Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Satu langkah di depan


__ADS_3

Dua orang berseragam kepolisian datang ke kediaman Aric, mereka berdua disambut dengan baik dan persilahkan masuk oleh Mateo.


"Silahkan duduk. Mohon tunggu sebentar, Tuan akan segera datang," ujar Mateo sopan.


"Baik," jawab kedua polisi itu serempak, keduanya pun duduk di sofa ruang tamu.


Mateo, masuk untuk memanggil sang tuan yang berada di ruang kerjanya. Aric sudah resmi mengundurkan diri dari Gulfaam corporation. Ia benar-benar tidak ingin berhubungan lagi dengan keluarga Gulfaam, masalah sumpah yang ia ucapkan pada sang ibu. Aric akan menjelaskannya di surga kelak.


Suara ketukan pintu membuat Aric menghentikan jarinya yang menari di atas keyboard.


"Masuk," sahut Aric seraya menutup laptopnya.


Mateo memutar knop pintu, kemudian mendorongnya perlahan. Laki-laki itu masuk, membungkuk hormat sebelum berbicara.


"Tuan, mereka sudah datang."


Aric mengambil nafas dalam. "Aku akan ke sana."


Aric mengangkat bokongnya dari kursi. Ia kemudian pergi ke ruang tamu.


"Apa aku membuat mu lama menunggu, Iptu Aditya," suara bariton Aric membuat salah satu dari Aric membuat salah satu pria berseragam menoleh, kedua matanya berbinar menatap Aric.


"Tuan."laki-laki itu berdiri lalu menunduk Dengan hormat pada Aric.


hal itu membuat bawahan yang ikut bersama Aditya terbelalak heran, bagaimana bisa Iptu Aditya yang terkenal begitu tegas itu, tunduk dengan seorang yang bahkan ia tidak tahu pangkatnya. Dia hanya laki-laki biasa, meskipun Ia adalah seorang yang kaya raya tapi tidak seharusnya dia menunduk hormat seperti itu.


"Apa yang kau lakukan? Kau seorang polisi sekarang, tidak seharusnya kau menundukan kepala!" hardik Aric.


"Tanpa Tuan, saya tidak akan pernah menjadi seperti sekarang," ujar Aditya.


Aditya menatap lekat pada Aric, ya Aditya adalah salah seorang anggota White Clown sebelumnya. Ia ikut saat usianya masih remaja, dia mengutarakan niatnya pada Aric untuk menjadi seorang polisi. Tanpa diduga Aric menyetujui dan bahkan menyekolahkannya sampai selesai, tentu saja saat itu Aric belum membuka topengnya. Dia seakan menyerahkan Aditya pada Aric sebagai orang kepercayaannya.


Aric menepuk pelan pundak Iptu muda itu.


"Ini juga karena keinginan dan usaha kerasmu." Aric mempersilahkan Aditya duduk dengan tangannya.


Aditya mengangguk ia pun duduk di sofa, Aric juga duduk di sofa single, yang berhadapan dengan Aditya dan anak buahnya.


"Langsung saja, aku memintamu ke sini untuk mengambil ini." Aric mengambil sebuah flashdisk dari sakunya.


"Apa ini Tuan?" tanya Adiknya.


"Bukti, tentu saja ini hanya salinannya. Yang asli masih ada padaku."


"Baik, saya akan menindak lanjuti laporan Tuan dengan baik, Tuan Aric tidak usah khawatir. Saya sendiri yang akan menangani kasus ini!" tegas Aditya.

__ADS_1


Aditya mengambil flash disk yang Aric letakkan di meja, kemudian menyimpan benda itu di sakunya.


"Aku percaya padamu," sahut Aric dengan sudut bibir yang terangkat.


Kali ini ia tidak akan main-main, Aric tidak akan membuat semua orang yang menyakiti Lily merasakan akibatnya. Dia ingin masalah kali ini menjadi peringatan yang jelas bagi Veronica dan juga Ayahnya.


"Kalau begitu saya pamit Tuan." Aditya bangkit dari duduknya. Ia mengulurkan tangannya untuk berjabatan dengan Aric.


"Selesaikan ini secepatnya, dan aku mau semua berjalan dengan baik."


Aditya mengangguk pasti. Dua orang itu pun pergi meninggalkan kediaman Aric, Aric bernafas lega. Dia memang mengambil langkah lebih dulu untuk melaporkan kejadian di rumah ayahnya. Dia tidak ingin kecolongan lagi, tidak akan pernah.


"Aric!" Panggil Lily dengan setengah berteriak.


Aric seketika menoleh kebelakang, wanita pujaannya itu berdiri taj jauh dibelakangnya. Dengan rambut berantakan dan muka yang masih bau bantal.


Aric tersenyum, baginya apapun keadaan Lily dia tetap yang tercantik. Tak ada seorang wanita pun yang mampu mengalahkan pesona bumil cantik itu.


"Sayang, ada apa? Apa kau butuh sesuatu?" Aric melangkah mendekat wanita itu.


"Aku mencarimu, kenapa kau tidak ada di kamar?" tanya Lily dengan suara manja.


"Aku melanjutkan pekerjaan di ruang kerja, kemudian menemui tamu sebentar," jawab Aric sambil merapikan rambut sang istri.


"Tamu siapa?" tanya Lily heran. Rumah mereka jarang sekali kedatangan tamu.


Mulut Lily pun membentuk bulatan kecil. Aric tersenyum, kemudian mencubit gemas pipi Lily.


