
"Nanti kalau sudah sampai, kamu buka kertasnya." Bia memberikan sehelai kertas berwarna pink untuk Dira sebelum berangkat untuk menghadiri konferensi pers. Kini, kertas itu ada di tangan Dira yang sedang duduk di sofa ruang tunggu sambil menyandarkan punggungnya.
"Dia nulis apa, sih?" tanya Dira heran. Ia buka lembaran kertas itu lalu tertawa.
Kalau kamu gemeteran, lihat kaca terus sebut kata 'monyet'.
"Kenapa?" tanya Kalvis mendengar suara tawa Dira yang membahana. Bahkan suara itu menular hingga Kalvis sendiri ingin ikut tertawa.
Dira mengusap wajahnya. Ia berusaha menahan diri untuk tidak tertawa. "Istriku semakin hari semakin miring saja otaknya," komentar Dira. Sampai ujung matanya basah karena terlalu puas tertawa.
Di luar sana, tepatnya di ballroom R Ever agency sudah siap banyak wartawan duduk di meja yang disediakan oleh panitia. Dalam sepuluh menit lagi, Dira akan menghadapi publik.
"Kuatlah Dira, setelah ini semuanya akan berakhir."
Waktu semakin bergerak maju. Beberapa kali Dira merapikan jas coklatnya. Ia semakin tidak sabar ingin semuanya cepat selesai.
"Dir, ayo." Matteo membuka pintu ruang tunggu. Dira mengangguk. Ia bangkit dan begitu melewati cermin di mana ia biasa melihat pantulan wajahnya sedang di make up, Dira menarik napas dan mengeluarkannya. "Monyet," ucapnya pelan dan berhasil, ia lagi-lagi tertawa.
Dira berjalan dengan lapang menghadapi akhir dari karirnya sebagai artis. Setidaknya ia pernah meraih apa yang ia cita-citakan dan sekarang gilirannya melakukan kewajiban sebagai suami juga seorang ayah.
Lampu kamera silih berganti bercahaya. Kilatannya sudah menjadi hal yang wajar bagi Dira. Bedanya selama ini dia menjadi perhatian karena pretasi, kini menjadi pusat dari skandal yang sedang panas dan mengguncang dunia.
Matteo menunjukkan kursi di mana Dira harus duduk. Mr. Pier ikut menemani sebagai formalitas. Dira menatap ke sekeliling. Banyak wartawan yang sepertinya sudah gemas ingin mengeluarkan pertanyaan padanya. Mereka sudah siap melakukan siaran langsung dan terhubung dengan stasiun televisi masing-maisng.
__ADS_1
Setelah hitungan mundur dimulai, Dira menunduk tanda permintaan maaf pada publik. Dari rumah Bia menyaksikan acara itu. Dia yang menyemangati Dira awalnya kini ikut tegang. Bahkan telapak tangan Bia terasa dingin dan berkeringat.
"Kamu pasti bisa, Dira. Kamu hebat," ucap Bia.
Sementara itu, Dira mulai duduk tegak dan merangkai kata apa yang pas sebagai pembuka. "Saya Dira Kenan. Kalian semua tentu tahu alasan kenapa saya ada di sini. Saya meminta maaf atas kegaduhan yang saya lakukan belakangan ini."
Lagi-lagi kilatan cahaya dari lampu kamera bergantian muncul. Dira lagi-lagi mengatur napasnya. Ia mulai gugup hingga terasa kakinya bergetar.
"Jujur, saya membaca komentar-komentar yang dialamatkan pada saya dan keluarga. Namun, saya akan jelaskan jika apa yang terjadi selama ini adalah murni kesalahan saya. Orang tua, keluarga besar, istri dan juga anak saya hanya korban dari perbuatan bodoh saya selama ini," lanjut Dira.
Ia menunduk, menutup mata sejenak kemudian mulai kembali menatap ke depan. "Drabia Louis, istri saya. Sudah saya kenal sejak bayi. Kami diasuh oleh orang yang sama. Sehingga untuk saya, dia bukan hanya sekedar sahabat, tetapi juga seorang adik. Kami pacaran selama lima tahun dan kurang dari tiga tahun yang lalu, ia melahirkan putra kami, Divan Kenan. Kalian tentu sudah melihatnya di postingan Hugo juga saat kedua orang tuaku jalan-jalan."
Seorang wartawa mengangkat tangannya. Dira mengangguk dan memberikan kesempatan wartawan itu untuk memberi pertanyaan.
"Aku dengar Nyonya Drabia membesarkan putranya sendiri selama ini. Kenapa anda tidak bertanggung jawab akan hal itu lalu bagaimana bisa hubungan kalian berakhir dan anda berhubungan dengan Cloena Parviz."
"Saya putus dengan Bia karena kontrak saya dengan agensi yang saat itu melarang saya berpacaran. Dia mengerti keadaan saya saat itu dan saya juga berniat kembali padanya meski dia tidak tahu. Namun, terjadi sebuah kesalah pahaman. Kesalah pahaman ini tentu hanya bisa dijelaskan oleh Cloena Parviz karena ia yang memiliki andil besar di dalamnya."
