Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Penjelasan.


__ADS_3

Mata Lily mulai terbuka, wanita itu mendesis merasakan pusing.


"Sayang." Aric segera memeluk erat istrinya.


Lily membalas pelukan Aric dengan satu tangannya, ia memejamkan mata menikmati hangatnya pelukan Aric.


"Sayang, Lily sayangku." Aric mengecup seluruh wajah istrinya.


Aric begitu bersyukur Lily telah siuman, ia sungguh tidak bisa membayangkan jika sesuatu terjadi pada Lily dan calon anak mereka.


"Aric hentikan," ucap Lily lirih, ia merasa geli dengan ciuman Aric.


Aric berhenti mencium wajah Lily, tetapi beralih mencium tangannya yang tidak tertancap infus.


Sebuah senyum tersungging di bibir Lily yang pucat. Ia menatap Aric yang juga sedang menatapnya.


"Apa kau percaya padaku?" tanya Lily tiba-tiba.


"Sst ... Jangan bicarakan hal itu lagi, aku tahu apa yang terjadi. Kau tidak mungkin melakukannya, Sayang. Aku sepenuhnya percaya padamu." Aric kembali mencium punggung tangan Lily.


Sebulir air bening lolos dari sudut matanya, Lily terisak. Sesak di dadanya mereda bersama buliran bening yang keluar.


"Kenapa menangis, Sayang? Apa ada yang sakit? Aku akan segera memanggil dokter." Aric hendak bangkit dari duduk. Namun, Lily memegangnya.


Lily menggeleng pelan.


"Terima kasih sudah percaya padaku," ucapnya lirih.


Aric menyeka air matanya, mengecup lembut kedua kelopak mata lentik istrinya.


"Kau Istriku, kenapa aku harus meragukan mu, hem?"


Aric menatap lekat pada dua mata istrinya. Ada rasa takut tersirat dari sorot mata bening itu, Aric mengerti Lily pasti merasa takut setelah apa yang terjadi.


Inilah yang Lily butuhkan, sebuah kepercayaan dan dukungan dari seseorang yang ada di sampingnya. Lily yang tadinya merasa takut kalau Aric tidak akan percaya, kini merasa lega.


"Aric, boleh aku minta sesuatu?" tanya Lily dengan ragu.


"Apapun, Sayang."


"Bisakah kau memelukku?"


"Itu saja?" Lily mengangguk pelan.


Aric naik ke ranjang pasien, dia memiringkan tubuhnya kearah sang istri. Aric membawa Lily dalam pelukannya, mengusap lembut rambut Lily yang tergerai.


Wanita hamil itu meringsek, menyembunyikan wajahnya dalam dada bidang Aric. Menghirup dalam aroma maskulin yang menguar dari tubuh pria itu.


"Bagaimana keadaan, Veronica?" tanya Lily.


Bagaimanapun Veronica adalah adik iparnya, meskipun Veronica telah memfitnahnya. Lily masih merasa khawatir dengan nasib anak yang ada dalam kandungannya.


"Jangan bahas wanita itu lagi, dia akan baik-baik saja," jawab Aric malas.


Lily mendongakkan kepala, sejenak diam menatap wajah Aric yang tampak marah, kemarin malam di dapur Aric membiarkan wanita itu memeluknya. Tetapi kenapa sekarang Aric tidak suka membahasnya. Apa Aric hanya berakting saja?

__ADS_1


Lily harus bertanya, ia tidak ingin lagi penasaran dan terjadi salah paham dalam pernikahannya.


"Aric, bagaimana hubunganmu dengan Veronica sebenarnya?" Lily memberanikan dirinya untuk bertanya.


Meskipun ia tahu, dia akan merasa sakit dengan jawaban Aric.


Aric menghela nafasnya. Mungkin sudah saatnya ia untuk menceritakan masa lalu.


"Apa kau yakin ingin mendengarnya sekarang?" Aric menunduk, kedua netra itu bertemu. Lily mengangguk yakin, dia telah menyiapkan hati.


"Dia mantan kekasihku, kami menjalani hubungan selama tiga tahun. Tapi, saat aku akan melamarnya, aku menemukan dia berselingkuh dengan laki-laki lain, dan laki-laki itu adalah Ahnan adikku,"


Aric bercerita dengan singkat.


Lily terkejut mendengar cerita Aric. Ternyata suaminya itu pernah mengalami penghianatan seperti itu, pasti sakit. Karena Lily juga pernah merasakannya, hanya beda tipis saja.


"Lalu?" tanya Lily antusias.


"Lalu apa?"


"Apa yang kau lakukan, saat tahu dia selingkuh?"


"Tidak ada, aku membiarkan mereka. Memutuskan hubunganku dengan wanita itu agar dia bisa bersama Ahnan."


