
Bulan berganti, janin dalam kandungan Lily sudah menginjak trisemester ketiga. Wanita itu menjalani masa kehamilannya dengan penuh kebahagiaan, kabar tentang kebangkrutan perusahaan sang mertua sempat membuat Lily merasa sedih dan iba, apalagi saat mengetahui kalau Veronica sedang menghabiskan liburan di hotel berpagar hitam.
Lily sungguh tidak menyangka, Veronica tega melenyapkan darah dagingnya sendiri. Apa salah bayi itu? dia hanya sangat suci, terlepas dari bagaimana proses dua ada,seberapa benci Veronica padanya hingga wanita itu tega menghilang nyawa janin tidak bersalah itu.
Lily duduk dihalaman belakang mansion, menikmati sore bersama keluarga kecilnya. Aric baru saja pulang, setelah membersihkan diri dia langsung menemani Adam bermain bola.
"Ayo semangat Adam!" teriak Lily menyemangati.
Adam dengan riangnya, mengiringi bola melewati sang Ayah yang berusaha menghadang. Laki-laki kecil itu terus menendang bola dengan kekuatan penuh, dan akhirnya gawang yang dijaga oleh Marquis dibobol oleh tendangan keras dari Adam.
"Hore Gol!!" Pekik Adam gembira, Adam bersorak sambil berputar-putar.
Aric berkacak pinggang, sambil mengatur napas. Begitu juga Marquis, kiper dadakan itu merebahkan tubuhnya diatas rumput, dengan nafas yang tersengal-sengal. Sungguh melelahkan, bermain dengan anak seaktif Adam nyatanya bisa membuat Marquis kewalahan.
"Yeah ...! Anak bunda menang!" teriak Lily ikut bersorak kegirangan.
Helena yang melihat calon suami tergeletak kelelahan di atas rumput hanya bisa memutar bola matanya jengah.
"Marquis! Bangun!" teriakannya kencang.
Seketika itu juga, Marquis langsung berdiri tegak. Suara Helena layaknya komandan militer yang tak terbantahkan.
"Siap Honey!" sahut Helena.
"Kemari dan minum susunya!"
Mata Marquis berbinar, ia segera berlari kecil menuju Helena yang tengah duduk santai di samping Lily. Lily pun ikut memanggil kedua jagoannya dengan lambaian tangan. Aric mengangkat tubuh kecil Adam, kemudian menaruhnya diatas bahunya.
"Honey, apa aku harus minum susu di sini?" tanya Marquis dengan sorot mata berbinar penuh semangat.
Helena menyatukan keningnya. "Kalau tidak di sini di mana? Cepat minum."
"Kau yakin Honey?"
"Marquis Kang, aku tidak akan mengulanginya lagi. Cepat minum susumu!"
"Baiklah, aku harap kau tidak akan menyesalinya."
Lily yang mengerti arah pemikiran Marquis, hanya bisa menggeleng dengan menahan tawa. Marquis Kang, menatap Helena dengan penuh semangat, seperti seekor kucing yang siap menerkam ikan asin.
"Apa yang kau lakukan!" pekik Helena, dia mendorong keras tubuh Marquis yang hendak menerkamnya.
"Minum susu," jawab Marquis dengan polosnya.
__ADS_1
"Susumu ada di sana." Helena menunjuk susu coklat diatas meja.
Marquis memanyunkan bibirnya, raut wajahnya berubah langsung berubah masam. Lily yang melihat itu terbahak-bahak melihat raut wajah Marquis yang berubah dengan cepat.
"Apa ada yang lucu Sayang?" tanya Aric yang terheran melihat tawa sang istri.
"Ada seekor kucing yang gagal makan ikan," sindir Lily sambil melirik Marquis yang duduk menyesap susu coklatnya.
Dengan kasar, pria itu mendudukkan bokongnya disamping Helena. Aric menaikkan kedua alisnya tidak mengerti, ia menurunkan Adam dari atas bahu. Pria kecil itu, langsung menyambar susu kotak rasa stroberi miliknya. Aric, mendaratkan bokongnya disamping Lily dengan manja dia meletakkan kepala di pangkuan Lily.
"Ayah, ayo main bola lagi." Adam menarik tangan Aric, agar bangun dari pangkuan Bundanya.
"Ayah capek Sayang," kilah Aric.
"Uh .... Ayah nggak asik, ah." Adam berlari masuk.
