
"Darimana kaupunya kekuatan seperti itu?" tanya Cloena. Matanya berkaca-kaca mendengar pernyataan Bia.
"Dari dia. Saat melihatnya di layar USG aku langsung memiliki keberanian," timpal Bia.
Cloe menunduk. Ia tatap kedua kakinya. "Benar. Anak membuat seorang ibu menjadi kuat. Termasuk menjadi kuat meski ia tahu itu salah." Cloe berpindah menatap jam di dinding.
"Jujur aku sangat iri denganmu. Dari dulu sampai sekarang. Iri karena kamu jauh lebih kuat dariku. Kalau saja aku sekuat kamu, aku gak akan memilih jalan seperti ini."
Melihat wajah Cloena saat mengatakan itu, Bia seperti melihat dirinya sendiri tiga tahun lalu. Melihat wanita yang putus asa karena dunia tak menerimanya.
"Mungkin kamu gak tahu. Dira selalu membanggakan kamu pada semua orang. Katanya Bia itu pintar, manis, lucu. Dia selalu marah jika temannya menghina fisikmu. Aku iri, kenapa wanita yang sepertimu bisa begitu dicintai. Lalu aku? Apa kurangku? Aku cantik, populer, tapi tak ada pria yang mencintaiku setulus itu," cerita Cloena.
Mendengar itu, Bia seperti mendapat tamparan. Bahkan Cloena yang pernah merebut Dira darinya, percaya jika Dira sangat mencintai Dira. "Karena itu kamu merebut Dira dariku? Karena kamu pikir dia bisa mencintamu seperti mencintaiku?"
Cloena mengangkat salah satu sudut bibirnya. "Aku bukan anak-anak yang memikirkan masalah cinta. Meski aku iri sama sekali tak ada niatku merebut Dira darimu. Meski aku sebenarnya pernah kesal karena kamu lebih memilih cita-cita dibanding mendampingi Dira di Heren. Kamu gak ada saat dia diusir, juga saat dia tak punya uang sepeser pun."
Bia tahu itu, Dira pernah bercerita bagaimana ia tidur di halte karena diusir tanpa selembar pun uang. "Aku punya tante. Dia tak punya siapa-siapa selain aku. Aku juga tak tahu Dira kesulitan. Kalau saja, waktu itu kamu tak menipunya, aku pasti akan susul dia ke sini dan bawa dia pulang. Kalau tak berniat merebut, kenapa akhirnya kau menipu suamiku?"
"Karena aku butuh dia untuk bertahan hidup, untuk bahagia dan berlindung," jawab Cloe.
__ADS_1
Bia tertawa. "Kau hanya peduli dengan hartanya."
"Makanya aku bilang kau itu naif. Untuk sebagian orang, harta digunakan untuk bersenang-senang. Aku tidak, aku butuh harta Dira untuk berlindung."
Bia melipat tangan di dada. "Karena itu setelah gagal dengan Dira, kau menggoda Haley Alvonz? Karena dia mantan pacar yang masih mengejarmu?" tebak Bia.
Tawa Cloe menggelegar. "Bersyukurlah kau dicintai pria seperti Dira. Kalau kau ada diposisiku, kamu juga akan pilih jalan yang sama. Tak semua pria seperti Dira Kenan. Dia bisa mengorbankan segalanya demi melindungimu, sebagian malah seperti pengecut yang memilih melarikan diri. Jaga dia baik-baik. Seburuk apapun dia, dia masih jauh lebih baik." Tak jelas apa yang dimaksud Cloena. Wanita itu melihat ke arah Divan lalu tersenyum.
"Untung anak itu tumbuh dengan baik. Kalau kenapa-napa, aku akan sangat membenci diriku sendiri. Aku tak akan bunuh diri. Seperti yang kamu bilang, seorang ibu harus kuat. Jangan pikirkan Haley, aku janji dia tak bermaksud apapun pada Dira. Justru semakin kau terus datang padaku, dia akan semakin terpancing untuk mengganggu kalian. Pergilah, hidup dengan tenang. Maafkan aku yang melibatkan kalian berdua."
Bia tahu apa yang dikatakan Cloena memang jujur. Hanya saja, apa yang ada di pikiran Haley Alvonz belum tentu begitu. "Bukan karena perusahaan?" tanya Bia memastikan.
"Dia hanya ingin aku dan Dira berpisah. Tujuannya sudah terjadi, dia tak akan macam-macam lagi. Sasarannya adalah aku. Karena itu lebih baik jangan dekatku lagi."
"Katakan apa masalahmu dengan Haley. Aku janji akan membantu, aku juga izinkan Dira membantumu," tawar Bia.
Cloena menggeleng. "Kau tidak takut aku merebut Dira lagi?" kelakarnya.
Mata Bia melotot. "Cloena! Aku tahu kau butuh pertolongan sekarang dibanding memikirkan cara merebut suami orang! Aku tahu kau ketakutan saat Gwen Alvonz menyiksamu kemarin. Aku pernah ada di posisimu. Tentu aku mengerti."
__ADS_1
Cloe malah tersenyum sinis. "Dira tidak salah. Dia benar, kau memang terlalu baik."
"Aku tahu diri, Drabia. Aku hancurkan hidupmu, aku buat kau kehilangan banyak hal. Apa pantas aku masih meminta pertolongan darimu?" Cloena mengepalkan tangan. Ia malu dengan dirinya sendiri. Wanita yang ia buat menderita bertahun-tahun malah menawarkan diri untuk menolong.
"Saat kau merebut Dira, kau tidak tahu aku sedang hamil, kan?" tanya Bia. Cloe mengangguk. "Aku memang bod*h dan naif, karena itu aku akan menolong dirimu," tambah Bia.
Cloe tertegun, ia tak mampu berkata-kata. "Sekarang, apa yang bisa aku bantu untuk menolongmu? Kita harus hancurkan Haley Alvonz. Bukan hanya untukmu saja, aku lakukan ini agar pria itu tidak mengganggu Dira."
Butuh menghitung hingga lima puluh bagi Cloe untuk menjawab tawaran Bia. Cloe menunjuk tasnya. "Di sana ada foto dan buku harianku. Hanya itu bukti yang aku miliki sekarang. Aku yakin seseorang yang diam masuk ke apartemenku sudah membawanya," ungkap Cloe.
"Ada orang yang menyelinap ke apartemenmu? Kapan?" tanya Bia.
"Sebelum semua skandalku muncul dipublik, kalau aku tidak salah ingat. Kenapa?" tanya Bia.
"Apa kamu pernah bertemu Haley di apartemenmu belakangan ini?" tanya Bia mencoba menarik benang merah.
Cloe menggeleng. "Sebelum pulang ke Emertown, aku melihat Haley Alvonz masuk ke lift dari lantai dua puluh di mana apartemen kamu ada."
Cloe meneguk ludah. Terdengar suara tawanya jengkel. "Dia semakin licik saja. Dasar pengecut!" umpat Cloe.
__ADS_1
Bia lagi-lagi menggeleng dan menutup telinga Divan. Syukur Divan lebih fokus bernyanyi sambil memasang lego dibanding mendengar pembicaraan rumit ibu dan mantan selingkuhan papahnya itu.
🍁🍁🍁