Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Perasaan yang berbeda


__ADS_3

Baju serba hitam, dengan rambut yang ia sisir rapi kebelakang. Berpasangan serasi dengan Lily yang memakai gaun hitam selutut dengan rambut yang ia sanggul rapi. Aric membantu istrinya turun dari mobil dengan hati-hati, mereka baru saja pulang dari pemakaman Lusius.


Tak ada orang lain yang datang, hanya Aric dan sang istri, juga seorang yang Lily kenal, Sam. Wajah Aric terlihat datar, tetapi Lily bisa merasakan kesedihan suaminya itu.


Aric lebih banyak diam saat di pemakaman, dan sampai saat ini belum ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.


"Bunda!" Teriak Adam, laki-laki kecil itu lari menyambut Kedatangan Lily.


"Hai, Sayang." Lily merentangkan kedua tangannya, menyambut Adam dalam pelukan hangat.


Aric mengusap rambut Adam sejenak, ia kemudian melangkah masuk. Lily menatap nanar pada punggung Aric yang berlalu. Lusius, Pria itu pasti punya hubungan khusus dengan Aric.


"Ayah kenapa Bunda?" tanya Adam.


Lily tersenyum, bahkan Adam bisa merasakan perubahan pada suaminya itu.


"Ayah hanya capek, luka Ayah juga belum sembuh. Jadi Ayah butuh istirahat yang banyak," ujar Lily menjelaskan.


Adam mengangguk mengerti. Lily memeluk anaknya lagi, ia sangat bersyukur karena Adam begitu pengertian.


"Adam udah makan? Mau Bunda masakin sesuatu buat Adam?" Adam membawanya dengan gelengan kepala.


"Adam udah makan ayam goreng buatan Om Mateo," jawabnya lagi.


"Ok, kalau begitu Adam main dulu ya sama kakak-kakak dulu ya. Bunda mau ganti baju."


"Siap Bunda!" sahut Adam, ia pun berlari kecil ke kamar tempat dia dan beberapa pengasuh bermain.


Lily bergegas melangkah ke kamarnya, dia kemudian membuka pintu dengan perlahan. Aric belum mengganti baju, pria itu duduk di kursi yang ada di balkon kamar. Termenung dengan tatapan kosong.


Lily memutus untuk menemani suaminya, Ia tahu Aric membutuhkannya sekarang.


"Sayang, kenapa belum ganti baju?" tanya Lily sekedar basa-basi.


Tangan lentiknya menyentuh lembut bahu Aric. Pria itu menoleh, ia menggenggam tangan Lily kemudian mengecupnya dengan penuh kasih.


Wajah laki-laki itu kini terlihat sendu, sorot mata Aric menyiratkan kehilangan yang teramat. Lily menyandarkan kepala Aric di dadanya, menyunggar rambut hitam Aric dengan jemari lentiknya.


"Apa kau marah padaku, Sayang?" tanya Aric.

__ADS_1


"Marah? untuk apa?" tanya Lily balik.


"Aku bersedih atas meninggalnya orang yang telah melukaimu," jawab Aric lemah.


Lily sedikit menjauhkan wajah Aric, agar bisa melihatnya dengan jelas. Ditatapnya mata hazel milik Aric dalam, sebuah kecupan manis Lily berikan di kening suaminya.


"Apa aku terlihat seperti itu?" Aric menggeleng.


Lily tersenyum, senyum yang selalu bisa membuat Aric merasa tenang.


"Aku tidak tahu siapa Lusius bagimu, bagaimana hubungan kalian? Meskipun dia ingin menyakitiku dan Adam, tapi semua itu sudah berlalu. Dia bahkan sudah tidak ada lagi di dunia, sudah seharusnya kita memaafkan dia," ujar Lily panjang lebar.


"Kau terlalu baik, Sayang." Aric menarik tubuh Lily, kembali mendekapnya.


"Aku, Lusius, Sam dan Darren. Kami berempat adalah anak asuh Demian, seorang laki-laki pemimpin organisasi terlarang. Kami dilatih menjadi orang-orang yang yang tidak mempunyai belas kasih untuk menerus organisasi itu. Sam, dia memohon pada Damien agar bisa menjadi seorang tenaga medis, Demian mengabulkan permintaan itu dengan satu syarat. Dia harus menerima semua pasien dari Damien, dan tetap menjaga rahasia kami."


