Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Garis Kedua


__ADS_3

Bia hari ini berteriak hingga membangunkan Dira. Kaget, membuat pria yang berhari-hari tak berdaya itu lekas bangun dan berlari ke kamar mandi untuk mengecek istrinya. "Bi, kamu kenapa?" tanya Dira.


Bia terdiam, ia berpaling pada Dira dengan mata terbuka dan mulut yang tertutup. "Ada apa, Bia?" tanya Dira khawatir. Ia dekati istrinya dan memegang pipi Bia.


"Lihat!" ucap Bia sambil memperlihatkan testpacknya. Beberapa hari lalu masih samar dan sekarang terlihat jelas. "Aku sampai sekarang gak datang bulan," tambahnya.


Dira terdiam. "Kamu hamil?" tanyanya. Bia dengan yakin mengangguk. Meski tak ada gejala mual dan muntah seperti dulu, kali ini dia yakin. Tak tahu keyakinan itu dari mana. "Kamu hamil?" tanya Dira lagi.


"Kayaknya iya. Siang nanti mau ke dokter saja lagi, ya?" tegas Bia.


Bia diam melihat Dira mematung melihatnya. "Kenapa? Kamu gak senang, ya? Belum siap?" tanya Bia bingung. Kemarin Dira sangat senang mendengar kemungkinan Bia hamil, saat ini lain ekspresinya.


Dira menggeleng. Ia meneteskan air mata lalu memeluk Bia dan menangis sesegukan. Bia mengusap punggung Dira. "Sekarang kenapa lagi, Pah. Kamu kenapa nangis?" tanya Bia.


"Aku takut, Bi. Takut gak ada lagi pas kamu hamil. Aku takut gak bisa nemenin kamu. Takut juga gak bisa buat kamu senang selama hamil," ungkapnya.


Bia menggeleng. "Gak kok, asal kamu di sini aku senang. Memang sekarang kamu mau ke mana? Kamu di sini sama aku, 'kan?"


Siang itu mereka ke dokter kandungan untuk memastikan Bia hamil. Setelahnya memeriksa kondisi psikologis Dira. Akhirnya penyakit aneh itu terjawab sejalan dengan kepastian dokter kandungan jika usia kehamilan Bia sudah masuk bulan ke tiga terhitung dari tanggal datang bulan di bulan pertama.


"Ini couvade syndrome. Biasanya memang diakibatkan karena stress akibat rasa kekhawatiran menghadapi fase kehamilan istri. Terlebih ada riwayat masa lalu yang tidak mengetahui keberadaan anak. Ini jadi pemicu semakin parah keadaannya," jelas psikiater yang juga mendampingi Dira untuk melepas ketergantungan obat tidur.

__ADS_1


"Jadi harus bagaimana, dok? Saya merasa terganggu karena fisik lemas, mual dan juga muntah," keluh Dira. Bagian yang paling menderita adalah nyeri di pinggang dan panggul.


"Harus banyak berinteraksi dengan istri selama kehamilan. Nyonya Bia juga bisa mengajak suami setiap malam berbincang dengan janin, misalnya. Yakin jika keadaan istri selama hamil baik-baik saja. Karena tidak ingin meninggalkan istri hamil sendiri, muncul rasa sakit dan lemas yang jadi alasan tidak pergi kerja."


Bia dan Dira mengangguk-angguk mendengar saran dari dokter ahli kejiwaan. "Coba berdua diskusi tentang rencana kehamilan ke depan. Kuncinya adalah komunikasi dan juga menerima keadaan. Jika mual lagi, atur napas dan cari udara segar. Mungkin dengan mengusap perut istri bisa membantu," saran dokter lagi.


Mungkin benar, sih. Sugesti paling memengaruhi seseorang. Pulangnya Dira kuat menyetir sendiri. Katanya takut Bia lelah. Ketika sampai, Dira juga menuntun Bia ke dalam rumah. Rasa lemas dan sakitnya mendadak hilang.


Divan duduk di ruang tamu sambil melipat tangan di depan dada. Bia menelpon memberi tahu kehamilannya pada Mrs. Carol. Sepertinya Mrs. Carol sudah memberitahu Divan soal itu.


"Maaf, Divan gak mamah ajak, ya?" tanya Bia. Ia peluk putranya itu, tapi Divan langsung menepis.


"Divan dak mau kasih mainan, dak mau kasih kamal Divan. Adik beli sendili!" protesnya.


Bia melirik ke arah Dira. Sudah bisa ditebak, pasti Divan menolak keberadaan adiknya. Dulu sempat ditanya soal adik, jawabannya dengan mantap bilang gak mau.


"Divan, dengar papah sebentar, ya?" pinta Dira.


Divan menggeleng. "Divan kucewa, papah. Ada adik dak tanyain Divan dulu," keluhnya seperti biasa sok dewasa.


"Adik ada gak bisa direncanakan. Seperti Divan dulu. Mamah dan papah juga gak tahu Divan akan ada. Meski begitu, mamah sama papah sayang sama Divan, 'kan? Divan juga sama donk. Adik nanti jadi teman main Divan, loh. Divan gak kesepian." Dira mencoba meraih pengertian anaknya itu. Usia tiga tahun memang membuat ia lebih egois karena masuk fase egosentris di mana ia merasa dunia ini berkonsentrasi untuknya.

__ADS_1


Divan melirik tajam Dira. "Papah uga dak suka sama Oom Dustin. Belantem saja!" ucapan anak itu telak membuat Dira tak bisa berkata-kata.


Bia memegang pipi Divan. "Wah, anak mamah makin tampan, ya?" puji Bia. Divan melihat wajah ibunya yang berbinar. "Nanti adik ini bakalan lebih ganteng siapa, ya?" Bia pura-pura berpikir.


"Divan lah!" celetuk Divan dengan tegasnya sampai berdiri di sofa.


"Kata siapa?" tanya Dira memancing respon putranya.


"Iya, Pah. 'Kan adik belum kelihatan wajahnya," pikir Bia.


Divan menyentuh jidatnya. "Kelualin dulu di pulut, lah!" sarannya.


Bia menggeleng. "Kan Divan gak mau adik. Gimana mamah mau keluarin. Kalau dikeluarin gak bisa masuk lagi. Divan juga, kan? Gak bisa masuk perut mamah lagi?"


"Kelualin saja dak apa. Bial liat Divan lebih ganteng. Dak masuk agi bial. Jadi semua liat Divan ganteng dali adik," ucap Divan pasrah.


"Biar dipanggil kakak ganteng, kakak tampan," puji Dira.


Divan mengangguk dengan bangganya. "Bagus itu! Ini Divan ganti saja. Ini kakak ganteng!" ucapnya sambil menunjuk diri sendiri.


🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2