Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Terbalik


__ADS_3

Dira lagi terbangun tengah malam itu. Ia tatap wajah istri yang terbaring di sampingnya. Biasanya jika terbangun malam hari, Dira akan mencari kegiatan yang akan membuat ia mengantuk. Kali ini lain, Dira ingin mencoba menemukan ketenangan batin sendiri. Tangan kanannya memeluk erat Bia, sementara tangan kiri mengusap rambut wanita itu dengan lembut.


Penghangat ruangan dipasang untuk


Menaikkan suhu dalam ruangan akibat suhu dingin di luar sana. Bia bergerak semakin masuk dalam pelukan Dira. Bisa terasa jelas, degupan jantung Dira begitu kedua tubuh tanpa sehelai kain pun ikut bersentuhan.


"Kamu imut banget, sih," komentar Dira. Tangannya berpindah menyentuh wajah istrinya. Dira mengecup pipi wanita itu. "Cantiknya istriku."


Tak lama Dira tertawa sendiri. "Aku jadi gila begini, sih," keluhnya sambil senyum-senyum sendiri. Dira kembali terbaring sambil mendekatkan pipinya pada Bia.


"Kalau gini jadinya, aku mana mau jauh-jauh. Masa harus dibungkus ke kantor juga."


Bia melenguh karena merasa tidurnya terganggu akibat Dira terus menerus mengusap-ngusap pipinya pada Bia. Lekas Dira menepuk-nepuk punggung istrinya agar kembali tidur. Namun, lama-lama ia merasa ngantuk. Mata Dira mulai perlahan menurun kemudian kembali tertutup. Dalam lima menit, ia tidur pulas.


Lain dengan dua orang yang sedang menikmati kebahagiaan, justru di kota besar sana sedang ada yang menerima karma. Ia duduk di atas sofa dengan mengangkat kakinya ke dudukan benda itu sambil memeluk lututnya sendiri. Semakin hari, ia semakin cemas.


Besok ia mendapat panggilan dari kepolisian akibat kasus kekerasan pada beberapa staff dan juga pelayannya. Bahkan beberapa hari ini dia hanya tinggal di rumah tanpa pekerjaan. Semua kontrak dengan brand dan juga judul drama dibatalkan. Teganya, di beberapa judul peran yang diperankan Cloena diceritakan mati.


"Cloe, kamu gak tidur?" tanya Cynthia yang turun ke lantai bawah akibat melihat lampu yang menyala. Keadaan Cloena semakin mengkhawatirkan. Biasanya dia berkata kasar, keras kepala dan banyak menuntut. Belakangan ia begitu penurut, diam dan hanya bicara seperlunya.

__ADS_1


"Aku mau tidur," ucap Cloe pendek lalu turun dari sofa dan berjalan ke arah tangga.


"Cloe, jangan terlalu dipikirkan. Aku yakin semua akan berlalu dengan mudah. Kau pasti bisa." Cynthia memberikan Cloe semangat.


Sayang, semangat itu tak ada lagi dalam diri Cloe. Ia berjalan lunglai menuju kamarnya. Dalam benak, ia membayangkan bagaimana hidupnya akan membusuk di penjara, hidup miskin dan penuh dengan hinaan.


Tangan Cloe membuka pintu kamar. Setelah masuk, ia pastikan menutup kembali pintu. Sudut matanya melihat sekeliling ruangan. Tak ada lagi Dira yang menemani malamnya. Pria yang selalu membuat ia merasa terlindungi.


Cloe duduk di lantai sambil menyandarkan punggungnya ke pintu. Ingatannya kembali pada masa lalu. Tiga tahun yang lalu, saat pertama ia melihat seorang Dira Kenan di audisi acara pencarian bakat, Cloe tak merasakan kesan apapun selain terpesona karena ketampanannya.


Lalu apa? Ia hanya artis pendatang baru yang tak bisa menjamin hidup Cloe. Karena itu, di saat artis lain begitu mengagungkan ketampanan Dira Kenan, Cloe sama sekali tak peduli. Jika saja malam itu, setelah konser ia tak menguping pembicaraan Dira, hati Cloe tak akan berubah.


Wajahnya begitu merona saat menerima telpon. Tergurat kebahagiaan pada pria itu. "Aku sayang kamu. Tunggu sampai aku pulang, ya? Di sini memang banyak gadis langsing, tapi aku lebih suka boneka beruangku."


Cloe tertegun. Lepas dari perhatiannya selama ini, banyak wanita yang sering cari perhatian pada Dira. Namun, tak satu pun ia pedulikan. Laki-laki itu selalu saja terpaku pada layar ponselnya.


Hingga keesokan hari, Cloe melihat gambar apa yang tersimpan di sana. Dira memeluk seorang wanita dengan pipi chubby di pangkuan. Terlihat sekali wajah kebahagiaan pasangan itu.


"Dia siapa?" tanya Cloe saat bersinggungan dengan Dira di ruang tunggu acara.

__ADS_1


Dira tersenyum malu sambil menggaruk kepalanya. "Pacar saya, kak," jawabnya tanpa keraguan sedikitpun.


Cloe tertawa geli. "Jangan bohong. Pasti pacarmu langsing dan cantik. Hmm ... aku tebak, kalau bukan sepupu pasti adik," kilah Cloe.


Setelah mengatakan itu Cloe kaget melihat ekspresi wajah Dira yang terlihat kesal. Dira bahkan memalingkan pandangan. "Memang wanita yang menarik itu harus langsing dan tinggi. Mau secantik apapun, mereka kalah baik dan imutnya dari pacarku," protes Dira.


Cloe terbelalak. "Jadi memang pacarmu?" tanyanya memastikan. Dira mengangguk dengan yakin.


"Dia memang gak cantik, gak langsing juga gak populer. Aku gak peduli, aku sayang dia," tegasnya sambil memasukan ponsel ke dalam saku pakaiannya.


Cloe terdiam. Ia pikir di dunia ini tak pernah ada pria yang mencintai tanpa syarat standar fisik yang enak dilihat. Nyatanya ia temukan pria itu. "Beruntung sekali pacarnya," pikir Cloe.


Hingga hari ini, setelah tiga tahun berlalu Cloe masih merasa Bia orang yang paling beruntung. Meskipun segala macam cara Cloe gunakan untuk membuat Dira jatuh cinta padanya. Meski ia puaskan Dira dengan fisiknya, ketika merasa dalam puncak kenikmatan, tetap saja bukan sekali Dira menyebut nama Bia tanpa pria itu sadari.


Cloe menyadari tak pernah ada dia dalam hati Dira. Setiap kali mereka tidur bersama, dalam bayangan Dira hanya ada Bia di sana. Bagian paling jelas adalah bagaimana ia sering dapati Dira membeli barang-barang wanita dan ia kirim ke sebuah alamat. Meski akhirnya barang itu kembali lagi akibat sang penerima tak ada lagi di sana.


"Ia selalu mencoba kembali menghubungi wanita itu. Dia memang hanya mencintai wanita itu. Sejak dulu, aku memang hanya sendirian," keluh Cloe sambil memeluk tubuhnya sendiri.


🍁🍁🍁

__ADS_1


Konflik utama mulai masuk.


__ADS_2