
Melihat kemesraan Aric dan menantunya, membuat Hadid merasa bahagia. Ia bisa merasa tenang, sekarang ada seseorang yang menjaga Aric. Rasa bersalah masih bersemayam dalam hati kecilnya, ia tidak bisa melindungi Zahra dan Aric di masa lalu sungguh membuat Hadid menyesal.
"Aric lepaskan, ada Ayah di sini." Lily mengeliat kecil, berusaha melepaskan diri dari belitan tangan kekar Aric.
Pria itu tampak acuh, seolah tak mendengar ucapan Lily. Tak kehabisan akal, Lily melayangkan cubitan sayang di perut Aric.
"Aduh .... sakit Sayang," rengek Aric sambil mengusap bekas cubitan Lily.
"Rasain," ujar Lily lirih.
"Aku akan membalasnya malam ini, tunggu saja," bisik Aric.
Lily mendelik tajam pada sang suami, ia tidak menyangka Aric bisa semesum ini.
Lily melirik ke arah mertuanya, ia sebenarnya sungguh malu seperti ini. Pertama kalinya ia berkunjung ke rumah mertua tetapi malah seperti ini. Dia bahkan belum sempat menanyakan kabar pada Ayah mertuanya itu.
Lily melihat raut bahagia di wajah sang ayah mertua, sebuah senyum lebar tersungging. Ia juga terlihat sangat menyukai Adam.
Ada kelegaan tersendiri melihat sang ayah mertua dengan Adam. Bagaimanapun Adam ada seorang anak yang terlahir kerena sebuah kesalahan, sebelumnya ia merasa takut bila Adam mendapatkan penolakan di rumah itu. Apalagi saat Aric menceritakan keluarga sang ayah yang teramat mementingkan martabat mereka, jika saja Adam mendapatkan penolakan, Lily tidak akan segan untuk mundur teratur.
Baginya tak ada yang lebih penting dari Adam.
"Kakek, kenapa Kakek tidak tinggal bersama kami?" tanya Adam kemudian menyuap potong semangka ke mulutnya.
"Kakekmu punya rumah sendiri, Nak. Dia harus tinggal di sini," potong Aric cepat.
Hadid tersenyum pahit mendengar ucapan anaknya, Aric ternyata masih menjaga jarak dengannya. Wajar, ini sangat wajar. Kemarahan dan kebencian Aric padanya bukan tanpa alasan, Hadid berusaha memakluminya meskipun ingin sekali Hadid memeluk Aric sambil berucap maaf.
"Kalau begitu Adam saja yang nginep di sini, bolehkan Bunda?" tanya Adam dengan penuh harap.
Lily yang tadinya menunduk, mendelik terkejut mendengar pertanyaan Adam. Wanita itu terlarut dalam pikirannya sendiri.
"Besok Adam masih harua sekolah, kita juga tidak ada persiapan apa-apa untuk menginap. Lain hari saja ya," jawab Lily.
Wajah mungil itu tampak kecewa, mungkin dia sudah nyaman dan suka bermain bersama kakek yang baru saja ia temui. Lily menghembuskan nafas panjang, ia merasa tidak tega melihat Adam bersedih seperti itu.
"Kita menginap kalau minggu depan bagaimana? Adam mau?"
__ADS_1
Wajah Adam berbinar gembira, ia mendongakkan kepalanya menatap wajah sang kakek dengan senyum lebar.
"Kau setuju kan?" tanya Lily takut-takut, sejak datang kerumah ini. Aric tidak berbicara sepatah katapun pada ayahnya.
Lily takut Aric tidak setuju dengan keputusannya. Aric hanya sibuk mengulung-gulung rambut Lily dengan telunjuknya, tanpa berniat menjawab.
"Aric."
"Apa? semua keputusan ada di tanganmu. Sayang," jawab Aric santai sambil memainkan rambut sang istri.
Lily memperhatikan raut wajah Aric dengan seksama, tak ada raut tidak suka. Pria itu hanya fokus pada helaian rambut yang ia mainkan.
Dari balik pintu kaca, Veronica menatap geram pada sejoli itu. Seharusnya dia yang ada di sana, menikmati belaian kasih dan cinta dan Aric. Vero menarik nafas dalam sebelum masuk, ia tidak boleh tinggal diam dia harus merebut kembali Aric.
