
Dira tertawa saat melihat Bia keluar kamar mandi dengan wajah kesal. "Aku malu tahu," protes Bia. Kantor Dira yang tadinya berantakan karena emosi pria itu, makin berantakan akibat permainan keduanya.
"Kita kayak bos sama sekretaris selingkuh di drama seri," kelakar Dira.
Mereka juga meminta pelayan membawakan pakaian ganti. Alasannya akan terus makan malam. Padahal karena main dari siang sampai malam. Segala sudut dicoba, dari atas meja, sisi jendela, sofa, untung tak sampai di atas atap.
Untung ruangan ini tak memiliki CCTV. Ruangan kantor pribadi kebanyakan tak memiliki CCTV dalam ruangan karena tujuan tertentu, seperti menutupi kesepakatan bisnis hingga meminimalisir orang yang melihat saat CEO atau atasan lainnya menyimpan berkas di ruang rahasia.
"Kita makan saja dulu, ya? Kamu pasti lelah," tawar Dira sambil merapikan dasi. Ia juga harus mengganti pakaian akibat keringat yang menganak sungai.
"Keluarnya gimana? Aku malu, ih. Pasti mereka mikir kita ngapa-ngapain," protes Bia.
"Emang kita ngapa-ngapain, kan? Lagian kita suami-istri ini. Apa salahnya? Pasangan selingkuh saja gak ada yang malu," timpal Dira.
Bia duduk di sofa sambil melipat tangan di dada. "Kalau malu, gak akan selingkuh!" tegas Bia.
Bia menggeleng melihat kekacauan di kantor itu. Akibat takut dicurigai, Bia langsung membereskan ruangan, sekadar menyimpan benda-benda di temparnya juga membuang benda yang rusak. Dira ikut membantu, bagaimanapun kekacauan ini dia sendiri yang buat.
"Kamu besok antar-jemput Divan lagi, kan?" tanya Bia.
__ADS_1
Dira mengangguk. "Iya, tentu. Kenapa?" Dira melirik ke arah Bia. Bisa ia melihat wajah khawatir istrinya. "Ada yang ganggu pikiran kamu di sana?" tanya Dira.
Pria itu bangkit dan mendekati Bia yang sedang membereskan barang dekat lemari file. Dira meraihnya dan menarik Bia agar duduk bersamanya di lantai. "Bicaralah. Ada apa?"
Bia mendesah kesal mengingat kejadian tadi siang. "Aku tadinya gak mau cerita karena tahu kamu banyak pikiran. Namun, kalau dipendam lama, takutnya kamu nanti marah," ucap Bia.
Dira mengangguk. Ia dudukan Bia dalam pangkuan. Tubuh langsing istrinya begitu ringan ia pindah-pindahkan. "Zayn, lho. Cara dia dan ibunya bicara sungguh gak bikin aku nyaman," curhat Bia.
Dira mengangkat sebelah alisnya. Ia bisa menelaah apa yang Bia maksud. "Dia godain kamu?" tanya Dira. Masih ingat Bia sempat bilang status Zayn sekarang yang masih sendirian.
"Dia muji, tapi pujian yang terlalu sensitif kalau harus dikatakan dari pria pada wanita. Terus ucapan ibunya lagi, katanya Zayn sering senyum-senyum kalau lihat aku dan berharap aku sama dia dulu nikah," tambah Bia.
Dira menarik napas panjang. Ia dekap Bia dan menepuk-nepuk pelan lengan istrinya. "Gak perlu ke sekolah Divan lagi. Maksud dia mulai buruk," saran Dira.
Dira terkekeh. "Kalau aku gak marah gak mungkin, aku suami kamu." Dira mengecup kening Bia. Wajah Dira berubah hangat.
"Kalau aku marah sama kamu, rasanya itu gak tepat. Salah aku juga minta kamu masih ke sekolah Divan tadi. Soal Zayn, aku gak mungkin kasih dia perhitungan kalau besok bertemu di sekolah. Bagaimana pun di sana banyak anak-anak, tapi dia harus tahu kalau yang dia lawan bukan orang biasa," tekan Dira.
Bia menganguk. "Dia juga minta nomorku, tapi aku gak kasih. Aku takut nanti jadi masalah."
__ADS_1
Dira mengecup bibir Bia. "Makasih, sayang. Kamu sudah jaga perasaanku. Aku juga gak pernah kasih nomorku pada siapapun. Kalau itu urusan pekerjaan, itu adalah urusan Ed. Kalau tentang Divan, itu urusan Matteo," tegas Dira.
Senyum Bia melengkung. "Aku takut banget sama Zayn. Kamu ingat gak, waktu kita kecil dia itu posesif banget sama aku. Dia gak bolehin aku main sama siapa-siapa. Lebih dari itu, aku masih ingat waktu dia bilang sama kamu kalau aku gak mau main sama kamu lagi."
Dira mengusap rambut Bia. "Iya, aku yang bakalan maju lawan dia. Kamu di rumah saja jaga Diandre. Ini urusan suami kalau ada pria yang mengganggu. Satu lagi, kamu lihat dulu, kan? Meski Zayn bilang begitu, aku tetap cari kamu. Karena aku tahu, kita gak mungkin kuat kalau berpisah." Lagi, satu kecupan jatuh dari bibir Dira di bibir Bia.
"Katanya mau makan malam," ajak Bia yang menagih janji Dira.
"Maaf, aku lupa. Kamu lapar, ya?" Tangan Dira mengusap-usap rambut Bia. Bia mengangguk lagi lalu merapikan dasi Dira. "Pasti capek, ya? Tenaganya habis karena main gendong-gendongan, ya?" ledek Dira.
"Ish, kamu itu! Yang capek pasti kamu, lah! Kamu yang gendong, aku cuman yang digendong," ralat Bia.
Dira menurunkan Bia dari pangkuan. Pria itu berdiri sambil mengulurkan tangan pada istrinya. "Ayok makan malam," ajak Dira. Bia meraih tangan Dira lalu ikut berdiri. Mereka berjalan ke pintu.
"Eh!" tiba-tiba Bia teringat sesuatu. Ia berlari masuk dan mengambil tas kertas berisi pakaiannya dan pakaian Dira. "Aku mau cuci ini," ucap Bia.
"Bisa ke laundry kan sayang. Kalau gak ke pelayan saja," saran Dira.
Bia menggeleng. "Gak mau, malu. Ada bubur kamu nempel di kaos," keluh Bia.
__ADS_1
🍁🍁🍁
Jangan tanyain bubur apa? 😐😐