Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Membasuh Rindu


__ADS_3

Kesepian adalah ketakutan dalam kelumpuhan.


Engkau telah menjadi racun bagi darahku.


Apabila aku dalam kangen dan sepi


itulah berarti


aku tungku tanpa api.


-WS RENDRA- KANGEN


🍁🍁🍁


Apalah yang bisa Bia lakukan ketika Dira tak ada. Menjaga anak, menyiapkan mereka makanan, memperhatikan kebutuhan mereka. Semua tampak normal dan baik. Bia masih tertawa ketika melihat perilaku kedua putranya dan masih mengeluarkan obrolan khas emak-emak ketika berbicara dengan pelayannya.


Namun, melihat pakaian-pakaian suaminya tergantung di lemari, rasa sepi itu mengusik batinnya lagi. Sudah tanggung jawabnya memang, menenangkan anak saat mereka menangis ingat papahnya pergi. Di lain tempat Bia juga tak bisa menampik jika rindu itu begitu menyiksanya.


Bia mengusap sisi lain tempat tidurnya. Bantal Dira masih tersimpan rapi di sana. Tak ada tubuh kekar yang biasa ia peluk tiap malam juga suara hangat yang mengucapkan selamat malam sebelum ia tidur.


Kadang dari situ Bia teringat. Jika suatu hari nanti mereka menua dan salah satu ada yang pergi lebih dulu, begini pasti rasa kesepiannya. Dari sini ia merasa beruntung karena orangtuanya pergi bersamaan sehingga tak ada yang ditinggalkan dan merasa kesepian.


Bia juga tak ada teman bicara selain pelayannya. Orang-orang di sekitar komplek rumah ini saja tak ada yang Bia kenal. Karena rumah-rumahnya besar juga halaman luas hingga orang-orang malas keluar rumah sekadar ingin bersilaturahmi dengan tetangga.


"Ah, Dira. Aku kangen," keluhnya. Ia ambil bantal Dira lalu ia peluk dalam dekapan. Tak ada wangi Dira tersisa di sana karena kepergiannya sudah teramat lama.


Terlebih bagi Bia, Dira bukan hanya suami. Ia partner, sahabat main sekaligus sahabat berbagi gunjingan. Tanpa ada Dira, rasanya seperti tabung tak berisi gas di dalamnya.


Bia terisak. Hanya permukaan bantal yang ia bisa cium. Hanya kehangatan benda itu yang melepas dinginnya. Meski tetap tak terasa menghapus apa yang menjadi beban dalam jiwa.


Lama-lama Bia mulai terlelap. Bahkan dalam mimpi ia masih mencari-cari Dira. Mimpinya juga tak pernah baik. Hari pertama mimpi Dira pulang tak bisa melihat dirinya, Dira kecelakaan sampai paling parah Dira pulang memperkenalkan istri baru.


Bia kadang ingin berusaha bagun dari mimpi itu, sialnya selalu sulit. Kadang setelah berhasil keluar, ia mendapati air mata keluar dari mata. Jika saja malam itu ia tak merasakan kecupan di pipi, Bia pasti akan terus terperangkap dalam mimpi itu lagi.

__ADS_1


Bia berbalik sambil masih terus berbaring. Samar dalam cahaya redup ia lihat seorang pria yang mirip dengan suaminya. "Dira, masa aku lihat kamu," ucapnya.


"Lha, emang selama ini kamu gak bisa lihat aku?" tanya Pria itu sambil menyalakan lampu kamar.


Bia masih mengedipkan mata. "Kamu kok beneran," ucapnya lagi sambil mengusap lengan Dira.


Toyoran Bia dapatkan dari jari Dira. "Kamu itu, bangun! Melek kok sambil mimpi," protes Dira.


"Dira!" pekik Bia sambil terperanjat dan duduk di atas tempat tidur. Ia pegangi wajah suaminya dan itu memang suaminya. Mata Bia melirik ke pintu kamar yang terbuka.


"Kamu beneran Dira?" tanyanya lagi saking tak percayanya.


Dira mengangguk lalu tertawa. "Kamu saking rindunya sampai gak percaya aku pulang, ya?" tanya Dira. Bia mengucek matanya karena masih tak percaya. "Kamu hitung hari aku pergi gak sih? Memang harusnya aku pulang sekarang, kan?" Jemari Dira mengacak rambut Bia.


Pipi Bia mengembung. "Jangankan ngitung hari. Ini hari apa saja aku lupa," jawabnya.


Jawaban itu membuat Dira heran. "Kenapa bisa lupa hari. Dari TK kamu diajarin lagu hari, kan? Divan saja sudah tahu lagunya," ledek Dira.