Dira melipat tangan di atas meja. Ia mulai mendapatkan ritme dari penjelasannya. "Selama tiga tahun ini, Drabia menjaga anak itu sendiri tanpa diketahui siapapun, termasuk saya. Dia bukan orang yang senang mendapat perhatian. Dia selalu apa adanya dia, murni dan baik hati. Perempuan yang dulu mendukung karir saya, mengantarkan saya audisi, memberi saya semangat, dan selama tiga tahun ini dia rela kesepian hanya untuk melindungi karir saya."
"Saya agak keberatan dengan ucapan beberapa orang yang mengatakan dia mencari perhatian atau menipu saya. Tidak. Karena Divan Kenan lahir sebelum pernikahan, untuk membuat akta kelahirannya kami perlu mengadakan tes. Hasilnya tentu positif, dia adalah putraku, karena itu negara menuliskan namaku di akta kelahirannya. Jika dia mencari perhatian, dia akan ungkap anak itu sejak masih dalam kandungan. Bukannya menderita sendiri selama tiga tahun dan baru mengaku setelah saya paksa untuk mengakuinya."
Wartawan yang mendengarkan itu mengangguk-angguk. "Lalu apakah ia menjadi penyebab hubungan anda dan Cloena Parviz berakhir?"
__ADS_1
Dira menggeleng. "Saya ingin fokus pda masalah saya dan keluarga. Tentang itu kalian tanyakan pada yang bersangkutan. Saya harapa dia bisa bertanggung jawab atas apa yang dia perbuat. Karena jika dia berbohong, saya tak segan mengungkap semuanya bersama bukti yang saya punya," jawab Dira.
"Apa anda menikahi istri anda karena ingin bertanggung jawab?" tanya wartawan lainnya.
Dira tersenyum. Ia mengingat wajah istrinya. "Apa kalian tahu rasanya memiliki seseorang tempat bergantung? Memiliki teman bermain yang tahu sampai ke dalam relung hati. Bagiku dia seperti hidup. Jika kalian tahu lagu-laguku selama ini, semua tentang Drabia. Sejak kami berpisah, hidupku hancur dan tak punya arah."
"Dia sejauh apapun tetap saja aku rindukan. Hingga suaranya, hingga wajahnya begitu aku kenali. Aku tak pernah mengakui ini di depan banyak orang. Namun pada kesempatan ini, meski aku tak bisa membuktikan sebesar apa perasaanku dan membuat orang percaya padaku, aku ingin bilang. Drabia Louis Kenan, aku mencintaimu. Terima kasih sudah menemaniku selama dua puluh satu tahun. Terima kasih selalu menyemangatiku. Terima kasih selalu jadi alasan aku tetap hidup."
Mata Dira berkaca-kaca saat mengucapkannya. Kalimatnya yang terakhir memancing desiran halus di hati orang-orang yang melihatnya. "Perbuatanku yang menodai seorang gadis polos dan baik sama sekali tak pantas untuk ditiru. Aku harap semua pria belajar dari kesalahanku. Aku harap mereka bisa menjaga kesucian wanita yang mereka cintai. Maaf aku tak sempurna dan banyak noda yang membuat kalian kecewa. Kesalahanku di masa lalu sama sekali tak bisa dimaafkan. Ke depannya aku akan belajar lebih baik menjadi suami untuk istriku tercinta dan ayah bagi putra kecilku. Untuk itu secera resmi saya mundur dari dunia ini dan juga dari agensi terhitung mulai hari ini."
Dira bangkit. Ia menunduk tanda permintaan maaf sekali lagi. Di sisi lain, Bia meneteskan air mata. Selama ini selalu ragu akan perasaan suaminya, Bia merasa yakin bahwa kini hanya ada dia dalam hati Dira.
Baru beberapa langkah Dira berjalan, Bia tertegun. Ada orang melempar telur pada Dira. Bukan satu, bahkan banyak orang yang menyusup masuk.
"Mati kau Dira Kenan! Pria kotor sepertimu gak pantas hidup," hina mereka.
Dira tersenyum. Ia menghentikan oramg-orang yang berusaha membersihakn telur itu dari tubuhnya. Dira menunduk.
"Maaf karena sudah mengotori dunia ini, tapi aku gak bisa mati sekarang. Anak dan istriku menunggu di rumah," ucap Dira dengan tubuhnya yang gemetar menahan tangis.
"Tak apa, Bia lebih banyak mengalami penghinaan dibandingkan ini," ucap Dira pada dirinya sendiri.
Bia menunduk sedih. Ia marah, melihat suaminya dihina seperti itu. Sama saja itu seperti dirinya sendiri yang terhina. "Bagaimana pun Dira bagian hidupku."
__ADS_1
"Ayo, Dir. Kita pulang ke rumah," ucapnya sambil memeluk Divan yang terlelap dalam pangkuan.
🍁🍁🍁