Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Nekat


__ADS_3

Divan baru bangun pukul sebelas siang. Lekas Bia memandikan dan memakaikan pakaian berupa overall bergambar keropi dengan dalaman kaos putih polos. Tak lupa, Bia juga memakaikan jaket dan mantel karena di luar suhu sangat dingin.


Ia harus cepat-cepat pergi dan pulang. Takutnya Dira keburu pulang saat Bia masih di luar. Kalau main ke tempat lain gak masalah, hanya ini Bia nekat akan mendatangi Cloena. Memang terdengar gila, tapi mau bagaimana lagi. Mungkin ia bisa membuat Cloena insaf.


Akhirnya ibu dan anak itu pergi juga. Di tengah perjalanan, Bia mengganti niat. Tadinya ia ingin membawa Divan. Sayangnya ia lupa jika bahasa Cloena kasarnya melebihi permukaan amplas.


"Divan mau main sama Kakak Emelie?" tawar Bia.


"Mau, donk. Divan kangen cangat-cangat," jawab Divan tanpa ragu.


"Mainnya sendiri saja, ya? Mamah nanti jemput," sarannya.


Divan memutar bola mata, pikirnya kalau Bia tak ada di sana, ia akan puas bermain tanpa dilarang. "Iya, mah. Divan udah hebat. Mau sendili ja," jawabnya.


Akhirnya Bia mengantarkan Divan ke kediaman Daren. Tiba di sana, Bia langsung disambut kakak iparnya. Sora seperti biasa, selalu terlihat cantik.


"Hallo!" sapa Emelie melihat Divan ada di sana. Meski beda dua tahun, mereka seperti seumuran karena Divan dan Emelie sama tingginya.


"Bagaimana rasanya pulang ke Heren lagi?" tanya Sora. Mereka berempat kini duduk di ruang tamu dengan desai modern. Beberapa perkakas di sana bernuansa warna abu-abu. Sementara tembok ruangan penuh dengan warna putih.


"Syukur, masyarakat belakangan ini teralihkan dengan berita lain. Jadi kami bisa ke sini dengan tenang. Dira juga sudah bekerja," jawab Bia. Ia melirik ke sekitar ruangan. "Kak Daren juga ke kantor?"

__ADS_1


Sora mengangguk. "Iya, dia ada proyek baru dan setahuku Dira mengurus bagian papah. Daren lebih banyak kerja di lapang, sehingga tidak ada waktu menggantikan pekerjaan papah di kantor."


Bia mengangguk-angguk. "Kak, ini loh. Aku ngerasa gak enak sebenarnya. Divan ingin main dengan Emelie, kangen kayaknya. Hanya aku ada urusan jadi gak bisa ngawasin dia di sini," ucap Bia. Ia sedikit merasa malu ketika mengucapkannya.


Sora menepuk pelan bahu Bia. "Gak apa, lagian emamg biasanya kalau di sini Divan selalu baik. Aku juga senang Emelie ada teman lagi. Dia sedih banget waktu tahu Divan ke Emertown."


Bia rasanya senang banget mendengar itu. Setelah yakin Divan bisa ditinggal, Bia cepat-cepat pergi menuju tujuan awalnya. Rumah sakit tempat Cloena di rawat, tak jauh dari rumah Daren. Sekitar setengah jam, Bia sampai di tempat tujuan.


"Pak, tunggu di sini saja. Saya gak lama, kok. Hmm ... satu lagi, tolong jangan kasih tahu Tuan Dira, ya?" pinta Bia sebelum keluar dari mobil.


Supir itu mengangguk. Barulah Bia turun dari mobil mengenakan masker dan juga topi. Ia tak tahu Cloena dirawat di lantai mana, sehingga ia putuskan bertanya pada petugas di lobi. Sayangnya, Bia tak menemukan jawaban. Dia terus ditolak dan hanya mendapat jawaban jika itu privasi.


"Saya kenal Cloena, Kak," Bia tak mau menyerah dengan mudah. Namun, petugas itu tetap saja bersikeras.


Bia harus menelan pil pahit. Meski pamornya turun, tetap saja Cloena seorang artis. Apalagi dia sedang diburu wartawan.


Bia mengangguk, ia berbalik dan berjalan menuju parkiran. "Tunggu," panggil seseorang sambil menahan bahu Bia. Lekas Bia berbalik. Ia temukan seorang wanita dengan rambut dicat blonde dan tubuhnya sedikit lebih pendek dari Bia.


"Maaf, apa tebakan saya benar? Anda ini istrinya Dira Kenan, 'kan?" tebak wanita itu.


Barulah Bia merasa terancam. Ia takut wanita itu seorang wartawan dan akan mengajukan banyak pertanyaan pada Bia. Terlihat dari pakaiannya yang santai, kaos juga celana jeans. Wanita ini juga berkaca mata.

__ADS_1


"Bukan, anda salah lihat mungkin," kilah Bia.


Wanita itu menggeleng lalu tersenyum. "Aku Cynthia, managernya Cloena. Jadi kau tak perlu menyembunyikam identitasmu," jelas Cynthia.


Bia nyengir, tapi ia ingat nama manager Cloena yang pernah menelpon Dira. Matteo bilang namanya memang Cynthia. "Hai, aku Bia. Salam kenal." Bia mengulurkan tangannya. Cynthia lekas membalas.


"Kenapa anda ada di sini?" Melihat keberadaan Bia, tentu saja Cynthia heran.


"Itu ... aku ingin menjenguk Cloena. Mungkin memang terlihat aneh, tapi aku dengan keadaan Cloe dari Matteo. Aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja," ucap Bia.


Cynthia mengangguk-angguk. "Ikut dengan saya," ajaknya. Cynthia berjalan lebih dahulu dan Bia mengikuti dari belakang. Mereka naik lift dan berjalan di koridor.


"Dira sama sekali tak datang ke sini?" tanya Cynthia.


Bia menggeleng. Ia bingung bagaimana harus menjawab. Mana mungkin ia jawab jika Dira tak peduli. "Dia sibuk di kantor untuk membantu papah mertua," jawab Bia.


"Tak apa, tak perlu anda tutupi. Aku tahu Dira sama sekali tak peduli. Ia pantas marah pada Cloena dan Cloe sendiri pantas mendapat itu," timpal Cynthia.


Bia tak menimpali. Ia hanya ber-ouh. Keduanya berhenti di sebuah pintu coklat yang hanya berdaun satu. "Ini kamar Cloe. Masuk saja, tapi aku gak bisa menemani. Aku harus bawa beberapa pakaian Cloe. Dia sudah mulai sadar dan permintannya mulai banyak," jelas Cynthia. Bia mengangguk.


Setelah berkata begitu, Cynthia kembali turun. Sementara Bia dia beberapa detik di sana sebelum berani membuka daun pintu.

__ADS_1


🍁🍁🍁


Jangan hujad dulu yak. hatiku rentan ini. Bentar lagi tamat jadi kalau ada konflik rebut2an laki-laki lagi gak muat. Ini sudah mulai bagian penyelesaian konflik. Gak ada yang oleng di sini. Baik rasa dira dan bia sama-sama setegar cintaku pada Jaehyun. 😍 okelah aku entar kasih adeknya Divan. 😐


__ADS_2