Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Bunga


__ADS_3

Melvi dan Jared menikah di sebuah gedung sederhana. Pernikahan itu juga tak dihadiri banyak orang karena keluarga mereka tak memiliki banyak kenalan.


Bia dan Dira hadir dengan kedua putra mereka. Kehadiran keluarga 4 dimensi ini (Dira, Drabia, Divan dan Diandre) menarik perhatian. Orang-orang Emertown lebih tertarik mengingat mereka adalah keluarga kaya bukan karena artis.


"Saya berjanji akan menjadi istri dan pendamping Jared Amar seumur hidup saya," Melvi mengucapkan ikrar pernikahannya.


Bia merasa terharu sampai menangis. Akhirnya sahabatnya itu memiliki teman hidup dan semoga Jared akan menjadi suami yang baik. "Jadi ingat waktu nikah dulu, pengen sekali lagi," curhat Bia.


Tawa Dira terdengar geli. "Sadar, mah. Kamu pakai baju pengantin sekarang malah jadi bahan tertawaan anak-anak," ledeknya.


"Kamu juga!" balas Bia.


Acara dilanjutkan dengan acara makan-makan. Dibanding semua itu, Bia lebih senang mendekati Melvi dan memeluknya sementara Dira ia biarkan bingung menjaga Diandre dan Divan.


"Selamat, ya? Cepat punya bayi biar main sama Diandre," seru Bia.


Melvi mengangguk. "Kamu beneran jauh-jauh datang ke sini. Pasti aku ngerepotin," ucap Melvi tak enak. Terlebih biaya pernikahanya sebagian ditanggung Bia.


Bia mencubit pipi Melvi gemas. "Kamu ini kayak sama siapa saja! Aku ini sahabat kamu. Lagian aku ke sini karena kangen dengan Emertown. Terus juga mau ke makam tante dan orang tuaku. Ke makam anak Cloena juga," jelas Bia agar Melvi tak merasa bersalah.


"Diandre mana? Katanya sudah bisa jalan?" tanya Melvi. Bia mengangguk. Ia menunjuk Dira yang sedang memperhatikan anak-anak main. Melvi berjalan ke sana dengan Bia meski agak kesulitan karena roknya yang panjang.

__ADS_1


"Diandre!" panggil Melvi. Diandre berlari ke Dira dan memeluk papahnya. "Dia sepertinya lupa denganku," curhat Melvi.


"Iya, sama Mrs. Carol juga lupa. Mungkin waktu pindah masih tiga bulanan, jadi belum kenal orang." Bia menggendong Diandre dan mendekatkannya pada Melvi. Perempuan itu dengan gemas mencubit pelan pipi tembem Diandre.


"Sama Divan lupain! Padahal Divan ganteng gini!" protes Divan sambil berkacak pinggang.


Melvi kaget. Ia menunduk lalu tertawa melihat wajah Divan yang sudah ditekuk akibat kesal. "Ya ampun, Tante Melvi bukannya lupa. Tante Melvi tahu Divan ganteng. Kalau Diandrekan belum kelihatan dulu," alasan Melvi.


Divan tak memercayai itu. "Tante Melvi jangan akting," ucapnya drama.


Melvi mendengkus. "Yang ada kamu itu yang akting kayak sinetron," ledek Melvi. Sejak kecil saja Divan sudah enak diajak berdebat, apalagi sudah besar begini. "Kamu masih suka habisin ATM mamah?" tegur Melvi.


Divan menggeleng. "Gak donk! ATM sendiri. Divan kerja, uangnya banyak. Mamah parangangguran, gak ada uang," jawab Divan.


Tentu Divan nyengir kuda akibat malu. "Mamah," jawabnya polos. "Tante Melvi, gak baik abisin ATM. Itu Divan nabung mau beli lamamborjini," jelasnya.


Melvi mengacak rambut Divan. "Kenapa gak jadi pesawat?" tanya Melvi.


Divan menggeleng yakin. "Gak ada yang supirin," jawabnya.


Ucapan Divan mampu membuat orang yang mendengar tertawa. Divan melirik pria di samping Melvi yang kini jadi suami Melvi. "Oom galak, jagain tante Melvi. Jangan galak lagi," nasehat Divan.

__ADS_1


"Dia tetap galak, orang kamu panggilnya Oom galak." Melvi memeluk Divan erat saking gemasnya. Rasanya rindu mengingat masa-masa Divan kecil dulu yang sering main di toko roti.


Selesai acara pernikahan, keluarga itu langsung pamit. Mobil Dira berhenti di depan sebuah rumah yang Bia kenal. Mata Bia hanya bisa menikmati dari jendela yang kacanya diturunkan.


"Aku kangen rumah," keluh Bia pada rumah yang ia tinggali hingga lulus SMA. Satu-satunya benda peninggalan orang tuanya yang masih berdiri tegak dan bisa dipandang.


"Nanti kalau mereka ada niatan menjual, aku pasti beli. Aku tahu rumah itu berarti buat kamu. Biar kalau kita pulang ke sini, kamu bisa pulang ke rumah itu," ucap Dira.


Bia mengangguk. Ia peluk leher suaminya dari belakang. "Makasih suamiku," ucap Bia. Dira mengecup lengan Bia. "Aku kangen sama ayah dan Bunda. Kangen sekali. Aku ingin Diandre dan Divan bisa bertemu mereka," harapan Bia.


"Divan dulu! Divan kakaknya Diande," protes Divan yang tak terima namanya dipanggil setelah Diandre.


Bia dan Dira terkekeh. "Maaf, mamah gak sengaja. Paling penting Divan lahir tetap lebih dulu, kan?" goda Bia. Divan mengangguk.


"Apa kita ke makam ayah dan bunda sekarang?" tawar Dira. Bia mengangguk. Lekas Dira menaikan kaca jendela lalu menyalakan mesin mobilnya lagi. Mobil itu melaju menuju taman pemakaman para staff Kenan grup.


"Maman!" tunjuk Diandre ke arah pemakaman. "Ini pemakaman. Kita ketemu kakek dan nenek," ajak Bia.


"Kita ke sini dulu sama Divan saja. Sekarang bawa Diandre," ucap Dira. Bia mengangguk. Satu per satu bangunan makam mereka lewati. Divan masih merasa seram datang ke sini.


Tiba akhirnya mereka di makam keluarga Bia. Dira memberikan salah satu bunga pada Divan agar menyimpan bunga di makam. Mendadak perhatiannya tertarik oleh sebuah bunga di makam itu.

__ADS_1


"Siapa yang simpen bunga?" tanya Bia bingung. Anehnya hanya di makam ayah Bia, tidak dengan makam lainnya. Meski Ayah dan Bunda ada dalam lubang makam yang sama, bunga itu hanya disimpan di nisan makam ayah Bia.


🍁🍁🍁


__ADS_2