
"Gak angkat telponnya?" tanya Bia melihat layar ponsel Dira tak hentinya menyala. Dira menggeleng. Ia paling anti mengangkat telpon dari nomor yang tak tercatat di kontak. Mungkin karena sudah jadi kebiasaan ketika masih menjadi artis.
"Kalau orang penting gimana?" tanya Bia lagi.
"Kalau itu orang penting, pasti nelponnya lewat sekretarisku, bukan telpon pribadi," jawabnya.
Bia mengangguk. Lagian memang Dira sedang sarapan sebelum pergi ke kantor pagi itu. Bia juga kaget karena Dira bangun pagi sekali. Dira bilang semalam, ia hanya terbangun sebentar.
"Ya sudah, makan saja," saran Bia. Baru berucap begitu, ponsel Bia berdering. Itu telpon dari Matteo. Lekas Bia mengangkatnya.
"Maaf, Nyonya Dira. Cynthia menghubungiku meminta nomor Dira. Karena keadaan genting, aku berikan saja," ucap Matteo terdengar menyesal.
Bia menggaruk kening. "Cynthia itu siapa?" tanya Bia bingung. Ia kadang mudah lupa nama orang.
Mendengar kata Cynthia, Dira langsung mendelik ke arah Bia. "Kenapa?" tanya Dira. Wajah pria itu terlihat gusar.
"Kata Matteo, ia kasih nomor kamu sama wanita yang bernama Cynthia," ucap Bia.
Dira lekas mengambil ponsel Bia. Terlihat jelas urat-urat kekesalah tergurat di wajah pria itu. "Maksud kamu apa? Aku sudah peringatkan jangan pernah berikan nomorku pada orang-orang di belakang Cloena. Malah kamu berikan pada managernya," omel Dira.
Matteo menelan ludah. Suara Dira begitu lantang hingga membuat ia berdebar ketakutan. "Maaf, Dir. Masalahnya genting banget. Cloena tadi malam nyoba bunuh diri. Dia menyayat pergelangan tangannya sendiri," jelas Matteo.
Dira mendengus. "Selamat?" tanyanya pendek.
__ADS_1
"Iya, syukur Cynthia keburu tahu dan bawa Cloena ke rumah sakit," timpal Matteo.
"Ya sudah. Kalau meninggal baru aku datang melayat. Kalau masih hidup biarkan saja," jawab Dira datar kemudian langsung menutup telpon Matteo.
Layar Dira kembali menyala. Nomor yang sama menghubunginya. Kali ini ia tak ragu untuk menekan tombol blokir karena tahu asal nomor itu.
"Kenapa?" tanya Bia penasaran.
"Cloena nyoba bunuh diri," jawab Dira santai.
"Terus kamu diam saja?" tanya Bia bingung. Ia pikir Dira akan kasihan kemudian datang menghampiri wanita itu.
Dira mengunyah sarapannya. "Palingan settingan. Kalau beneran, dia pasti sudah mati sekarang," jawab Dira.
Dira memegang bahu Bia. "Justru karena masalahnya itu. Dia lagi narik simpati orang agar berhenti dihujat. Dalam dunia hiburan, jangankan bunuh diri. Nikah saja bisa jadi settingan. Mungkin lama-lama mati juga dibuat settingan," ucap Dira gemas.
Bia terdiam. Ia tatap layar ponselnya. Setelah makanannya habis, Dira lekas bangkit dari kursi makan dan berjalan menuju pintu keluar. Bia mengikuti Dira. Sampai di depan pintu, Dira mengecup kening istrinya. "Baik-baik di rumah. Jaga Divan. Aku janji cuman ke kantor, kok. Jangan curiga aku nyamperin Cloena," ucapnya.
Bia mengangguk. Ia tatap Dira yang masuk ke dalam mobil. Tak lama, mobil itu meninggalkan halaman rumah. Sampai mobil tak tertangkap lagi pandangan, barulah Bia masuk ke dalam rumah. Pikirannya masih terpaku akan sesuatu.
Bia kembali menelpon Matteo. "Ada apa, Nyonya? Ada yang perlu aku bantu?" tanya Matteo dari seberang sana.
"Apa Cloena beneran nyoba bunuh diri?" tanya Bia memastikan.
__ADS_1
"Iya. Saya tadi ke rumah sakit untuk jenguk. Pergelangan tangannya dijahit dan dia masih belum sadarkan diri. Aku juga kaget kenapa dia senekat itu. Cynthia memang menjelaskan keadaan ekonomi Cloena belakangan. Karena kasus, uangnya hampir habis untuk ganti rugi, sementara ia dipecat."
Senang? Jangankan ingin merasakan senang. Mendengar keadaan itu, Bia malah merasa kasihan. Ia pernah diposisi yang sama, dihujat, tak diterima bekerja sementara keadaannya sulit. Namun, berada diposisi itu membuat Bia lebih berempati pada orang lain.
Bia meneguk ludahnya. Ia berpikir sejenak hingga akhirnya mengambil keputusan. "Dimana Cloena dirawat?" tanya Bia.
Matteo mengerutkan jidat. "Kenapa Nyonya menanyakan hal itu?"
"Aku akan menjenguknya. Mungkin menunggu Divan bangun karena gak ada orang yang bisa aku titipkan. Mrs. Carol gak ikut ke Heren," jawab Bia.
Matteo menggeleng. "Jangan, nyonya. Kalau Dira tahu, dia bisa marah padaku nanti," tolak Matteo.
Bia merasa kecewa dengan jawaban Matteo. "Meski kamu gak bilang, aku masih bisa cari tahu di media," pikir Bia.
"Oke, gak apa-apa. Makasih banyak, Matteo," ucap Bia lalu mematikan telpon.
Setelah itu, Bia lekas membuka browser ponsel. Ia melakukan pencarian atas nama Cloena Parviz. Benar saja, banyak artikel bertebaran tentang berita percobaan bunuh dirinya. Meski nyata, tetap saja komentar begitu banyak yang menuduh Cloena settingan.
Ada salah satu artikel yang menyebutkan nama rumah sakit tempat Cloena dirawat. Bia mencari alamat rumah sakit itu. Ia akan meminta supirnya mengantar ke sana.
"Aku tahu ini bahaya, tapi dengan keadaan begitu Cloena pasti gak akan segalak biasanya. Setidaknya dia akan lemas jadi tak bisa melawan," pikir Bia.
🍁🍁🍁
__ADS_1