"Kenapa tidak menemani anakmu?" tanya Lily sambil mengusap rambut Aric yang basah dengan keringat.
"Aku sedang mengisi baterai cintaku," jawab Aric santai.
"Lebay, dari mana kau belajar kata-kata mengelikan seperti itu?"
"Dari seorang musafir cinta, Sayang." Aric membenarkan posisi dipangkuan Lily.
Helena dan Marquis Kang, dari kedua orang itu sedikit banyak, Lily bisa tahu sisi lain suaminya yang belum ia ketahui. Lily cukup tahu saja, siapa dan apapun Aric Lily akan menerimanya.
Meskipun kadang Lily merasa khawatir dengan Aric, saat ia pamit ke markas. Tetapi Lily selalu berusaha meyakinkan diri, semuanya akan baik-baik saja. Aric tidak sendirian ada begitu banyak anak buah, Helena juga Marquis yang juga akan menjaganya.
"Bagaimana rencana pernikahan kalian?" tanya Lily.
"Sebentar lagi, seharusnya pernikahan kami sudah dilakukan sejak lama. Tapi karena satu alasan, semua harus ditunda sampai bulan depan," jawab Marquis yang terdengar seperti keluhan.
"Kau harus hadir Lily," ucap Helena,dia berusaha mendorong keras Marquis agar tidak menempel seperti tentakel gurita.
"Aku pasti datang, Jika dia juga datang." Lily beralih menatap suaminya yang sedang menikmati usapan lembut tangan lentiknya.
"Jika aku tidak datang mereka tidak akan bisa menikah, Sayang," ujar Aric santai.
"Kenapa?"
"Karena aku adalah wali dari mempelai pria."
"Benar juga, berarti aku juga walinya kan. Ini seperti kita akan menikahkan anak sulung kita, Sayang."
__ADS_1
"Cih, anak. Siapa yang sudi punya anak seperti dia," ucap Aric dengan nada ketus.
"Siapa juga yang mau punya Bapak kamu!" sahut Marquis tak mau kalah.
"Memangnya aku sudi jadi Bapakmu."
"Aku juga tidak sudi jadi anakmu."
"Ya sudah, nikah sendiri sana."
"Kau-." Marquis tidak bisa membalas ucapan Aric lagi. Bisa gawat kalau Aric benar-benar tidak mau menjadi walinya.
"Sudah-sudah, kenapa ribut sih..?! Sayang, katanya kau punya hadiah untukku mana?" tanya Lily mengalihkan topik pembicaraan.
"Belum siap sepenuhnya, Sayang. Mungkin satu minggu lagi," ujar Aric mengangkat kepalanya dari pangkuan Lily.
"Hadiah apa yang membutuhkan waktu begitu lama?" tanya Lily penasaran.
"Sesuatu yang akan membuatmu merasa sangat bahagia." Aric bangkit dari duduknya, ia mengecup pipi istrinya sebelum mengajak Lily untuk masuk.
"Kalian berdua bisa pulang," titah Aric pada kedua tamunya.
"Hey setidaknya, berikan kami makanan dulu. Sebentar lagi waktunya makan malam, aku sudah lama tidak menikmati masakan Mateo," sahut Marquis.
"Terserah."
Marquis bersorak kegirangan, sementara Helena hanya bisa menghela nafas melihat
tingkah laku Marquis yang begitu kanak-kanakan.
"Sesenang itu?" tanya Helena.
"Tentu saja, Honey. Setelah kita menikah, aku tidak tahu lagi kapan kita bisa berkumpul seperti ini," jawab Marquis dengan serius.
Helena menatap lekat wajah sang kekasih, apa yang dikatakan Marquis benar. Setelah mereka menikah, Marquis dan Helena harus memegang penuh White Clown dan juga memimpin keluarga Martinez, dua organisasi besar yang bersatu, bukanlah hal yang mudah. Mereka pasti akan lebih banyak menghabiskan waktu di markas.
Helena mengecup lembut bibir Marquis, singkat.
"Apa yang kau katakan, hem? Apakah menikah denganku membuatmu menderita?"
"Kau tahu bukan itu maksud, Honey. Aku hanya ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan Paman itu sebelum dia sibuk dengan bayinya," kilah Marquis.
Saat keluarga kecil Aric sedang menikmati makan malam. Sebuah keluarga sedang memohon belas kasih dari seorang petugas Bank, agar mereka tidak menyita rumah yang mereka tempati.
__ADS_1