Dira mengangguk. Ia baru sadar jika Bia lebih banyak di rumah mengasuh anak mereka. Ia jarang keluar akibat selalu takut keluar sendirian. Katanya daripada ribet diikuti bodyguard, lebih baik diam saja di rumah.


"Divan sebentar lagi masuk sekolah, kenapa kamu juga gak daftarin Diandre sekolah. Kan sekolah anak usia itu sama ibunya. Kamu bisa bertemu ibu-ibu lain dan temenan," saran Dira.


"Boleh?" tanya Bia sambil memperlihatkan mata yang berbinar.


Dira mengangguk. "Kadang kamu harus bergaul juga. Jangan kayak dulu. Dulu kita masih satu sekolah, ketemu setiap hari. Sekarang aku harus kerja. Banyak jeda aku gak di rumah," jelasnya. Bia mengangguk.


Dira meraih wajah Bia dan mendekapnya dalam pelukan. Dengan lembut ia kecup kepala istrinya. Bia cekikikan. "Jadi suami rasa sahabat aneh, ya? Kadang kepalanya dikecup, kadang ditoyor," celetuknya.


Dira sampai terkekeh mendengar ucapan Bia. "Maaf, ya. Karena keputusanku pindah ke Heren, kamu jadi gak ada teman. Biasanya sama Sayu dan Anna, kan?" Hanya anggukan yang Bia perlihatkan untuk membalas ucapan Dira.


Bia melingkarkan tangan di pinggang suaminya. "Gak mau bilang kangen?" tanya Bia memancing keromantisan di antara mereka.


"Aku kangen banget sama Divan dan Diandre," celetuk Dira. Akibatnya ia mendapat pukulan di punggung dari Bia. Pria itu malah tertawa. "Iya, aku kangen sama ibu anakku karena terpaksa," tambah Dira.

__ADS_1


"Terus saja godain! Kamu tahu gak aku tiap hari ketakutan sendiri kamu pulang bawa istri baru!" protesnya.


Dira mengangguk. "Makasih banyak doanya." Lagi, Dira berkelakar. Bia melepas pelukannya lalu tidur menelungkup sambil memeluk bantal.


"Heh!" Dira mencolek lengan Bia. Istrinya hanya menggeleng sambil masih menenggelamkan wajah di atas permukaan bantal.


"Peluk sini," tawar Dira.


"Tahu, ah! Aku ngambek!" protes Bia.


Dira tertawa cekikikan. "Mana ada orang ngambek ngomong. Kayak Divan saja kamu, tuh. Ngegemesin," ucap Dira lalu mencium lekukan leher Bia.


Bia bergerak-gerak geli. Ia sempat menepis tubuh suaminya. Sayang Dira malah semakin sengaja menindih tubuh Bia dan terus mencium sepanjang punggung istrinya. "Dira, ah!" protes Bia.


Dira menggelitik pinggang Bia hingga wanita itu tertawa. Akhirnya Bia menyerah dan bangkit sambil duduk di atas tempat tidur. "Apa, sih?" tanya Bia ingin suaminya menjelaskan kode yang Dira berikan.


"Main, yuk. Mumpung anak-anak masih tidur, kita duluan yang kangen-kangenan," ajak Dira sambil mengusap punggung Bia. Sentuhan yang mampu memanggil rasa yang sama dalam diri Bia. "Aku mandi dulu. Kamu siap-siap," ajak Dira.


Bia mengangguk. Ia menunjuk pintu kamar. "Kunci itu dulu. Nanti ada yang lihat," sarannya.


Dira tersenyum jahil. Ia berdiri lalu berjalan menuju pintu dan menutupnya. "Mau main berapa putaran?" tanya Dira.


Bia nyengir. "Kayak biasa saja cuman kalikan rasa rindu," saran Bia.


🍁🍁🍁


Besok masih up ya. Berapa banyaknya aku nunggu pengumuman level dari NT saja 😉😁.


Soal Biru, aku tahu levelnya rendah karena banyak yang nabung bab atau sekadar baca episode awal lalu ditinggal, mungkin. Mungkin memang istri sang pewaris tahta tak sesuai selera pembaca di NT. hanya demi kalian aku mau tanggung jawab tamatin. mudah-mudahan NT naikin levelnya melihat kesungguhanku.


kalian kalau mah vote ADA boleh kok, daripada ke Biru yang bakalan up cmn sehari sekali. 🤧 makasih dukungan kalian buat ADA jadi aku gak 😁 sedih mulu akibat pretasi istri dari sang pewaris tahta. 🤧😭


Ini aku kasih permen 🍬🍬🍬🍬

__ADS_1


__ADS_2