Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Kesepakatan Ayah Dan Bayinya


__ADS_3

"Papah!" panggil Divan, langsung membuka pintu tanpa mengetuk. Dira yang sedang memainkan gitar kontan tersenyum melihat putranya itu. Padahal Divan juga baru dari kamar ini. Ia bilang ingin pergi ke Bia.


"Katanya gak akan ke sini lagi," sindir Dira sambil menyimpan gitarnya di nakas.


Divan menutup pintu dengan rapat. Lengan mungilnya sudah memiliki motorik yang baik, meski belum sempurna. "Divan kan laki-laki. Main sama laki-laki agi," jelasnya. Ia berjalan lalu naik ke sofa dan duduk di samping papah tampannya.


"Mereka ngomongin papah, gak?" tanya Dira penasaran. Sofa coklatnya memperdengarkan bunyi ketika Dira mengubah posisinya menghadap Divan.


Divan nampak berpikir. Ia juga tak mengerti wanita-wanita itu membicarakan apa. "Dak. Divan saja dicayang-cayang. Divan emes," jawabnya sambil berkedip dan menyentuh pipi.


Kali ini Dira hanya bisa terdiam. "Apa yang bisa aku harapkan dari balita," keluhnya.


Tidak hanya Bia, Dira juga mengalami hal yang sama. Setelah obrolan itu, Divan langsung turun ke karpet dan mengeluarkan mainanya. Dira ikut turun untuk menemani Divan bermain.


"Houh, tabak ja ogy, tabak!" lagi-lagi mobil lain jadi korban Roggy. Beberapa kali Divan menabrakkan hingga mobil sedan mainan berwarna hijau itu kehilangan lampu depan.


"Gawat kamu kalau sudah besar Papah kasih mobil, baru sejam sudah masuk bengkel," keluh Dira. Mobil sedan yang hancur itu baru kemarin ia belikan dan sekarang sudah pensiun.


Lumayan lama Divan main. Dira melirik jarum jam di dinding putih kamar resort. "Bereskan dibantu Papah, ya? Ini sudah malam, Divan waktunya tidur," saran Dira. Divan mengangguk saja. Bersama, mereka membereskan mainan.

__ADS_1


"Gendong," pinta Divan setelah mainannya kembali ke kandang. Dira mengangguk. Ia menggendong Divan sambil mengayun-ngayunnya pelan agar cepat tidur. Sayangnya, sudah beberapa kali ia mencoba tetap gagal. Divan bahkan tidak menguap sama sekali.


"Van, kamu gak sabar nunggu Mamah sama Papah nikah, ya?" tanya Dira. Divan mengangguk.


Dira membaringkan Divan di atas tempat tidur, lalu ia duduk setengah terbaring di samping putranya. Divan bangkit dan duduk di pangkuan Dira. Kepalanya bersandar pada lengan ayahnya. Dira mengusap rambut anak itu.


"Nanti kita akan pindah dari sini. Divan ikut Papah ke kota besar. Divan ingat pernah ketemu Papah di sana. Di sana Divan mainnya dengan sepupu, ya? Ada Kak Emelie dan Kak Leona juga. Gak apa-apakan gak ketemu Nenek?"


Divan berpikir sejenak. Hampir dua minggu jauh dari rumahnya yang dulu, ia kangen dengan Tante Melvi dan Neneknya. "Dak cama Nenek?" tanya Divan. Dengan mantap Dira menggeleng.


Ia baringkan Divan lagi. Kalau tidak, anak itu akan tidur lebih malah dan bangun kesiangan. Padahal pesta pernikahannya diadakan pagi hari.


Nampak wajah Divan kecewa. "Tapi Divan bisa sama Papah juga Mamah." Dira memberikan opsi lain yang paling Divan inginkan. Meski kecil, Divan tersenyum.


Dira mengangguk. "Kalau Papah libur, kita bisa mampir ke Nenek. Beli hadiah buat Nenek juga," jawab Dira.


Mata Divan mulai berat. Usapan halus di rambutnya dari tangan Dira membuat Divan nyaman. "Papa cayang Divan?" tanya anak itu polosnya.


Dira mengecup rambut Divan. "Sayang banget. Divan segalanya buat Papah," ucap Dira.

__ADS_1


Lampu kamar sudah Dira padamkan dan hanya tersisa lampu tidur bercahaya kekuningan yang menerangi. Mata coklat Divan menatap ke langit-langit. Ia sedang berpikir lumayan keras. Tangannya memelintir selimut putih yang menutup tiga perempat tubuhnya.


"Cayang Mamah uga?" Divan masih menginterogasi papahnya.


Dira terkekeh. "Apalagi Mamah. Kalau Mamah gak ada, Divan juga gak ada." Dira memeluk Divan dan menepuk-nepuk lengannya. "Nanti Divan mau punya adik bayi?" tanyanya nakal.


Mata Divan berbinar. Dia sering melihat bayi tetangganya dan itu lucu. "Mau." Divan begitu semangat menjawabnya. Telapak tangannya sampai menepuk-nepuk selimut beberapa kali.


"Nanti Papah sama Mamah punya adik bayi. Divan bisa main sama adik bayi. Divan minta saja sama Mamah kalau Divan mau adik bayi sepuluh, ya? Tapi jangan bilang kata Papah, kan Divan yang mau," nasehat Dira sesat.


Divan mengangguk saja. Namanya anak kecil dalam pikiran jika punya adik bayi sepuluh, dia tidak akan kesepian lagi. Divan juga tidak tahu pasti sepuluh itu sebanyak apa. Dia hanya tahu itu sejumlah jari-jari tangannya.


"Papah buat kamar Divan sendiri di rumah nanti. Kamarnya ada gambar robot di dinding. Papah juga beli mobil-mobilan yang bisa Divan naikin. Sama bonek pororo yang besar sekali."


Lagi-lagi mata Divan berbinar. "Divan boboknya sendiri saja. Kalau sama Mamah nanti mainan Divan dipinjam, loh!" Ia pintar juga memengaruhi putra kecilnya.


Divan sendiri dengan polos mengangguk. "Mamah bobokna di kulsi? Kacian," ucap Divan menyesal juga. Ia tahu jika dirinya tidur menjelajah kasur, pasti esok paginya melihat Bia tidur di sofa.


"Kamar Papah kosong. Mamah bisa tidur di kamar Papah," timpal Dira. Mendengar itu Divan merasa menang. Ia yakin mengangguk karena membayangkan banyak mainan tidak akan dipinjam mamahnya.

__ADS_1


🍁🍁🍁


Ayah yang baik memang ... bisa saja akal-akalannya.


__ADS_2