat.


Wajah Cloe semakin terlihat kesal. Wanita itu memalingkan pandangan. Kemudian Cloe bangkit dan duduk setengah terbaring di ranjang pasien.


"Menyebalkan! Kenapa dia membiarkan wanita ini masuk. Merusak moodku saja," omel Cloena sambil berkacak pinggang.


Bia berjalan semakin mendekat. Ia lihat selang infus dan juga darah yang menempel di tubuh Cloe. Wajahnya juga sangat pucat dan sangat jelas lingkaran hitam di bawah matanya. Dia depresi, pikir Bia. "Jadi kamu beneran nyoba bunuh diri?" tanya Bia dengan polosnya.


"Apa ada orang yang bunuh diri nyoba-nyoba? Kalau gak mati namanya gagal. Gak ada otak, ya?" protes Cloe.


Bia terkekeh. "Makanya jangan sering bersandiwara. Apalagi balas pesan pakai nomor orang," sindir Bia. Cloe meliriknya. "Kamu pikir aku dan Dira gak tahu kalau kamu pakai nomorku untuk bohongin Dira?"


Lidah Cloe berdecak. Ia terlihat sekali kecewa. Namun, tak ada wajah penyesalan tersirat di sana. "Sudah kuduga, kalau Dira tahu, dia pasti kembali padamu." Kemudian Cloe terkekeh. "Tidak! Tahu atau tidak, dia tetap akan kembali padamu. Cepat atau lambat," ungkapnya.

__ADS_1


Bia menyimpan buah-buahan yang sempat ia beli di meja pasien. Kemudian menarik kursi tamu sejauh dua meter. Takutnya tiba-tiba Cloe menyerang. "Kamu sudah insaf?"


"Masalahku lebih besar dibandingkan harus merebut seorang pria. Aku bosan, untuk apa berusaha keras jika hatinya tetap milik wanita lain," keluhnya. Ia lirik Bia. "Jaga dia baik-baik, pria seperti dia belum tentu akan kau temukan lagi."


Rasanya geli mendengar itu terucap dari mulut Cloena. "Baguslah, tapi ingat! Aku tak merebutnya darimu. Sejak awal, Dira itu milikku. Dia kekasihku dan ayah dari putraku," tekan Bia.


"Terserahlah. Kau memang menang banyak dariku." Wanita itu turun dari ranjang pasien. Bia ikut berdiri dan tetap jaga jarak.


"Tak perlu takut, tanganku dijahit jadi tak bisa menampar orang. Tangan satunya juga lemas. Lebih baik kau pergi, Dira akan berpikir jika aku macam-macam lagi padamu."


Sambil berkata begitu, Cloena berjalan menuju pintu keluar. "Hei, mau kemana kau? Jangan bilang mau loncat dari gedung?" tegur Bia.


Ia berjalan menuju pintu. Namun, Bia dibuat kaget bukan main. Cloe kembali masuk lalu menutup pintu. Wajahnya panik luar biasa. Matanya melihat sekeliling ruangan seperti mencari sesuatu. Hingga mata Cloe terpaku pada lemari pakaian kosong.


Lekas Cloe menarik Bia ke sana. Ia buka pintu lemari dan mendorong wanita itu masuk. "Ada apa?" tanya Bia bingung.


"Masuk ke dalam sana. Jangan sampai kau ketahuan dan terlibat. Dira bisa membunuhku," ucapnya. Suara Cloe terdengar bergetar.


Bia mengangguk saja. Cloe lekas menutup lemarinya. "Apa ada Dira datang?" pikir Bia. Ia membuka sedikit pintu lemari untuk mengintip.

__ADS_1


Pintu kamar itu terbuka. Seseorang masuk dari sana. Bukan pria, tapi seorang wanita mengenakan mantel bulu abu-abu dan clutch hitam berhiaskan permata. Wajahnya masih terlihat muda. Cloe berdiri tegak berhadapan dengan wanita itu.


Terdengar langkah kakinya karena hak sepatu stiletto yang ia kenakan berbenturan dengan lantai. Cloena melipat tangan di depan dada. Mulut Cloe hendak berkata, tapi mulutnya langsung dibungkam dengan tamparan keras yang mendarat di pipinya.


"Dasar wanita j*lang!" bentak wanita itu pada Cloena dengan suara yang lantang.


Bia menutup mulut dengan telapak tangannya. Begitu keras tamparan wanita itu pada Cloe hingga, Cloe jatuh terseungkur. Bia hendak menolong, sayang Cloena memolototinya dari luar. Ia seakan memberi kode agar Bia tetap bersembunyi di sana.


"Apa kaugila?" Cloe balas membentak. Ia mencoba bangun dan lagi didorong wanita itu. Rambut Cloe dijambak, meski Cloe berteriak kesakitan, wanita itu sama sekali tak melepaskan Cloe.


"Kau ini, harus aku bun*h saja sejak dulu. Sekarang beraninya kau menganggu suamiku! Pelac*r sepertimu sama sekali tak pantas hidup di dunia ini," hinanya pada Cloe.


Bia bergetar hingga terasa dingin di telapak kaki. Ternyata ada juga wanita yang jauh lebih menyeramkan dari Cloena.


"Heh! Jangan sebarang menuduh! Aku tidak menganggu suamimu! Pria mbe rengsek itu duluan yang datang padaku! Aku tekankan sebelumnya, dia hanya sampah bagiku!" kilah Cloe.


Wanita itu menyeret Cloe dengan menarik rambut. Cloe menjerit. Bia sama sekali tak tega melihatnya dan lagi, Cloe masih tetap memberi kode agar Bia tetap di sana.


🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2