
Di Heren ada sebuah restoran yang berada di ketinggian salah satu gedung tertinggi di Livetown. Konon untuk menyewa mejanya sama dengan harga ratusan gram emas. Bia tidak tahu konon itu benar atau tidak, yang pasti ia kini duduk di kursi mahal itu kini saling berhadapan dengan Dira dan ditemani lilin yang mengeluarkan aroma yang wangi.
"Kamu sering ke sini?" tanya Bia sambil melihat keluar jendela kaca. Pemandangan gedung, langit malam juga cahaya lampu kelap-kelip. Di atas taplak meja warna mocha, sudah tersedia makanan pembuka.
Suara biola mengalun, menambah suasana romantis antara keduanya. "Makan saja sampai ginian segala. Apa gak terlalu mahal?" protes Bia sambil melipat tangan di atas meja. Wajahnya menatap suaminya. Tergurat rasa senang di wajah Dira. Kapan lagi ia punya waktu memanjakan istrinya.
"Buat kamu yang mahal itu cuman satu," timpal Dira.
"Apa?" tanya Bia penasaran.
"Berpisah denganmu," jawabnya sambil tersenyum dan memberikan tanda cinta dengan kedua tangan.
Sayangnya Bia hanya terdiam sambil menatapnya datar. Dira menunduk lemas karena gagal romantis. "Coba ulangin lagi gombalannya," pinta Bia sambil nyengir-nyengir menahan tawa akibat kegagalan Dira tadi.
"Makan dulu, kamu lagi sakit harus banyak makan," potong Dira begitu pelayan membawa menu utama masuk ke dalam ruangan itu dan menyiapkannya di atas meja.
Bia sudah siap mengambi garpu dan pisau untuk memotong daging salmon yang sudah dipanggang sebentar dan dibumbui saus lemon. Baru menggerakkan tangan, Dira menarik piring salmon itu.
"Aku suapin," tawarnya. Bia menggeleng. Ia bahkan sengaja menutup mulut dengan telapak tangannya. "Ayo dong, Mah. Kangen ini sudah lama gak suapin kamu," protes Dira.
"Malu tahu, diliatin orang," tolak Bia, tapi malah sengaja mencondongkan wajahnya ke arah Dira dan membuka mulut. Dira sampai tertawa dengan kelakuan Bia yang sok jual mahal.
__ADS_1
"Enak?" tanya Dira. Bia mengangguk. Kapan lagi ada keuwuan makan direstoran satu sendok dan piring berdua, yang suapin juga suaminya.
"Jadi, tadi siang kamu ke mana, Bi?" tanya Dira mendadak. Bia sampai tersedak dan terbatuk-batuk mendengarnya. Lirikan mata Dira sedikit tajam. "Ngaku saja, aku gak akan marah. Sudah biasa kamu bandel kalau dibilang."
Bia mengambil gelas air putih dan minum dari sana. "Aku jenguk Cloena," jawab Bia jujur.
"Aku tahu," timpal Dira.
Bia meliriknya dengan sorotan mata tajam. "Kalau tahu kenapa malah pura-pura gak tahu? Terus ... terus itu tahu dari mana? Siapa yang kasih tahu?"
"Matteo. Dia cuman nebak, tahunya memang benar. Sudahlah, hanya lihat kamu itu sekarang, demam. Cloe pasti bikin kamu takut lagi, kan?" tanya Dira.
Dira mengangguk-angguk. "Gak percaya sih, kalau iya ... syukurlah. Aaaa ...." Dira kembali menyuapi Bia.
Wanita itu membuka mulutnya lebar-lebar. "Kalau begini terus, aku makin gendut," keluh Bia. Dira hanya tersenyum. Mereka tak peduli meski tahu di belakang sana akan ada beberapa pelayan yang berbincang tentang sikap mereka malam ini.
Malam semakin larut, rembulan mengintip dari balik menara black tower milik Kenan Grouph. Anggur Ceval Bl*nc yang terkenal menjadi penutup malam itu. Hanya Dira yang meminumnya, sementara Bia merasa konyol karena harus bersulang dengan gelas U berisi susu sapi segar.
"Pulang, yuk! Aku ngantuk," pinta Bia. Permintaannya langsung dituruti Dira. Pria itu bangkit, mempersilakan istrinya jalan lebih dulu.
"Mau digendong gak?" tawar Dira.
__ADS_1
"Gak ah, sudah gede aku ini loh," protes Bia.
Tangan mereka bertautan sambil berjalan keluar dari restauran. Di depan pintu masuk, mereka bertemu orang yang berhasil membuat Bia berdebar hingga semakin terlihat pucat. Bia meremas lengan Dira. Perilaku itu membuat Dira peka jika ada yang salah antara Bia dengan kedua orang itu.
"Selamat malam, tidakku sangka bertemu dengan Tuan Dira Kenan dan Nyonya Drabia Kenan," sapa Haley Alvonz saat berpapasan dengan pasangan uwu malam itu.
Dira mengangguk. "Selamat malam kembali, Tuan Alvonz. Saya senang bertemu dengan anda juga Nyonya Gwen di sini," balas Dira.
Bia melirik wanita di samping Haley itu, kemudian buru-buru menunduk. Syukur Dira sadar ada yang tidak beres dengan ekspresi istrinya. "Maaf, saya tak bisa lama-lama. Istri saya kelihatannya sedang tidak enak badan," mohon Dira. Haley menunduk kemudian mempersilakan Dira dan Bia berjalan meninggalkan restoran itu.
Sesekali Bia berbalik untuk memastikan jika Haley dan istrinya sudah jauh. Ketika kedua orang itu tak terlihat, barulah Bia dapat mengusap dada lega.
"Ada apa?" tanya Dira. Ia semakin heran melihat pandangan istrinya berbalik beberapa kali.
Bia menarik Dira agar berjalan lebih cepat. Sampai di parkiran, langkahnya mulai pelan. "Wanita itu siapa? Wanita yang disamping Haley?" tanya Bia.
"Gwen Alvonz. Dia istrinya Haley Alvonz. Memangnya kenapa?" tanya Dira penasaran.
🍁🍁🍁
Yeaaayyy ... yang kemarin jawabannya bener yuk kita syukuran numpeng sambil bakar rumah tetangga. 😎
__ADS_1