"Aku dan Lusius di didik secara khusus, dan pada akhirnya aku dijadikan pemimpin organisasi dan Lusius di jadikan pemimpin organisasi bagian barat. Lusius selalu menempel denganku, aku sudah menyayanginya seperti adikku sendiri. Tetapi dia punya pikiran lain."


Aric menarik nafas dalam, sebelum melanjutkan ceritanya. Lily dengan setia, mendengar cerita Aric sambil mengusap rambut pria itu.


"Dia ingin aku menjadi pasangannya."


"Apa? Pas-pasangan?" beo Lily terkejut. Aric menjawab dengan anggukan.


"Tentu saja tidak Sayang! Aku masih normal!" tegas Aric.


"Aku hanya menyayangi dia sebagai seorang adik saja, mana aku tahu jika dia punya pikiran seperti itu. Fisik Lusius memang tidak terlalu baik saat kecil, aku dan Ibu yang merawatnya saat dia sakit."


Lily menatap Aric dengan dahi yang berkerut.


"Percayalah, aku masih sepenuhnya normal. Aku tidak suka terong!" kekeh Aric.


Lily mengangkat satu alisnya, dan masih menatap Aric dengan ragu.


"Percayalah, kalau aku seperti itu, bagaimana bisa ada dia di sini." Aric menyentuh perut istrinya yang masih rata.


"Iya, iya aku percaya. Jadi kau sedih karena Lusius sudah seperti adikmu sendiri, bukan kekasihmu. Iyakan?"


"Iya," jawab Aric tanpa ragu.

__ADS_1


"Bagaimanapun, kami tumbuh bersama," imbuh Aric.


Aric memang menghindari Lusius, sejak pria itu menyatakan perasaannya. Tetapi Aric juga tidak bisa memungkiri jika dia masih menyayangi Lusius.


"Aku paham, Sayang. Tapi kau juga tidak boleh larut dalam kesedihan seperti ini, sekarang mandi dan ganti bajumu. Setelah itu kita makan, oke?"


Aric mengangguk, ia mengikuti tangan Lily yang menariknya masuk.


Grep.


Aric memeluk tubuh Lily dari belakang.


"Terima kasih, Sayang. Kau sudah begitu mengerti aku," bisik Aric.


"Ini karena aku mencintaimu."


Aric mengecup lembut pipi sang istri, kecupan kecil yang perlahan turun ke leher yang terbuka.


Suara ketukan pintu membuat Aric, terpaksa menghentikan aktivitas yang mulai panas. Lily terkekeh geli melihat wajah Aric yang terlihat masam.


"Ada apa?" sahut Lily dengan berteriak agak keras.


"Tuan Hadid ingin bertemu dengan Tuan, beliau sedang menunggu diluar pagar," lapor Mateo dari balik pintu.


Aric berdecak kesal, dia baru saja melepaskan rasa berkabungnya dengan bujukan Lily. Kenapa sekarang Ayahnya datang merusak suasana hatinya lagi.


"Sayang, kenapa Ayah butuh izin khusus untuk masuk? Bukankah dia Ayahmu?"


"Sejak hari itu, aku sudah bukan keluarga Hadid Gulfaam lagi!" tegas Aric.


Aric melepaskan pelukannya, dengan langkah lebar dia mendekati pintu. Kemudian membukanya dengan kasar.


"Jangan biarkan dia masuk, dan katakan padanya. Aku tidak akan pernah mau untuk bertemu dengan dia atau siapapun dan keluarga Gulfaam!" Perintah Aric pada Mateo, dia bicara dengan nada tinggi.


"Baik Tuan." Mateo segera pergi untuk melaksanakan perintah dari Aric.


Dada Aric baik turun, emosi kembali tersulut. Aric mengusap wajahnya kasar, dia membanting pintu untuk menutupnya.


"Sayang, tenanglah." Lily memeluk tubuh Aric, mengusap punggung pria itu dengan perlahan.

__ADS_1


Sebenarnya Lily tidak mengerti apa yang terjadi antara Aric dan keluarganya. Setelah kejadian Veronica jatuh, Lily tidak pernah lagi berhubungan dengan keluarga Gulfaam. Lily bahkan tidak sempat berpamitan pada sang mertua.


Sikap Aric semakin protektif setelah kejadian maas itu, dia benar-benar menjaga jarak dari keluarga Gulfaam.


__ADS_2