"Ih ... sakit tau!" pekik Lily kesal.


"Kau sangat mengemaskan, Sayang," ujar Aric, ia meraih pinggang istrinya. Hingga tubuh mereka tak berjarak.


Bukannya senang, Lily justru mencebikan bibirnya kesal.


"Kau sengaja mengejekku kan!" Lily mendorong Aric menjauh, ia wanita itu melipat kedua tangannya. Dengan wajah kesal dia menatap tajam pada suaminya.


"Aku berkata benar, Sayang. Kau memang sangat mengemaskan, bagian mana yang terdengar mengejekmu?"


Aric sungguh tidak mengerti dengan ucapan Lily. Aric mengutarakan apa yang ia lihat saja, kenapa Lily terlihat kesal seperti itu?


"Aku ibu dari seorang anak berusia lima tahun, dan sekarang aku sedang mengandung anak keduaku. Dari segi mana aku terlihat mengemaskan, heh!? Apa kau tidak lihat keriput di wajahku! Jangan mencoba untuk membohongi ku!" marah Lily panjang lebar.


Lily membalikkan badannya, dengan langkah yang dihentak, Lily meninggalkan Aric begitu saja. Sedangkan laki-laki itu masih terpaku di tempatnya, ia masih mencoba mencerna ucapan Lily barusan.


Aric segera menyusul langkah istrinya, dengan cepat Aric mengangkat tubuh Lily.

__ADS_1


"Turunin!" Pekik Lily sambil memukul dada Aric.


Namun, Aric tidak menggubris sang istri yang terus meronta dan meminta untuk turun.


"Aric! turunkan aku, kau mau bawa aku ke mana?!"


"Aku akan buktikan, kalau aku tidak berbohong!" tegas Aric, dengan seringai kecil tersungging di bibirnya.


Mata Lily terbelalak, ia merasa Aric sangat serius dengan ucapannya.


"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Lily was was.


"Tentang saja membuat dirimu sadar, betapa mengenaskannya dirimu, Sayang."


Wajah Lily seketika merona, ia menelan salivanya dengan susah payah. Ada sesuatu di balik ucapan suaminya itu, perasaan Lily menjadi was-was. Apa lagi senyum Aric terlihat tidak biasa.


Aric membawa Lily ke kamar, ia merebahkan tubuh mungil Lily di tengah ranjang besar itu. Dengan langkah cepat Aric mengunci pintu kamar.


Aric membalikan badannya, ia melangkah mendekati ranjang dengan mata yang menatap tajam pada wanita yang terbaring di sana. Pria berjambang tipis itu, mulai membuka kancing kemejanya hingga memperlihatkan jajaran roti sobek miliknya.


"Aric, pakai bajumu dengan baik!" Lily di buat gelagapan dengan tatapan Aric yang seolah, siap menerkamnya.


Aric semakin mendekat, kini ia sudah ada di depan Lily. Lily yang tadinya ingin beranjak bangun, di dorong lagi oleh Aric hingga ke posisinya semula. Aric melepaskan kemeja yang ia kenakan, kemudian melemparkannya ke lantai.


Jantung Lily berdegup kencang saat Aric mulai menunduk kearahnya, dua mata beningnya menatap Lily dengan penuh gairah. Lily merasa Aric menelanjanginya hanya dengan sorot mata yang lapar itu.


"Ugh ...! Lily melenguh saat Aric mengecup lehernya.


Lily salah, dia kira Aric akan menjelajahi tubuhnya dengan kasar. Namun, sebaliknya pria itu membuat Lily melayang dengan kelembutannya.


Bibir tebal itu mengecup tiap jengkal leher jenjang sang Istri, dengan tangan yang sibuk membuka kancing baju Lily. Setelah berhasil, kecupannya mulai turun ke puncak kembar yang kini terlihat semakin besar dan padat.


Lily mengeliat, rasanya seperti sengatan listrik yang menjalar ke tubuh dari tiap sapuan bibir dan lidah Aric di ujungnya yang sensitif.


"Ah ... Uhm ... Aric, ta-tanganmu."


"Kau menyukainya, Sayang?" tanya Aric dengan suara berat tertahan. Lily mengangguk, dengan mengigit bibir bawahnya.


Dua jarinya, mulai menyusup dalam pengaman, bergerak bebas. Memutar dan mengusap titik sensitif, membuat tubuh Lily menggelinjang hebat merasakan kenikmatan.


"Ugh ..!"Lily melenguh, tubuhnya melengkung ke atas, tangannya meremas kuat rambut Aric yang sedang bermain dengan pepaya gantung.


Aric menarik tangannya yang sudah basah dari bawah Lily. Ia tersenyum melihat Lily yang sedang berusaha mengatur nafas.


"Kau sangat mengemaskan, Sayang." Lily membuang mukanya kearah lain, ia sungguh malu dilihat Aric seperti itu.

__ADS_1


Aric tersenyum, ia meraih dagu Lily. Mengarahkan wajah cantik itu agar kembali menatapnya, Aric menyatukan bibir mereka, memangut lembut belahan kenyal Lily yang manis. Begitu lembut. Namun, menuntut.


Satu persatu kain yang tersisa lepas begitu saja, Lily mengerang saat Aric menyatukan diri. Suara-suara manja memenuhi kamar itu, melebur peluh. meluapkan hasrat yang lama tertahan.


__ADS_2