"Kau tidak marah? tidak sakit hati?" tanya Lily penuh selidik. Lily saja merasa sangat kecewa dan marah pada Dion, yang menjadi tunangan Cindy sekarang.


"Kau seperti reporter acara gosip, Sayang." Aric mencubit gemas hidung Lily.


"Sakit," rengek Lily manja.


"Maaf, aku terlalu gemas."


"Tapi aku bersyukur karena aku mabuk malam itu."


"Kenapa?"


"Karena aku bisa menitipkan Adam di rahimmu malam itu, Sayang." bisik Aric.


Mata Lily terbelalak, jadi malam itu Aric mabuk karena patah hati.


"Kau jahat! Kau jadikan aku pelapisan patah hatimu." Lily memberengut kesal, ia mendorong tubuh Aric menjauh.


Namun, tenaganya tidak cukup kuat. Apalagi Aric semakin mempererat pelukannya.


"Sayang, itu hanya masa lalu. Di hatiku hanya ada namamu sekarang, kau bisa meminta dokter untuk membelah dadaku, jika tidak percaya," rayu Aric.


"Cih ... gombal."


"Ini bukan gombal, ini fakta. Aku harus bagaimana agar Ratuku ini percaya?" tanya Aric dengan wajah memelas.


"Apa kau masih menyukainya?" Ada rasa sesak di hati Lily saat menanyakan hal itu.


Ia teringat kembali, bagaimana. Veronica memeluk erat suaminya dengan mesra.


"Tidak ada tempat untuknya, hati dan jiwaku sudah penuh olehmu!" tegas Aric.

__ADS_1


"Lalu kemarin apa? aku melihatmu berpelukan dengannya di dapur!"


Aric mengerutkan keningnya, dapur? ia bahkan lupa apa yang terjadi di sana.


"Tuh kan diam, berarti kamu masih suka." Lily membalikkan tubuhnya membelakangi Aric.


Aric segera menarik Lily dalam pelukannya kembali, menempelkan tubuh mereka.


"Aku diam karena aku lupa, Sayang. Bisa kau katakan apa yang kau lihat?"


Lily mendengus kesal, kejadian itu baru kemarin. Bagaimana bisa laki-laki itu hilang ingatan dalam semalam.


"Jangan pura-pura lupa," ketus Lily.


"Aku lupa, pasti karena hal itu tidak penting bagiku. Tapi jika Istriku tersayang ingin tahu, aku akan mengingatnya. Apa Permaisuri sudi memberikan hamba petunjuk?"


Lily memutar matanya jengah, dari mana Aric belajar kata-kata seperti ini.


"Malam itu Veronica memelukmu dari belakang, tapi kau hanya diam dan tidak melakukan apapun. Apa kau suka?!"


Aric tersenyum puas, sebenarnya dia tidak lupa sama sekali. Tetapi, Aric suka melihat kecemburuan Lily. Wanita itu sangat mengemaskan seperti ini.


"Aku ingat sekarang. Kau hanya melihat awalnya saja, iyakan?"


Lily hanya diam.


"Lain kali kalau nonton pertunjukan harus sampai habis. Waktu itu aku hanya takut melukai bayinya jika aku mendorong tubuh wanita itu, tapi dia semakin menjengkelkan. Akhirnya aku tetap mendorongnya, meskipun tidak begitu kasar," jawab Aric.


"Bagaimana? Apa Tuan Putri sudah puas, bertanya?"


Lily mengangguk pelan, dia memutuskan untuk percaya pada suaminya.


Perlahan Aric membalikan badan Lily, hingga mereka kembali saling berhadapan.


"Dia dunia ini tidak ada seorangpun yang lebih penting bagiku, selain dirimu." Aric merapikan rambut Lily.


Wanita itu menatap dalam mata suaminya, tak ada hal lain selain ketulusan dan cinta yang besar untuknya di sana.


Lily menyandarkan kepalanya di dada Aric.


"Sayang, bisakah kita seperti ini sampai aku tertidur?" tanya Lily sangat lirih.


"Kau panggil aku apa tadi?!' pekik Aric terkejut. "Coba ucapkan sekali lagi, aku ingin mendengarnya."


Lily sangat malu, ia semakin menenggelamkan wajahnya di dada Aric.


"Aku ngantuk," jawab Lily.


"Ayolah, Panggil aku sekali lagi," rengek Aric.


Lily menggeleng cepat. Aric pun akhirnya mengalah.


"Baiklah, tidur yang nyenyak." Aric mengecup lembut pucuk rambut Lily.


"Terima kasih, Sayang."

__ADS_1


Mendengar itu, Aric sangat bahagia. Ia semakin mengeratkan pelukannya, hingga tidak sadar Aric tidak sabar Lily merasa sesak.


Jika saja mereka ada di rumah, Aric akan melahap istrinya sekarang.


__ADS_2