Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Got you !


__ADS_3

Hadid duduk terdiam dalam ruangan rawat Veronica, semua orang yang ada di sana menuntut keadilan atas calon bayi Veronica yang telah tiada.


"Aku tidak mau tahu Ayah, aku akan melaporkan wanita itu ke polisi.Dia telah membunuh calon anakku dengan sengaja!" teriak Ahnan.


"Kau benar Nak, putri kami butuh keadilan. Aku tidak rela jika ini hanya selesai dengan kata maaf," ujar Ayah Veronica, ia menatap sinis pada Hadid yang masih terdiam.


"Cucuku .... cucuku yang malang." Ibunda Veronica menangis sambil memeluk putrinya yang juga berlinang air mata.


Kepala Hadid berdenyut sakit. Aric, begitu percaya kalau istrinya tidak bersalah. Sementara orang-orang ini terus menekannya, jika boleh Hadid berharap semua ini bisa selesai tanpa ikut campur pihak kepolisian.


"Kenapa Ayah diam! Hanya karena dia Istri anak sulungmu, kau akan terus membelanya. Dia sama saja dengan ibunya, perusak rumah tangga orang lain." Hadid mendelik tajam pada putranya.


"Cukup Ahnan! jaga bicaramu!" tegas Hadid.


"Besan, kemalangan ini tidak ada seorangpun yang menginginkannya. Saya juga sangat terpukul dengan kejadian ini, percayalah saya akan mengurus masalah ini dengan baik. Anda tidak perlu khawatir, siapapun pelakunya, dia akan mendapatkan hukuman yang setimpal," ucapan Hadid membuat Veronica gugup, ia menunduk dengan raut wajahnya yang cemas.


Kenapa Ayah Hadid bicara seperti itu? Apa dia tahu sesuatu? tidak, tidak mungkin. Aku sudah mengatur semuanya dengan sempurna.


"Aku percaya padamu, tapi aku ingin semua ini diselesaikan secara hukum!" kekeh laki-laki yang sudah beruban itu.


Hadid bangkit dari duduknya, ia menepuk pelan bahu Ahnan.


"Jangan khawatir, Ayah tidak akan berat sebelah. Kalian berdua adalah darah dagingku, meskipun terlahir dari rahim yang berbeda!" tegas Hadid.


Hadid berjalan mendekati besannya yang berdiri di samping ranjang Veronica. Tatapan laki-laki itu menajam, ia terlihat begitu marah.


"Serahkan semuanya padaku, aku akan menyelidikinya. Kita tidak bisa bertindak gegabah, bagaimanapun mereka berdua adalah menantuku. Nama baik keluarga Gulfaam bisa tercoreng jika masalah ini sampai ke di ketahui orang lain," Hadid berusaha menjelaskan pada besannya.


"Halah ... sudahlah, tahu kau akan bicara seperti itu. Kau akan membela menantu barumu itu, ingat Hadid dia adalah anak dari istri sirimu saja, sedangkan dia. Anakku barulah menantu mu yang sah!" Pria itu menegangkan telunjuknya pada Veronica dengan bangga.


"Mereka semua anakku Salim! aku tidak pernah membeda-bedakan mereka!" geram Hadid, tangan pria itu mengepal kuat menahan amarahnya.


Ruangan itu hening sesaat, Salim dan istrinya cukup terkejut melihat Hadid. Mereka belum pernah melihat dia semarah itu.


"Selama masalah ini belum jelas, tidak ada seorang pun yang boleh melibatkan polisi, jika itu terjadi. Silahkan angkat kaki dari rumahku, anggap saja aku tidak mengenal kalian." Hadid keluar dari ruangan itu, ia harus menemui Aric dan menjelaskan bahwa dia akan menyelidiki kejadian ini.


Ahnan menatap geram pada punggung Ayahnya yang berlalu.


"Argh ...! Sial!" Ahnan memukul keras tembok dengan tangan kosong.

__ADS_1


"Mama, Papa, kalian istrirahatlah. Kalian pasti lelah setelah perjalanan jauh," Veronica berucap lembut, ia menatap wajah sang wanita yang tengah memeluknya.


"Tapi, kami ingin menemanimu di sini," ucap Ramzi dengan menatap sendu wajah putrinya.


"Ahnan akan menemani ku, kalian istrirahatlah. Aku tidak apa-apa," desak Veronica.