Veronica memasang wajah paling manis dan ramah yang ia punya, ia mendorong pintu kaca itu perlahan.
"Selamat siang!" sapa Veronica dengan ramah.
Semua orang yang ada di ruang baca melihat ke arah Veronica, tetapi tidak dengan Aric. Suara itu, pria itu masih asin memainkan rambut istrinya.
"Siang Veronica, ini adalah kakak iparmu. Istri Aric dan ini adalah anak sulung mereka Adam," ujar Hadid memperkenalkan mereka.
Veronica mengulurkan tangan menyalaminya Lily.
"Lily," ucapnya dengan senyum ramah.
"Veronica, aku istri dari Ahnan," tuturnya yang di sambut anggukan oleh Lily.
"Apa kau sedang hamil Ver?" tanya Lily, ia sedikit penasaran dengan perut Veronica yang terlihat sedikit membuncit.
"Iya, sudah lima bulan," jawab Veronica sambil mengusap lembut perutnya.
"Wah ... Sepertinya anak kita akan seumur, aku juga sedang hamil. Tapi lebih muda darimu, usia masih 6 minggu."
"Kebetulan sekali, sepertinya Ayah sangat beruntung. Tahun ini bisa mengendong dua cucu sekaligus."
Kalau, anakmu masih bisa lahir.
__ADS_1
Dalam hati Veronica mengutuk Lily, kebahagiaan wanita itu tidak seharusnya dia dapatkan. Kebahagiaan itu miliknya, Aric miliknya, benih laki-laki itu hanya dia yang bisa memiliki.
"Ayah, apa boleh aku mengajak kakak ipar menyiapkan makan siang? Aku ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan kakak ipar, sebagai sesama menantu Gulfaam."
"Pergilah, Ayah ingin para menantu Ayah bisa akrab," jawab Hadid, ia tidak menyadari raut wajah Aric yang berubah.
"Ayo Kak." Veronica menarik tangan Lily.
Tetapi disaat yang sama, Aric juga memegangi tangan Lily.
"Sayang, kita ke sini sebagai tamu, bukan sebagai pembantu. Duduklah, tunggu saja di sini!" tegas Aric.
Lily mengerutkan keningnya, sorot mata Aric bergitu tajam menatapnya.
"Kakak ipar bisa saja, kami hanya menyiapkan meja saja. Apa salahnya?"
Aric tidak menjawab, ia menatap dingin pada adik iparnya. Meskipun takut, tetapi Veronica tida melepas tangan Lily, ia tidak mau melepaskan kesempatan untuk bicara berdua dengan saingannya itu.
"Aric, biarkan aku membantu sebentar. Lagipula aku juga menantu di rumah ini, tidak enak rasanya jika aku hanya berdiam diri sementara Veronica membantu di dapur," tegur Lily pada suaminya.
"Tetap di sini, atau kita pulang sekarang!" tegas Aric tak terbantahkan.
"Tapi-."
"Tidak ada tapi, Sayang. Kau tidak boleh kelelahan," bujuk Aric.
"Vero, biarkan Lily istirahat," ucap Hadid menengahi.
"Baiklah, baik karena Ayah sudah bicara, aku tidak akan mengajak Kakak ipar menyiapkan meja. Kalau begitu aku permisi dulu," pamit Veronica, ia melangkah keluar dari ruangan itu. Wajahnya merah padam, rasa bencinya semakin berlipat dari sebelumnya.
"Tidak boleh, dia hanya milikku," gumam Veronica.
"Hahahaha .... masih bermimpi di siang bolong, Hem," tegur seorang pria, yang tak lain adalah suaminya.
"Diam kau! ini bukan urusanmu!" sentak Veronica kesal.
Ahnan maju dengan cepat, ia mencengkram dagu Veronica dengan erat.
__ADS_1
"Statusmu masih istriku, seberapapun tidak bergunanya kau. Aku masih punya hak untuk mengatur mu, hem!" Ahnan menghempaskan dagu Veronica dengan kasar.
"Kau ingin kembali pada laki-laki itu, akan aku kabulkan. Tapi kau harus patuh padaku!" ujar Ahnan dengan seringai liciknya.