"Baiklah, kami akan kembali malam nanti. Aku dan Mamamu akan beristirahat di. hotel dekat sini."


"Kamu juga harus istrirahat, jaga kesehatanmu," Ucap Salim sambil mengusap lembut rambut putrinya.


"Iya Pa." Laki-laki itu menatap Veronica dengan sorot mata yang sulit diartikan.


Salim beralih menatap Ahnan.


"Kami pergi dulu, jaga Veronica dengan baik


" Ahnan hanya menjawabnya dengan anggukan.


Salim dan istrinya meninggal ruangan itu, meninggalkan sepasang suami-isteri yang baru saja kehilangan calon buah hati mereka.


Ahnan menarik satu kursi mendekat ke ranjang pasien, lalu mendudukinya secara terbalik.


Veronica tertawa kecil, ia menyeka sudut matanya yang berair. Wanita merapikan rambutnya yang berantakan.


"Kau juga lumayan, seperti orang yang benar-benar kehilangan," puji Veronica balik.


Ahnan tersenyum menyeringai, ia memang sudah sejak kama menunggu saat-saat seperti ini.


"Bagaimana kau merencanakan semua ini? Semuanya begitu sempurna, bahkan sampai Papa dan Mamamu ikut dalam sandiwara ini, Ver," tanya Ahnan dengan antusias.


Ia tidak menyangka istrinya rela kehilangan calon anaknya. Ya, meskipun Ahnan ragu kalau itu anaknya.


"Itu tidak penting, yang penting aku sudah menepati janjiku. Kau satu-satunya orang di perusahaan Gulfaam, Aric begitu marah pada Ayah mertua. Sepertinya kali ini dia benar-benar tidak ingin kembali ke rumah lagi," ujar Veronica dengan santai.


Veronica mengatur seorang yang menyamar sebagai OB. Mata-mata melaporkan kejadian di mar Lily.


Tak ada raut kesedihan di wajah pucat itu. Justru sebaliknya, ia terlihat begitu senang, seolah baru saja memenangkan lotre.


"Apa rencana mu selanjutnya Nyonya Gulfaam?" sebuah panggilan yang membuat Veronica tersenyum lebar.

__ADS_1


"Tidak ada, kita hanya akan menunggu. Ayahmu tidak akan bisa menemukan celah untuk membuktikan wanita itu tidak bersalah, jangan harap dia bisa kembali ke keluarga Gulfaam." Veronica meremas selimutnya dengan kuat, mengingat bagaimana Lily menggeser posisi duduknya Sebagai Nyonya Gulfaam.


Posisi Nyonya Gulfaam hanya untuk Veronica, tidak boleh ada yang mengeser posisinya di rumah itu.


Ahnan bangkit dari duduknya, ia meraih dagu Veronica. Kemudian ******* bibir pucat itu dengan ganasnya.


"Emh ... kau merusak riasan pucat ku," gusar Veronica


"Tenanglah, hanya ada kota di sini. Aku suka saat kau kembali licik, kau memang pantas jadi Nyonya Gulfaam," Ahnan terus menyanjung kepintaran Veronica yang berhasil memecah Hadid dan Aric, dengan begitu hanya akan ada dia yang berkuasa.


.


.


.


.


.


Aric mendorong kursi roda dengan Lily yang duduk di sana. Aric sengaja untuk pulang lebih cepat, ia juga akan menjemput Adam. dan Bi Asih pulang ke mansion mereka. Aric sudah muak dengan sikap Ayahnya.


"Aku bisa jalan, kenapa harus duduk di kursi roda seperti ini!" protes Lily.


"Sayang, dengarkan. Kau masih lemah, aku tidak ingin membiarkanmu melakukan apapun,"Jawab Aric dengan sungguh-sungguh.


Setelah sampai di dekat mobil, Aric membuka pintu, mengangkat Lily. Membantunya untuk duduk di kursi sebelah supir.


Tanpa Aric sadari, dari kejauhan sepasang mata sedang mengamati mereka. Sejak kemarin dia selalu membuntutinya.


"Got you A," ucapnya dengan seringai mengerikan.


.


.


.


.

__ADS_1


Hadid yang melihat ruangan rawat Lily yang kosong merasa panik. Ia segera berlari keluar untuk mencari mobil Aric. Namun, nihil. Ia tidak menemukan keberadaan Aric.


__ADS_2